Opini: Musim Kemarau Saatnya Bebersih

Opini: Musim Kemarau Saatnya Bebersih

Share :

Musim Kemarau Saatnya Bebersih
Dr. Agus Hermanto, MHI
(Komisi Penelitian MUI Lampung / Penulis Buku Fikih Ekologi Aktual)

Melihat fenomena alam yang tidak menentu dan kerap kali tidak dapat diprediksi, menunjukkan siklus alam mulai tidak stabil, hal itu mungkin secara alamiah memang Allah telah menentukan skenarionya secara kodrati bahwa alam telah menua, sehingga kerusakan alam berupa bencana adalah hal yang alamiah sesuai ketentuan Ilahi. Namun pada sisi lain, karena manusia dianugerahi akal pikiran yang sehat untuk berpikir, sehingga manusia perlu merenungi atas kejadian alam yang kerap terjadi, apakah ada keterlibatan manusia di dalamnya? Karena sebuah kesombongan, keteledoran atau bahkan kelalaian hingga mengabaikan alam semesta ini tanpa dirawatnya, yang ada hanyalah eksploitasi kekayaan alam yang kemudian akan berimbas pada pencemaran lingkungan bahkan kerusakan ekosistem yang berkelanjutan.

Allah memberikan beberapa musim pada kita, khususnya 🔛 Indonesia, kita memiliki dua musim yaitu kemarau dan hujan. Pada musim kemarau (panas), sesuai siklus yang terjadi, kita harus mulai peduli terhadap got (selokan-selokan) bahkan sungai, kondisi kering yang kerap bertumpukan sampah baik dari bahan yang mudah busuk dan bahkan sulit membusuk seperti sampah plastik dan bahkan sisa Pampers anak yang dibuang di aliran sungai. Hal ini sungguh memperihatinkan, meskipun bukan secara mutlak adalah tugas pemerintah secara utuh, namun seyogyanya setiap rt, kelurahan, kecamatan, bahkan kabupaten/kota mulai mengantisipasinya agar kelak pada musim hujan tidak lagi terjadi penyumbatan pada aliran-aliran sungai yang menjadi aliran.

Kepedulian ini adalah upaya untuk meminimalisir terjadinya banjir musiman yang kerap terjadi pada tiap musim hujan. Jika dalam sebuah istilah “siap payung sebelum hujan” dalam konteks ini tidak hanya payung yang harus kita siapkan, melainkan adalah reaksi di musim kemarau (terang) sebelum datangnya hujan (musim penghujan).

Air hujan adalah anugrah Tuhan, ayat Al-Quran yang menyinggung hujan ada dalam Al Quran surat Az-Zukhruf ayat 11:
وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

Artinya: Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

Ayat lain yang menyinggung hujan dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 10:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Artinya: Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.

Kemudian, hujan juga dijelaskan dalam surat Ar-Rum ayat 48:
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ

Artinya : Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira.

Ayat selanjutnya yang juga secara detail membahas tentang hujan adalah surat An-Nur ayat 43:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ

Artinya: Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

Hujan juga disebut sebagai rahmat dan tanda kasih sayang Allah kepada makhluknya di Bumi. Sebagaimana tercantum dalam surat Asy-Syura ayat 28:
وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗ ۗوَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ

Artinya: Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.

Meskipun air adalah anugerah bagi kehidupan, ia turun dari langit, mengalir dari dataran tinggi kedataran rendah dan bermuara ke lautan, sebagian terserap kepori-pori tanah melalui akar pohon dan tersimpan juga melalui sela-sela bebatuan hingga memberikan kesuburan pada tanah tempat kita tinggal. Realitanya pada saat ini, serapan air mulai berkurang, pepohonan mulai menipis, bangunan-bangunan kokoh berdiri tegak hingga pondasi-pondasi bangunan tidak lagi mampu menerima tampungan air, sehingga air terhambat akibat sampah yang menyumbatnya, pada akhirnya terjadilah banjir pada berbagai sudut kota pada musim penghujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *