Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung
Berbicara tentang lingkungan kerap kali muncul kajian tema tentang upaya merawat lingkungan dengan cara penghujan (reboisasi) ataupun upaya preventif terhadap terjadinya kerusakan alam hingga bentuk-bentuk eksplorasi sumberdaya alam secara berlebihan. Pada sisi lain juga kerap berbicara tentang isu-isu sampah hingga limbah pabrik hasil dari sisa-sisa produksi berupa limbah basah maupun kering dan juga asap. Asumsi manusia pada umumnya ketika terjadinya sebuah bencana kerap mengatakan bahwa ini adalah takdir Tuhan. Berbeda dengan ketika terjadinya kerusakan sumberdaya alam seperti tambang emas, timah, dan lainnya, yang muncul adalah asumsi bahwa ini akibat kebijakan pemerintah atau juga perijinan ilegal. Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada lingkungan kita? Apakah kita akan memandang bahwa kerusakan alam adalah taqdir Tuhan, sedangkan pencemaran lingkungan adalah perilaku manusia secara mutlak? Jika pandangan itu yang muncul, maka pada satu sisi kita terjebak pada paham jabariyah, namun pada sisi lainnya kita akan terjebak pada paham qadatiyah hingga sekularisme ekologi terjadi yaitu memandang kerusakan alam adalah mutlak perbuatan manusia. Dari sinilah PTKIN, khususnya UIN yang secara fokus memiliki peran khusus yang mengintegrasikan antara agama dan sains, maka harus mampu menjembatani antara hal yang berkaitan dengan taqdir Tuhan, dan hal yang menjadi hak bagi makhluk, sesuai dengan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pendidkan Islam (Dirjen Pendis) Nomor 1 tahun 2025 tentang Pemeliharaan Lingkungan Satuan Pendidikan.
Allah Ta’ala menciptakan alam semesta adalah untuk makhluknya (surat al-Baqarah ayat 164). Allah menciptakan alam semesta berupa makhluk hidup dan benda manti, sirkulasi dan ekosistem yang terbangun adalah bentuk dari tujuan Allah menciptakan alam semesta untuk manusia, sebagai anugrah mulia dan sekaligus amanah kekhalifahan manusia sebagai pemimpin (surat Al-Baqarah ayat 30), peran Khalifah diantaranya adalah sebagai pengayom, pelindung dan memakmurkan bumi. Dari sinilah manusia memiliki tugas mulia dan mengabaikannya adalah bentuk pengkhianatan terhadap Tuhan.
Allah Ta’ala menciptakan alam semesta ada yang bersifat alamiah (thabi’iyah) dan shana’iyah. Secara alamiah Allah ciptakan alam semesta ini bersifat fana (sementara), tidak kekal dan abadi selamanya. Meskipun demikian, semua ciptaan Allah yang bersifat alamiah akan berjalan sesuai porosnya dan sangat bermanfaat bagi kehidupan di bumi, yaitu matahari, bulan, bintang dan segala tata surya bahkan air dan udara, artinya bahwa sesuatu yang diciptakan secara alamiyah tidak ada ikut campur tangan manusia. Untuk itu, alam semesta dalam waktu dekat atau lambat akan rusak dan bahkan pada hari kiamat kelak semuanya akan dihancurkan. Selain yang bersifat alamiyah ada yang bersifat shana’iyah yaitu hasil ciptaan manusia, seperti bangunan, waduk, parit, dan juga banyak hal lainnya yang ada. Hal ini pastilah akan rusak, hancur dalam waktu dekat atau lama.
Bentuk kerusakan alam secara alamiah sejatinya adalah keseimbangan baru, dimana bumi Allah Ta’ala yang selalu Allah perbarui dengan cara terbentuknya keseimbangan baru (surat Al-A’raf ayat 56-58). Kerap kali kita merasa bahwa kerusakan alam adalah musibah bagi makhluk sekitarnya terutama manusia, namun sejatinya Allah Ta’ala sedang memberikan keseimbangan baru pada alam semesta. Hal ini karena manusia selalu dzalim, serakah khususnya dalam hal mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan tanpa berpikir pada generasi setelahnya karena kesombongannya, hingga Allah mengingat agar kembali kejalannya (surat al-Rum ayat 41-42). Seperti lumpur Lapindo yang terjadi disekitar Sidoarjo Jawa Timur hingga saat ini belum tertutup, hal ini menjadi renungan bersama, bahwa ini adalah cara Allah menunjukkan kebesarannya dengan cara menunjukkan bentuk-bentuk kerusakan itu agar manusia kembali pada jalan yang benar. Namun pada sisi yang lain manusia harus sadar bahwa Allah punya Kuasa terhadap alam semesta yang selalu dijaga dan diperbaikinya, sehingga bentuk kerusakan termasuk lumpur Lapindo mungkin saja Allah siapkan untuk generasi setelah kita, hingga kesuburan, kemakmuran dari tanah tersebut menjadi diminati oleh makhluknya, tidak mesti untuk kita, bisa jadi untuk anak atau cucu kita, hingga lumpur Lapindo akan tertutup pada saatnya setelah semua lumpur naik ke daratan seluruhnya atas ketentuan penguasa alam jagat raya.
