1 Muharram 1447 Hijriah dan Tradisi Santri
Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI
Pengasuh PP Nashihuddin Bandar Lampung
Tahun Baru Islam, yang jatuh pada tanggal 1 Muharram 1447 Hijriah, kembali mengetuk pintu kesadaran umat. Bukan sekadar pergantian waktu, 1 Muharram adalah momentum spiritual yang mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah Islam: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Hijrah bukan semata perpindahan fisik, tetapi transformasi sosial dan spiritual yang menyelamatkan peradaban. Di tengah gegap gempita perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan euforia duniawi, Tahun Baru Hijriah justru hadir dalam hening, doa, dan perenungan. Nilai-nilai ini begitu lekat dengan kehidupan para santri di pesantren, yang senantiasa menjadikan Muharram sebagai ruang spiritual untuk bermuhasabah dan memperkuat komitmen keislaman.
Tradisi santri dalam menyambut 1 Muharram tidak dapat dilepaskan dari warisan panjang pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning atau menghafal Al-Qur’an, tetapi juga penjaga tradisi dan nilai-nilai Islam Nusantara. Di banyak pesantren, 1 Muharram dirayakan dengan pembacaan doa akhir dan awal tahun, pengajian akbar, pembacaan shalawat, zikir bersama, hingga kirab santri. Semua ini menjadi bagian dari tradisi yang memperkuat rasa syukur, kebersamaan, dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik.
Tradisi tersebut tidak hanya ritual semata, melainkan memiliki makna filosofis yang dalam. Doa akhir tahun menjadi refleksi atas segala amal dan kesalahan selama satu tahun sebelumnya. Sementara doa awal tahun menjadi deklarasi niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bermanfaat bagi umat. Di sinilah peran santri menjadi penting, karena santri tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk keselamatan bangsa dan umat Islam seluruhnya. Di tengah situasi global yang penuh gejolak, ketulusan doa santri menjadi nafas spiritual yang menyejukkan.
1 Muharram juga menjadi ruang penting untuk merevitalisasi semangat hijrah dalam konteks kekinian. Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dahulu bertujuan menyelamatkan akidah dan membangun peradaban. Maka dalam konteks santri masa kini, hijrah berarti berpindah dari ketidaktahuan menuju ilmu, dari kemalasan menuju kedisiplinan, dan dari individualisme menuju kepedulian sosial. Santri dituntut tidak hanya menjadi ahli ibadah, tetapi juga agen perubahan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Tradisi pesantren dalam menyambut Muharram juga merupakan wujud dari konsep tarbiyah ruhiyah (pendidikan spiritual) yang sangat dibutuhkan di era modern ini. Ketika dunia semakin sibuk dengan hiruk-pikuk teknologi dan kemewahan material, pesantren justru mengajarkan pentingnya ketenangan batin, dzikir, dan ketawadhuan. Santri dididik untuk hidup sederhana, disiplin, dan fokus pada pencarian ilmu. Nilai-nilai inilah yang menjadikan pesantren tetap relevan meskipun zaman berubah. Dengan menyambut Muharram melalui tradisi yang penuh makna, pesantren mengajarkan kepada santrinya bahwa setiap momen dalam hidup adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain itu, tahun baru Hijriah juga menjadi waktu yang tepat bagi santri untuk meneguhkan komitmen kebangsaan. Sejarah mencatat, santri dan pesantren memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Spirit hijrah yang menuntun pada kebebasan dan keadilan menjadi landasan perjuangan santri dalam menentang penjajahan. Maka dari itu, menyambut 1 Muharram tidak cukup hanya dengan kegiatan seremonial, tetapi juga harus menjadi refleksi untuk memperkuat peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI, toleransi antarumat beragama, dan penguatan nilai-nilai Pancasila.
Namun demikian, tantangan pesantren dalam menjaga tradisi di era modern tidaklah ringan. Globalisasi, arus media sosial, dan hedonisme menjadi tantangan nyata bagi pesantren dalam menjaga identitas dan nilai-nilainya. Tidak sedikit santri yang mulai terpengaruh gaya hidup konsumtif dan instan. Oleh karena itu, Muharram bisa menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial.
Dalam konteks ini, pesantren perlu terus melakukan inovasi dalam merawat tradisi. Tradisi 1 Muharram dapat dikemas dengan pendekatan kekinian yang lebih inklusif dan menyentuh generasi muda. Misalnya, pengajian Muharram yang dikolaborasikan dengan seni budaya santri, seperti musik islami, puisi hijrah, atau kisah inspiratif dari alumni pesantren. Kegiatan sosial seperti santunan yatim piatu, bersih-bersih lingkungan, atau kajian literasi keislaman juga bisa menjadi bagian dari perayaan Muharram yang produktif.
Lebih jauh, pemerintah dan masyarakat juga harus memberikan ruang yang lebih luas bagi pesantren untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah menjadi tonggak penting bagi pengakuan negara terhadap eksistensi dan peran pesantren. Momentum 1 Muharram ini bisa menjadi pengingat bahwa pesantren adalah mitra strategis negara dalam membangun generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan cinta tanah air.
Tahun Baru Islam 1447 Hijriah adalah waktu yang tepat untuk merenung, bukan hanya secara personal, tetapi juga secara kolektif. Kita perlu belajar dari semangat hijrah Nabi, dari ketekunan santri, dan dari ketulusan pesantren dalam menjaga nilai-nilai Islam. Muharram bukan sekadar penanda waktu, melainkan panggilan untuk berubah menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih beriman. Dari pesantren, semangat ini terus bergema.
Akhirnya, tradisi santri dalam menyambut 1 Muharram adalah simbol kekuatan spiritual yang tak lekang oleh waktu. Di tengah dunia yang terus berubah, pesantren tetap menjadi benteng nilai dan penjaga warisan Islam yang agung. Semoga 1 Muharram 1447 Hijriah ini menjadi titik tolak kebangkitan spiritual, intelektual, dan sosial umat Islam, khususnya para santri, dalam menapaki masa depan yang penuh tantangan dan harapan.
