Lindungi Anak Kita dari Jerat LGBT melalui Peran Aktif Orangtua, Masyarakat, dan Negara
Ustaz. Busyral Hanif, S.H.I
Penyuluh Agama Islam KUA Rajabasa
Kementerian Agama Kota Bandar Lampung
Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) bukan lagi sekadar isu luar negeri. Di tengah masyarakat kita, khususnya di Provinsi Lampung, penyimpangan ini telah menyebar secara nyata dan terstruktur. Berdasarkan data dari forum daring dan tayangan edukasi digital yang beredar, telah teridentifikasi 27 grup komunitas gay di Lampung, tersebar di berbagai kabupaten/kota seperti Bandar Lampung, Metro, Lampung Timur, Way Kanan, hingga Tulang Bawang.
Jumlah total anggotanya mencapai lebih dari 80.000 akun, seperti “Gay Bandar Lampung” (11.502 anggota), “Komunitas Gay Bandar Lampung” (20.247 anggota), dan “Gay Lampung” (21.775 anggota). Fakta ini tentu sangat mencemaskan. Jika tidak ditanggapi serius, ini bisa menjadi bom waktu moral dan sosial di tengah masyarakat.
Peran Orangtua sebagai Madrasah Pertama
Dalam Islam, pendidikan anak dimulai dari rumah. Ayah dan ibu bukan hanya pengasuh, tetapi guru pertama yang akan menentukan arah akhlak dan kepribadian anak. Jika orangtua lalai, maka lingkungan luar yang akan mengisi nilai dalam diri anak, termasuk ideologi menyimpang seperti LGBT.
Allah Ta’ala berfirman:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Anak-anak yang kurang perhatian dari orangtuanya, minim bimbingan agama, serta bebas mengakses internet tanpa pengawasan, sangat rentan menjadi target propaganda LGBT. Apalagi saat ini konten LGBT bukan hanya muncul di media asing, tapi juga disusupkan ke film, musik, game, hingga platform belajar.
Peran Masyarakat: Tidak Boleh Diam dan Acuh
LGBT adalah dosa yang berdampak sosial, bukan hanya urusan pribadi. Jika masyarakat membiarkan, maka azab Allah bisa datang menimpa semuanya. Nabi Luth ‘alaihissalam dan kaumnya dijungkirbalikkan oleh Allah karena menyebarkan perilaku homoseksual di tengah komunitas mereka.
> إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٞ مُّسْرِفُونَ
“Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 81)
Masyarakat tidak boleh diam. Para tokoh adat, tokoh agama, pemuda masjid, RT, RW dan tokoh pendidikan harus turut andil menolak segala bentuk normalisasi LGBT. Setiap orang tua juga harus peka jika ada tanda-tanda penyimpangan pada anak di lingkungan sekitarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَن رَأَى مِنكُم مُنكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِن لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِن لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Peran Pemerintah: Jangan Menutup Mata
Pemerintah, baik pusat maupun daerah, tidak boleh membiarkan masalah ini berkembang liar. Perlu ada regulasi tegas untuk mencegah penyebaran ajaran dan propaganda LGBT di sekolah, kampus, media sosial, hingga ruang publik.
Pemerintah harus:
Menyusun Perda atau Edaran Anti-Penyimpangan Seksual
Mewajibkan pendidikan keislaman dan pendidikan karakter fitrah
Memberi ruang kepada penyuluh agama dan tokoh masyarakat untuk melakukan edukasi langsung kepada keluarga dan sekolah
Mengembangkan program terapi dan rehabilitasi bagi yang ingin berubah
Solusi Edukatif untuk Keluarga
Sebagai penyuluh agama, saya mengajak para orangtua agar lebih terlibat aktif dalam mendidik anak-anak:
1. Bina komunikasi terbuka dengan anak sejak kecil.
2. Ajarkan batasan pergaulan dan adab terhadap lawan jenis.
3. Batasi akses media digital, dampingi dan periksa konten yang mereka tonton.
4. Libatkan anak dalam kegiatan keagamaan dan sosial, agar punya lingkungan yang sehat.
5. Kuatkan pemahaman agama dan identitas gender sesuai syariat Islam.
Penutup: Bangun Generasi Fitrah
Menolak LGBT bukan kebencian, tapi bentuk cinta terhadap anak-anak kita dan masa depan mereka. Islam datang untuk menjaga martabat manusia dan mengembalikan fitrah. Rumah tangga harus jadi benteng, masyarakat jadi pelindung, dan negara jadi pengayom.
> اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan anugerahkan kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkan pula kepada kami kebatilan sebagai kebatilan, dan anugerahkan kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Semoga Allah SWT menjaga anak-anak kita, keluarga kita, dan negeri ini dari fitnah yang nyata. Aamiin.
