Menghidupkan Nilai-nilai Asyura di Tengah Krisis Empati
Rudy Irawan
(Dosen UIN Raden Intan Lampung)
Setiap kali 10 Muharram datang menyapa, umat Islam kembali diingatkan pada lembaran-lembaran sejarah yang sarat makna dan pelajaran agung. Hari Asyura bukanlah sekadar tanggal dalam penanggalan hijriyah. Ia adalah momen yang mengandung jejak spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang begitu dalam. Di tengah dunia yang semakin membeku oleh krisis empati, nilai-nilai Asyura datang seperti oase yang menyejukkan.
Asyura adalah hari kemenangan Nabi Musa AS dan Bani Israil atas kezaliman Fir’aun. Sebuah momentum besar yang menunjukkan bahwa kebenaran, kesabaran, dan keimanan pada akhirnya akan mengalahkan kesombongan dan kekuasaan yang menindas. Rasulullah SAW pun mengenang hari itu dengan berpuasa dan menganjurkan umatnya untuk turut melakukannya.
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa.” (HR. Bukhori, no. 3943)
Namun Asyura bukan hanya tentang puasa dan pengingat sejarah. Ia adalah ajakan untuk kembali pada ruh kemanusiaan, pada empati yang semakin langka di era digital ini. Ketika media sosial penuh dengan caci, saat bantuan lebih banyak jadi konten ketimbang ketulusan, dan ketika derita sesama hanya jadi statistik tanpa rasa. Asyura hadir untuk membangunkan hati kita.
Rasulullah SAW dalam hadits lain mengaitkan Asyura dengan berbagi kepada sesama:
“Barang siapa melapangkan (memberi kelapangan) kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Hibban, sanad hasan)
Hadis ini bukan sekadar motivasi berbagi secara material, tetapi mengajarkan bahwa Asyura adalah hari menebarkan cinta, kasih, dan perhatian. Di saat dunia sibuk dengan dirinya sendiri, Islam justru menanamkan nilai peduli sebagai bentuk nyata keimanan.
Tak bisa dipisahkan dari 10 Muharram adalah tragedi Karbala, saat cucu Rasulullah, Syaidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu, syahid dalam mempertahankan nilai kebenaran dan keadilan. Di tengah tekanan politik dan ancaman kekuasaan tirani, beliau memilih jalan perjuangan yang penuh cinta dan keberanian.
Sayyidina Husain bukan hanya simbol perlawanan terhadap kezaliman, tetapi juga lambang empati kepada umat. Beliau rela kehilangan nyawa, demi menjaga umat dari pemimpin zalim yang mengancam akidah dan hak rakyat. Karbala adalah potret puncak dari cinta yang berani berkorban demi sesama.
Menumbuhkan Empati di Zaman yang Keras
Hari ini, kita menyaksikan berbagai penderitaan: anak-anak yatim yang kelaparan, pengungsi yang kehilangan tempat tinggal, tetangga yang kesulitan ekonomi, hingga orang-orang yang terpinggirkan hanya karena berbeda. Empati menjadi barang langka. Dunia seolah kehilangan simpati.
Asyura hadir untuk menyapa nurani kita,
Sudahkah kita peduli pada sesama?
Sudahkah kita menjadi pelipur bagi yang terluka?
Sudahkah kita menjadi air bagi tanah hati yang mengering?
Allah SWT memuji orang-orang yang senantiasa peduli dan berbagi:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan: 8–9)
Ayat ini menegaskan bahwa empati yang tulus adalah wujud ketakwaan. Asyura bukan sekadar hari sejarah, tetapi ladang amal yang menanti kita untuk mengisinya dengan cinta, kepedulian, dan kebaikan.
Penutup
Di tengah krisis empati yang mendera umat manusia, mari hidupkan kembali nilai-nilai Asyura. Jadikan ia bukan hanya peringatan, tetapi pijakan untuk menjadi insan yang lebih peduli, berani, dan lembut hati.
Sebagaimana Sayyidina Husain rela syahid demi umat, dan Nabi Musa bersabar demi kaumnya kita pun hari ini dipanggil untuk menebar empati, meski dunia tak selalu membalas dengan simpati.
Asyura mengajarkan bahwa cinta sejati adalah memberi bahkan ketika dunia memilih untuk pergi.
