KH. Suryani M. Nur
Ketua MUI Provinsi Lampung
Disampaikan pada Kultum Tarawih 27 Ramadhan 1447 H / 16 Maret 2026
Di Masjid Raya Al-Bakrie, Bandar Lampung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman dan Islam. Dengan nikmat itu kita masih diberi kesempatan untuk menikmati hari-hari terakhir bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman. Beliaulah teladan agung dalam membangun masyarakat yang dilandasi iman, kasih sayang, dan persaudaraan.
Jama’ah Masjid Raya Al-Bakrie yang dimuliakan Allah,
Kini kita berada di penghujung Ramadhan. Malam-malam yang sangat mulia, malam-malam yang di dalamnya Allah menyembunyikan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Pada malam-malam seperti ini, dahulu Rasulullah SAW memperbanyak ibadah, memperbanyak do’a, dan menghidupkan malam dengan berbagai amal kebaikan. Namun Ramadhan tidak hanya mengajarkan kita meningkatkan ibadah kepada Allah semata. Ramadhan juga mendidik kita untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Dalam Islam, keshalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah individual, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga hubungan sosialnya. Di sinilah pentingnya ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan yang dibangun atas dasar iman kepada Allah SWT.
Ukhuwah: Ikatan Iman yang Tidak Terpisahkan
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Menurut penjelasan mufassir besar Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa seluruh orang beriman berada dalam satu ikatan persaudaraan yang harus dijaga dan dipelihara. Karena itu setiap bentuk permusuhan, perpecahan, dan pertikaian di antara kaum Muslimin bertentangan dengan semangat ajaran Islam.
Demikian pula Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar kewajiban menjaga persatuan umat serta memperbaiki hubungan apabila terjadi perselisihan di antara kaum Muslimin.
Dalam kaidah ushul fiqh di
sebutkan:
الأصل في الأمر للوجوب ما لم يصرفه صارف
Artinya: “Pada dasarnya setiap perintah menunjukkan kewajiban selama tidak ada dalil yang memalingkannya.”
Maka menjaga ukhuwah bukan hanya anjuran moral, tetapi merupakan kewajiban agama.
Tahapan Membangun Ukhuwah Islamiyah
Para ulama menjelaskan bahwa ukhuwah tidak lahir secara instan. Ia harus dibangun melalui proses yang bertahap sehingga persaudaraan itu tumbuh kuat, kokoh, dan berkelanjutan. Tahapan-tahapannya adalah sebagai beriikut:
1. Ta’aruf (Saling Mengenal)
Tahapan pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal satu sama lain.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. (QS. Al-Hujurat: 13)
Ta’aruf berarti membuka diri untuk mengenal orang lain dengan penuh penghormatan. Dengan saling mengenal, maka prasangka buruk dapat dihindari dan kepercayaan dapat dibangun.
2. Tafahum (Saling Memahami)
Tahapan berikutnya adalah tafahum, yaitu saling memahami.
Perbedaan dalam kehidupan sosial adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun dengan sikap tafahum, kita belajar menghargai perbedaan dan melihatnya sebagai kekayaan, bukan sebagai sumber perpecahan.
Tafahum melahirkan sikap lapang dada, bijaksana, dan saling menghormati.
3. Ta’awun (Saling Menolong)
Tahapan berikutnya adalah ta’awun, yaitu saling membantu dalam kebaikan.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)
Persaudaraan yang sejati tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata.
4. Takaful (Saling Menanggung)
Tahapan berikutnya adalah takaful, yaitu saling menanggung dan melindungi.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Dalam hadits lainnya, Nabi Muhammad SAW bersabda :
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya: “Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)
Pada tahap ini ukhuwah mencapai tingkat solidaritas yang sangat tinggi. Kesulitan saudara kita menjadi perhatian kita bersama.
5. Tanasuh (Saling Menasihati dalam Kebenaran).
Tahapan terakhir adalah tanasuh, yaitu saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Allah SWT berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)
Rasulullah SAW bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
Artinya: “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Nasihat dalam Islam bukan untuk merendahkan atau mempermalukan, tetapi untuk memperbaiki dan menyelamatkan.
Ramadhan Mengajarkan Kita Menjadi Saudara.
Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan pendidikan ruhani. Ramadhan melatih kita menahan amarah. Ramadhan mengajarkan kita peduli kepada yang lemah. Ramadhan membiasakan kita berbagi dan memaafkan. Karena itu jangan sampai setelah Ramadhan kita kembali menjadi orang yang mudah memutuskan persaudaraan. Mari kita jadikan akhir Ramadhan ini sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika ada saudara yang pernah kita sakiti, mari kita minta maaf. Jika ada saudara yang pernah kita jauhi, mari kita dekati. Jika ada perselisihan, mari kita damaikan. Karena pada hakikatnya kekuatan umat Islam bukan hanya pada jumlahnya, tetapi pada kuatnya ukhuwah di antara mereka.
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga persaudaraan, memperkuat persatuan, dan meraih keberkahan Ramadhan hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa yang akan datang.
Wallahu a’lam bish shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
