Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan yang cepat dan kadang memudarkan nilai moral. Dalam konteks ini, pondok pesantren hadir sebagai mercusuar kebudayaan dan spiritualitas yang menuntun arah moral bangsa. Kearifan lokal (local wisdom) yang hidup di dalamnya bukan hanya sekadar warisan masa lalu, melainkan panduan masa depan untuk menata peradaban yang berkeadilan, beradab, dan berjiwa kemanusiaan.
Pesantren telah lama menjadi bagian integral dari perjalanan bangsa ini. Sejak masa Walisongo, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga kawah candradimuka pembentuk karakter. Di sinilah lahir nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, cinta tanah air, dan penghormatan terhadap sesama. Itulah local wisdom pesantren yang telah menuntun umat melewati berbagai fase sejarah, dari masa penjajahan hingga kemerdekaan. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan benteng moral bangsa.
Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, muncul tantangan baru: framing negatif terhadap pesantren di ruang publik. Beberapa waktu lalu, publik digemparkan oleh tayangan salah satu stasiun televisi nasional, Trans7, yang dinilai menampilkan citra keliru dan merendahkan dunia pesantren. Adegan yang menggambarkan santri secara stereotip, bahkan disisipi candaan yang tidak sensitif terhadap simbol keagamaan, memicu gelombang kritik luas dari masyarakat dan kalangan pesantren.
Tayangan semacam itu bukan sekadar kesalahan editorial, melainkan bentuk kegagalan memahami hakikat pesantren sebagai lembaga peradaban. Pesantren bukan ruang gelap yang terbelakang, melainkan sumber pencerahan dan nilai-nilai luhur bangsa. Framing negatif seperti itu mengabaikan fakta bahwa dari pesantrenlah lahir tokoh-tokoh nasional, ulama moderat, pejuang kemerdekaan, hingga cendekiawan yang berperan besar dalam menjaga keutuhan NKRI.
Kearifan lokal pesantren justru mengajarkan adab dalam komunikasi publik. Dalam lingkungan pesantren, setiap kata dijaga, setiap candaan ditimbang dengan akhlak. Nilai ta’dzim (hormat), tawadhu (rendah hati), dan akhlaq karimah menjadi ruh yang membentuk cara berpikir dan bertindak santri. Maka, ketika ada media yang menampilkan pesantren secara tidak proporsional, sesungguhnya yang terganggu bukan hanya citra lembaga, tetapi juga nilai kemanusiaan dan moralitas publik.
Pesantren selama ini telah berkontribusi besar dalam mencetak generasi bangsa yang berkarakter. Nilai-nilai local wisdom seperti kesederhanaan, gotong royong, dan tanggung jawab sosial selalu diajarkan melalui keseharian santri. Dalam tradisi khidmah, para santri belajar melayani tanpa pamrih; dalam mujahadah, mereka berlatih disiplin spiritual; dan dalam halaqah, mereka belajar berpikir kritis sekaligus menghargai perbedaan pendapat. Semua itu merupakan bentuk pendidikan karakter yang kini justru banyak dicari dalam sistem pendidikan modern.
Sayangnya, sebagian kalangan di luar pesantren masih memandang lembaga ini dengan kacamata sempit: kolot, tertutup, dan tidak modern. Padahal, justru pesantrenlah yang menjadi pelopor pendidikan karakter berbasis nilai lokal jauh sebelum istilah itu populer di dunia akademik. Pesantren bukan anti-modernitas, tetapi menyeleksi modernitas agar tidak menelan nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah letak local wisdom pesantren, kemampuan untuk berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar tradisi.
Dalam kehidupan sosial, pesantren telah menjadi jangkar harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. Di banyak daerah, pesantren menjadi penengah konflik sosial, ruang dakwah kebangsaan, dan pusat pemberdayaan masyarakat. Kiai dan santri tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghidupkan ekonomi lokal melalui koperasi, pertanian, dan UMKM berbasis pesantren. Ketika lembaga lain bicara teori pemberdayaan, pesantren sudah melakukannya secara nyata dengan pendekatan yang lembut, penuh kasih, dan berakar pada budaya lokal.
Kita tidak boleh lupa bahwa sejarah bangsa ini tidak lepas dari peran besar pesantren. Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari tahun 1945 menjadi bukti nyata bagaimana pesantren melahirkan nasionalisme religius yang murni. Santri berperang bukan demi kekuasaan, tetapi demi kemerdekaan dan kehormatan tanah air. Kini, semangat itu harus dihidupkan kembali dalam bentuk jihad intelektual dan moral, melawan penjajahan baru berupa hedonisme, disinformasi, dan krisis etika publik yang merasuki ruang media.
Oleh karena itu, framing negatif terhadap pesantren tidak hanya menyakiti lembaga keagamaan, tetapi juga mereduksi akar kebangsaan Indonesia. Pesantren adalah bagian dari DNA bangsa ini. Menyerang atau merendahkannya sama saja dengan menistakan salah satu pilar utama peradaban Nusantara. Media massa seharusnya berperan sebagai jembatan pengetahuan, bukan alat pembelokan makna. Apalagi di era digital, di mana citra publik bisa dibentuk dalam hitungan detik, tanggung jawab media menjadi sangat besar untuk menghadirkan narasi yang adil dan edukatif.
Kini saatnya semua pihak, pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat, bergandeng tangan menguatkan peran pesantren sebagai pusat kebijaksanaan bangsa. Pemerintah perlu memberikan ruang lebih luas bagi pesantren dalam pembangunan nasional, sementara media perlu belajar memahami realitas pesantren dari dalam, bukan dari stereotip luar. Sebab di balik dinding sederhana pesantren, tersimpan laboratorium kemanusiaan yang sesungguhnya, tempat di mana akal, hati, dan iman dididik dalam harmoni.
Pesantren bukanlah masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan masa depan yang harus dijaga. Ketika dunia modern sibuk mencari model pendidikan berbasis nilai, pesantren telah memilikinya sejak berabad-abad lalu. Local wisdom pesantren mengajarkan bahwa kemajuan tanpa moral adalah kehancuran, dan pengetahuan tanpa adab adalah kesesatan. Dari pesantrenlah bangsa ini belajar arti kemerdekaan sejati, bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari kebodohan dan kemerosotan moral.
Ditengah riuhnya zaman dan kabar viral yang kerap menyesatkan, pesantren tetap tegak dengan ketenangan dan kebijaksanaannya. Ia tidak melawan dengan kebencian, melainkan dengan pencerahan. Ia tidak membalas dengan caci maki, melainkan dengan dakwah yang menyejukkan. Karena sejatinya, local wisdom pesantren adalah cermin keagungan bangsa Indonesia, menuntun dengan kasih, mengajar dengan keteladanan, dan memimpin dengan hati.
