Jakarta, MUI Lampung Digital
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi, KH. Masduki Baidlowi, mengingatkan fenomena informasi “liar” yang berkembang dan menjadi ancaman melalui media digital saat ini. Tiga ancaman utama yang harus diwaspadai umat Islam: post-truth, bias konfirmasi, dan echo chamber.
“Ini bukan lagi soal benar atau salah berdasarkan fakta, tapi soal keyakinan yang dibentuk oleh informasi yang diulang-ulang secara terus-menerus. Inilah yang disebut sebagai era post-truth,” tegasnya pada kegiatan Pelatihan Standardisasi dan Optimasi Tata Kelola Media MUI, Kamis (26/6/2025).
Ia menjelaskan, dalam post-truth society, kesalahan informasi yang terus disebarluaskan bisa berubah menjadi kebenaran yang dipercaya publik. Fenomena ini diperparah dengan hadirnya bias konfirmasi, yaitu ketika algoritma media sosial menyuguhkan informasi yang sesuai dengan keyakinan pengguna tanpa membuka ruang untuk pandangan berbeda.
“Kalau kita percaya sesuatu, maka sistem digital akan menyodorkan hal yang sejenis secara terus-menerus. Akhirnya, keyakinan itu seakan-akan selalu dibenarkan, padahal bisa saja keliru. Itulah bahayanya bias konfirmasi,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti efek echo chamber, yaitu ruang gema informasi digital di mana seseorang hanya menerima pendapat dari lingkarannya sendiri dan menolak informasi dari luar.
“Contoh nyatanya bisa kita lihat dalam pemilihan presiden di Amerika. Trump menang bukan semata karena programnya, tapi karena echo chamber yang berhasil dibangun tim kampanyenya,” paparnya.
Ia menegaskan, jika umat Islam tidak segera mengalihkan dakwah ke ruang digital, maka generasi muda akan lebih mempercayai informasi dari “ustadz Google” ketimbang ulama.
“Saat ini, semua orang bertanya ke Google, ke ChatGPT, atau ke media sosial. Tapi, apakah semua informasi yang mereka terima benar? Ini pertanyaan penting bagi MUI dan ormas Islam lainnya,” tambahnya.
Ia mengakui bahwa tantangan dakwah di era digital tidak mudah. Perlu strategi dan metode baru, serta kaderisasi dai-dai muda yang melek digital. Ia mengusulkan agar MUI mulai melatih kader-kader muda yang bisa menjadi “UAS baru”, “Gus Baha muda”, atau “Hanan Attaki digital”.
“Cukup tiga orang dai digital muda, tapi dilatih serius. Kita engineering, kita latih public speaking-nya, kita ajarkan literasi media. Kalau itu dilakukan oleh Infokom, maka dampaknya akan luar biasa,” ungkapnya.
Dalam konteks ini, media MUI—baik website, TV MUI, maupun platform sosial media—didorong untuk bertransformasi menjadi media rujukan umat yang mampu menjadi tempat konfirmasi terhadap informasi viral yang beredar.
“Media MUI harus menjadi tempat masyarakat bertanya: ‘Benarkah ini?’ Bukan sekadar menyiarkan, tapi juga mengklarifikasi dan meluruskan informasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap nilai-nilai Islam dan kebangsaan bukan hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam ruang digital yang terus memproduksi narasi-narasi transnasional yang tidak sejalan dengan karakter Islam Indonesia.
“Mayoritas masyarakat kita sebenarnya diam, tapi yang bersuara di ruang digital justru sering kali kelompok-kelompok ekstrem atau yang tidak mewakili Islam wasathiyah. Ini tantangan kita,” pungkasnya. (Muhammad Faizin)
