Seputar Masjid; Perjuangan Yang Rentan Terlupakan

Seputar Masjid; Perjuangan Yang Rentan Terlupakan

Share :

 

 

Dr. Agus Hermanto, MHI Ketua Masjid Darul Hidayah Kemiling Bandar Lampung

Konstruksi bangunan masjid tidak lepas dari sejarah panjang perjalanan para pendahulunya, mulai dari pemberian wakaf atau hibah hingga kumpulan infaq yang terhimpun untuk pembelian material dan segala fasilitas yang menjadi sarana untuk beribadah. Artinya bahwa perjuangan para pendahulu kita tidaklah seyogyanya kita lupakan begitu saja, “jas merah” istilah yang kerap kali familiar di masyarakat, yang berarti jangan lupakan sejarah. Untuk itu, seyogyanya, siapapun yang menjadi penerus dalam suatu pembangunan dan istapet tapuk kepengurusan haruslah selalu mendoakan agar kita selalu ingat pada sebuah perjuangan yang telah meneteskan keringat. Perjuangan ini kerap kali terlupakan, dalam suatu mahfudzat mengatakan, “al-fadhlu lil mubtadi’ wa in ahsanal muqtadi” (keutamaan/kemuliaan itu bagi orang yang mengawali, walaupun yang mengikuti setelahnya lebih baik), hal ini penting untuk kita jadikan sebagai pedoman bagi kita semua, sehingga tidak lazim ketika ada seorang pengurus baru pada suatu keorganisasian, mengabaikan jasa para pendahulunya. Hal yang paling lazim adalah mendoakan dan selalu meneladaninya adalah jalan yang moderat, hal ini agar tidak menjadikan diri kita sombong dan merasa lebih baik dari pendahulu kita.

Merekonstruksi bangunan lama menjadi bangunan yang baru demi kemaslahatan adalah hal yang mulia, bangunan masjid yang pada awalnya kecil dan memuat sedikit jamaah dan semakin bertambahnya jumlah jamaah dan semakin rapuhnya bangunan, maka penting untuk direhab agar lebih berdaya maslahat. Merubah dan merehab bukan mengabaikan pendahulu melainkan sebuah pemikiran progresif yang positif, dalam suatu kaidah fikih dikatakan, “المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح” (memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik). Kaidah ini menekankan pentingnya menjaga tradisi dan nilai-nilai yang baik dari masa lalu, sambil juga terbuka terhadap inovasi dan perubahan yang lebih baik untuk kemaslahatan umat.

Merekonstruksi sebuah bangunan lama menjadi bangunan baru adalah sebuah upaya untuk menggapai kemaslahatan yang lebih dari sekedar yang ada, sehingga perlu adanya sebuah kesepakatan bersama agar dapat terwujud segala hajat yang diinginkan oleh jama’ah, karena masjid dibangun dari jamaah untuk jamaah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *