Maulid Nabi dan Tuntutan Mahasiswa di Mata Penyuluh Agama

Maulid Nabi dan Tuntutan Mahasiswa di Mata Penyuluh Agama

Share :


H. Agus Mukhandar, M.Pd.I Penyuluh Agama Islam Kota Bandar Lampung

Setiap tahun umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ dengan pengajian, doa, dan seremonial keagamaan. Namun, tahun ini suasana terasa berbeda. Di tengah lantunan shalawat, jalanan Lampung justru dipenuhi suara mahasiswa yang menyuarakan 13 tuntutan utama: mulai dari pemangkasan gaji DPR, peningkatan kesejahteraan guru dan dosen, reformasi hukum, hingga keadilan agraria.

Sebagai penyuluh agama, kami melihat peristiwa ini bukan sekadar aksi politik, melainkan jeritan moral rakyat kecil yang sudah lama terpinggirkan. Data BPS menunjukkan, meskipun angka kemiskinan Lampung turun menjadi 10,00% pada Maret 2025 (sekitar 887 ribu orang), tetap saja artinya 1 dari 10 warga Lampung hidup miskin. Sementara itu, gaji DPR RI bisa mencapai lebih dari Rp85 juta per bulan, sedangkan guru honorer di Lampung masih ada yang digaji hanya Rp300 ribu hingga Rp1 juta per bulan.

Di sinilah letak ironi yang membuat suara mahasiswa bergema keras.

Maulid Nabi sebagai Cermin Kepemimpinan

Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam kepemimpinan. Beliau hidup sederhana, tidur di atas tikar kasar, bahkan ketika perut beliau lapar, umatnya pun lapar. Sabda beliau jelas:
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Sebagai penyuluh agama, kami merasa pesan ini sangat relevan dengan tuntutan mahasiswa. Jika pemimpin kita benar-benar meneladani Nabi, maka kesederhanaan, keadilan, dan keberpihakan kepada yang lemah harus menjadi roh setiap kebijakan.

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sarana mencari keuntungan pribadi, melainkan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Nabi ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari & Muslim).

Itulah mengapa jabatan dalam Islam bukanlah kehormatan untuk bermegah-megahan, tetapi beban tanggung jawab. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan:
“Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Al-Qur’an pun menegaskan pentingnya keadilan dalam kepemimpinan:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil…” (QS. An-Nisa: 58).

Artinya, seorang pemimpin wajib menyalurkan amanah sesuai haknya: harta negara untuk rakyat, kebijakan untuk kemaslahatan, dan hukum untuk menegakkan keadilan.

Nabi ﷺ juga memberi teladan dalam hal kesetaraan sosial. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi tidak membeda-bedakan hukum, meski kepada putri kandungnya sendiri. Bandingkan dengan realitas sekarang, di mana hukum sering tajam ke bawah, tumpul ke atas. Dengan demikian, Maulid Nabi bukan sekadar momen bershalawat, tetapi kesempatan untuk mengukur ulang: sudahkah pemimpin kita benar-benar meneladani beliau? Ataukah masih sibuk menambah fasilitas, sementara rakyat terhimpit beban hidup?

Membaca Tuntutan Mahasiswa dengan Kacamata Moral

Dari 13 tuntutan mahasiswa, langsung menyentuh sisi keagamaan dan moral:

  1. Pengesahan UU Perampasan Aset
    Islam mengajarkan harta haram harus disita untuk kemaslahatan. Dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188).

  2. Pemangkasan gaji dan tunjangan DPR RI
    Selaras dengan prinsip kesederhanaan Rasulullah ﷺ yang menolak hidup berlebihan.

  3. Peningkatan kesejahteraan dosen dan guru
    Rasulullah ﷺ memuliakan ulama. Guru adalah pewaris Nabi. Bagaimana mungkin mereka mulia di mata agama tapi hidupnya sengsara di dunia?

  4. Pemecatan menteri-menteri yang bermasalah
    Nabi ﷺ sangat selektif memilih pemimpin. Beliau menolak orang yang tidak amanah, bahkan jika masih keluarga.

  5. Restrukturisasi jabatan eksekutif dan legislatif yang diisi oleh ketua partai
    Islam melarang nepotisme dan bagi-bagi jabatan. Jabatan adalah amanah, bukan hadiah.

  6. Pergantian Kapolri
    Dalam Islam, jika seorang pemimpin tidak lagi menegakkan keadilan, maka wajib diganti dengan yang lebih amanah.

  7. Reformasi total institusi Polri dan pengusutan kasus kematian Affan Kurniawan
    Selaras dengan perintah Al-Qur’an: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah…” (QS. Al-Maidah: 8).

  8. Seruan revolusi total, bukan sekadar reformasi
    Spirit ini mirip dengan dakwah Nabi yang bukan sekadar “tambal sulam”, tapi perubahan total dari jahiliyah menuju masyarakat adil beradab.

  9. Evaluasi kinerja Polda Lampung
    Rasulullah ﷺ selalu mengevaluasi para sahabat yang diberi tugas, agar amanah dijalankan dengan baik.

  10. Penolakan RKUHAP yang dianggap merugikan rakyat
    Kaidah fiqh: “La dharar wa la dhirâr” (tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan). Hukum harus melindungi rakyat, bukan menyengsarakan.

  11. Penolakan efisiensi di sektor pendidikan dan kesehatan
    Pendidikan dan kesehatan adalah hak dasar. Dalam maqashid syariah, hifzh al-‘aql (menjaga akal) dan hifzh an-nafs (menjaga jiwa) adalah tujuan utama syariat.

  12. Penghentian penggunaan pajak rakyat sebagai alat penindasan
    Pada masa Nabi, zakat dan pajak digunakan untuk kesejahteraan umat. Pajak yang menindas bertentangan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin.

  13. Pembebasan lahan untuk petani dan penegakan keadilan agraria
    Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” Petani yang memberi makan bangsa harusnya didukung, bukan dipinggirkan.

Dengan begitu, tuntutan mahasiswa tidak bisa dipandang sekadar emosi jalanan. Itu adalah aspirasi moral yang justru selaras dengan nilai-nilai Islam.

Pertama, para pemimpin: jadikan Maulid Nabi sebagai momentum muhasabah. Belajarlah sederhana dari Nabi, jangan berlebih-lebihan saat rakyat masih menjerit.
Kedua, mahasiswa: perjuangan kalian benar, tapi harus tetap elegan. Nabi mengajarkan perjuangan dengan strategi dan kesabaran, bukan dengan kekerasan.
Ketiga, masyarakat umum: mari mendukung perjuangan moral ini dengan cara yang konstruktif. Kritik boleh, tapi juga harus diiringi doa, diskusi sehat, dan partisipasi aktif mengawal kebijakan.

Bagi kami penyuluh agama, peringatan Maulid Nabi tahun ini terasa sangat istimewa. Ia bukan hanya perayaan seremonial, tapi momentum refleksi sosial. Suara mahasiswa dengan 13 tuntutannya adalah alarm bangsa bahwa ada ketidakadilan nyata di sekitar kita.

Jika para pejabat benar-benar mencintai Nabi Muhammad ﷺ, maka teladan beliau harus tercermin dalam kehidupan: sederhana, adil, dan berpihak pada kaum lemah. Dengan begitu, Maulid Nabi menjadi titik balik: rakyat semakin kuat dalam perjuangan, pemimpin semakin sadar akan amanah, dan Lampung serta Indonesia bergerak menuju keadilan sosial yang hakiki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *