Dr. Siti Wuryan.,S.Sos.I.,M.Kom.I
Dosen UIN Raden Intan Lampung
Di tengah kehidupan modern yang semakin kompetitif, ukuran keberhasilan seseorang sering kali diidentikkan dengan banyaknya harta yang dimiliki. Rumah yang besar, tanah yang luas, emas yang tersimpan, serta berbagai aset lainnya sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk terus mengumpulkan dan menambah kekayaan. Seolah-olah semakin banyak yang dimiliki, semakin aman pula masa depan yang dibayangkan.
Fenomena ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang berlomba-lomba membeli emas, menimbun tanah, membangun rumah atau ruko, serta menambah berbagai bentuk investasi lainnya. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan kepemilikan aset sebagai ukuran utama keberhasilan hidup. Dalam banyak percakapan, topik yang sering muncul adalah harga tanah yang terus naik, emas yang menjadi simpanan masa depan, atau properti yang dianggap sebagai investasi paling aman.
Tentu saja, Islam tidak melarang umatnya untuk bekerja keras dan memiliki harta. Kekayaan bukanlah sesuatu yang tercela. Namun persoalannya muncul ketika semangat mengumpulkan harta membuat manusia lupa pada hakikat kehidupan itu sendiri. Ketika harta hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun dan dijaga, maka perlahan-lahan manusia bisa kehilangan rasa kepedulian terhadap orang lain.
Di tengah kecenderungan tersebut, kehidupan Nabi Muhammad SAW justru memberikan pelajaran yang sangat berbeda. Rumah tangga Rasulullah tidak pernah menjadikan harta sebagai sesuatu yang harus ditumpuk atau disimpan lama. Apa yang datang ke rumah beliau sering kali segera diberikan kepada mereka yang membutuhkan.banyak riwayat disebutkan bahwa jika Rasulullah menerima sesuatu—baik berupa makanan, uang, maupun hadiah beliau tidak ingin menyimpannya terlalu lama. Harta itu segera dibagikan kepada fakir miskin, para sahabat, atau orang-orang yang membutuhkan. Sikap ini menunjukkan bahwa bagi Rasulullah, harta bukanlah sesuatu yang harus dimiliki sebanyak-banyaknya, melainkan sarana untuk menebarkan kebaikan kepada sesama.
Keteladanan ini juga terlihat jelas dalam kehidupan salah satu istri Nabi, yaitu Aisyah binti Abu Bakar. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana sekaligus dermawan. Dalam sebuah kisah yang sering diriwayatkan, Aisyah pernah menerima sejumlah uang dalam bentuk dirham. Tanpa menunda, ia segera membagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan.Menjelang malam hari, uang itu sudah habis dibagikan. Seorang pelayan kemudian mengingatkan bahwa seandainya sebagian uang itu disisakan, mungkin bisa digunakan untuk membeli makanan bagi mereka. Aisyah menjawab dengan tenang bahwa jika ia teringat sebelumnya, tentu ia akan menyisakan sedikit. Namun baginya, membantu orang lain lebih dahulu adalah sesuatu yang sangat penting.
Kisah ini menggambarkan betapa kuatnya semangat berbagi yang hidup dalam rumah tangga Nabi. Harta tidak pernah menjadi sesuatu yang ditahan terlalu lama. Ia segera mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Dalam pandangan mereka, keberkahan harta justru terletak pada sejauh mana ia mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Jika kita bandingkan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini, perbedaan tersebut terasa sangat jelas. Banyak orang merasa khawatir jika hartanya berkurang, tetapi tidak terlalu khawatir jika ada orang lain yang hidup dalam kesulitan di sekitarnya. Kita sering lebih sibuk menambah kepemilikan pribadi daripada memperluas kepedulian sosial.Tidak jarang seseorang merasa tenang ketika tabungan dan asetnya terus bertambah, tetapi jarang bertanya apakah sebagian dari rezekinya sudah sampai kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan ada yang memiliki banyak tanah dan bangunan, sementara di sekitar tempat tinggalnya masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.Padahal dalam ajaran Islam, harta memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Setiap rezeki yang diberikan kepada manusia sebenarnya mengandung hak orang lain di dalamnya. Melalui zakat, infak, dan sedekah, Islam mengajarkan agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang-orang tertentu saja.
Sedekah tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga membersihkan hati orang yang memberi. Ketika seseorang memberi dengan tulus, ia sedang melatih dirinya untuk tidak terlalu terikat pada harta. Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari apa yang bisa dibagikan kepada orang lain.Lebih dari itu, sedekah juga membangun solidaritas sosial dalam masyarakat. Ketika orang yang memiliki rezeki lebih bersedia berbagi, maka jarak antara yang kaya dan yang miskin dapat diperkecil. Kepedulian sosial pun tumbuh, dan masyarakat menjadi lebih harmonis.
Teladan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Aisyah binti Abu Bakar sebenarnya sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Mereka mengajarkan bahwa harta bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.Kisah tentang harta yang tidak disimpan semalaman di rumah Nabi menjadi pengingat penting bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat. Apa yang kita kumpulkan hari ini tidak semuanya akan kita bawa ketika kehidupan ini berakhir.
Pada akhirnya, yang akan tetap tinggal bukanlah jumlah emas yang kita miliki, luas tanah yang kita beli, atau banyaknya bangunan yang kita bangun. Yang akan tetap hidup adalah kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain.Karena itu, mari mulai melihat harta dengan cara pandang yang lebih bijak. Bekerja keras dan merencanakan masa depan tentu penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa untuk berbagi. Sisihkan sebagian dari rezeki yang kita miliki untuk membantu mereka yang membutuhkan, sekecil apa pun jumlahnya.
Mungkin kita tidak mampu melakukan sedekah dalam jumlah besar. Namun senyuman, bantuan kecil kepada tetangga, atau sedikit rezeki yang diberikan dengan tulus bisa menjadi kebaikan yang sangat berarti bagi orang lain.Semoga kisah sederhana dari rumah Nabi ini menginspirasi kita untuk lebih ringan tangan dalam berbagi. Jangan menunggu sampai memiliki harta yang sangat banyak untuk mulai bersedekah. Mulailah dari apa yang kita miliki hari ini.Sebab bisa jadi, harta yang kita berikan dengan tulus itulah yang justru akan menjadi bekal paling berharga dalam perjalanan hidup kita kelak.
