Perkuat Nasionalisme, IKA SUKA Lampung Gelar Diskusi

Share :

Bandar Lampung: Dalam rangka menguatkan nasionalisme kebangsaan, Ikatan Alumni Sunan Kalijaga (Ika Suka) Provinsi Lampung menggelar diskusi bertajuk ‘Menguatkan Nasionalisme Lewat Pendekatan Sejarah, bertempat di kediaman sekterais Ika Suka Lampung, H. Khaidir Bujung, di Perumahan Sumur Putri, Bandar Lampung, Kemarin (8/10/2017).

Dr. Safari Daud selaku ketua panitia menyampaikan kegiatan diskusi ini merupakan representasi budaya diskusi ketika masih menjadi mahasiswa. “Ini upaya menggiatkan budaya literasi. Problem sosial kemasyarakat dan kebangsaan perlu disikapi dan direspon sebagai bagian kepedulian terhadap problem kebangsaan,” ujarnya pada saat menjadi moderator kegiatan tersebut.

Khaidir Bujung, selaku sekretaris Ika Suka Lampung menyampaikan isu PKI akhir-akhir ini menjadi alat untuk menjatuhkan orang lain dengan tidak melihat persoalan sejarah dari PKI.

“PKI memang pernah ada di Indonesia. Sekarang kita harus menjadikan pengalaman buruk masa lalu sebagai kekuatan untuk membangun nasionalisme di bumi pertiwi ini, khususnya di Lampung,” ujarnya yang juga anggota komisi V DPRD Lampung.

Dalam diskusi tersebut dihadiri pengurus Ika Suka di antaranya Dra. Hj. Siti Masykurah, M.Ag (Dosen UIN Raden Intan), Dr. Rumadi Sagala, M.A (Dosen UIN Raden Intan), Abdul Qodir Zaelani, M.A (Dosen UIN Raden Intan), dan Dra. Tatik Rahayuningsih, M.Sos.

Dra. Hj. Siti Masykurah, M.Ag menyatakan sejarah adalah sebuah produk, tentu tidak akan pernah lurus, tergantung sudut pandang penguasa ketika itu. “Ideologi komunis sebenarnya sudah tidak laku di dunia. Buktinya,  Uni Soviet telah hancur menjadi beberapa Negara,” ungkapnya pada saat menyampaikan pendapatnya.

Sementara itu, Dr. Rumadani Sagala, M.A., menyatakan sejak zaman nabi sampai sekarang orang-orang munafik tetap ada. Karena itu, setiap berita yang hilir mudik, perlu dikroscek kebenarannya. Jangan sampai berita tersebut mengikis nilai-nilai kebangsaan kita,” ujarnya sambil membacakan ayat Alquran yang menjelaskan tentang pentingnya kroscek berita.

Abdul Qodir Zaelani, M.A., yang juga sebagai dosen UIN Raden Intan Lampung menyatakan banyak literatur yang menyebutkan tragedi pembantaian G30/S PKI memang nyata, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia berharap trageri tersebut jangan sampai terulang kembali. “Pelajaran berharga dari tragedy G30/S PKI menjadi pelajaran berharga bagi bangsa. Saat ini, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita termakan adu domba yang dapat menghancurkan sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Perlu disebarkan narasi-narasi positif yang dapat membangkitkan kebersamaan dan mengokohkan nasionalisme,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan pelurusan sejarah merupakan keniscayaan. Hanya saja terkadang subjektifitas penulis sejarah juga bermain dalam membangun opini. “Motif menulis sejarah bermacam-macam. Adakalanya motif subjektifitas ideologi, tendensi penguasa, dan lainnya, yang mengarahkan sejarah sesuai dengan keinginan ideologyidan penguasa. Maka diperlukan objektifitas penulis sejarah berdasarkan fakta dan data yang ada, tanpa melihat latar ideologis dan kepentingan lainnya,” katanya. (Abdul Qodir Zaelani)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *