Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung
Menilik sejarah perempuan mulia di masa Rasulullah saw, yang mengabdikan dirinya di masjid, beliau adalah Ummu Mahjan yang bertugas menyapu dan menjaga kebersihan Masjid Nabawi meskipun dalam kondisi tubuh yang lemah dan sudah lanjut usia.
Dijelaskan dalam kitab Sahih al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah, zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang perempuan hitam yang mengurus masjid Nabawi. Orang-orang biasa menyebutnya dengan panggilan Ummu Mahjan. Diceritakan bahwa Ummu Mahjan begitu rajin menyapu dan membersihkan masjid Nabawi setiap hari. Di usianya yang sudah tua, beliau istiqomah melakukan satu hal yang mendatangkan manfaat untuk orang lain. Tentunya berkhidmat di masjid adalah tugas yang dimuliakan oleh Rasul karena telah menjaga kebersihan masjid.
Membersihkan masjid adalah amalan yang agung sebagaimana sabda Rasulullah saw,
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar” (HR. Muslim).
Para era modern ini, tidak dipungkiri bahwa minat dan niat seorang untuk berkhidmat di masjid lebih sedikit dibandingkan pergi ke pasar.
Ummu Mahjan adalah berperan sebagai tukang sapu, tapi untuk tempat yang paling dicintai oleh Allah, yaitu tempat yang penuh keberkahan dan kemuliaan, sehingga sangat lazim bagi kita kaum muslimin untuk menghargai dan memuliakannya. Indah rasanya, jika orang-orang yang memiliki kedudukan di masyarakat, untuk sesekali menyapu rumah Allah Ta’ala. Selain supaya masyarakat menjadi sadar akan wibawa masjid, sehingga mereka menjadi lebih sadar akan kehormatan masjid, juga untuk membuatnya menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan mengikis sifat-sifat angkuh dalam diri.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw, bersabda,
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi saw, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” “Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi saw, kepada sahabatnya.
Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah saw, Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Bukhari Muslim).Betapa mulianya khidmat yang dilakukan oleh Ummu M
hjan, sehingga Rasulullah saw, menyempatkan diri untuk menyolatkan jenazahnya, meski sudah dikuburkan. Sebuah kemuliaan yang Allah anugrahkan kepadanya, bila orang termulia (Rasulullah) sampai menegur para sahabatnya, karena lupa mengabarkan perihal kematiannya. Saat beliau tahu bahwa perempuan tersebut telah dikuburkan, beliau sempatkan diri untuk tetap menyolati jenazahnya, meski sudah dimakamkan.
Setelah menukil hadis ini, Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan dalam bukunya al-Fawaid al-Majmu’ah menjelaskan,
ففي هذا دليل على فضل تنظيف المسجد، لأن صلاة النبي صلى الله عليه وسلم على قبر من يكنس المسجد دليل على تعظيم عمله
“Hadis ini dalil akan utamanya pekerjaan membersihkan masjid. Karena shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, atas kuburan orang yang menyapu masjid tersebut, bukti bahwa perbuatan ini adalah amalan yang luhur.”
Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk dapat mengambil iktibar dan juga sikap tawadhu kita untuk senantiasa menghormati dan memuliakan orang-orang yang senantiasa berkhidmat di rumahnya Allah, baik laki-laki maupun perempuan, karena setiap amal shaleh yang dilakukan oleh keduanya akan senantiasa Allah balas dengan kemuliaan, dan yang membedakan antara keduanya adalah ketaqwaan.
