Gema Peduli Ekologi Melalui Mimbar Bermartabat
Dr. Agus Hermanto, MHI
(Penulis Buku Khutbah Jum’at Tentang Lingkungan/Dosen UIN Raden Intan Lampung)
Krisis ekologi mulai nampak di hadapan kita, pada musim kemarau, sampah berserakan dimana-mana, sungai dan parit yang kering di penuhi dengan sampah-sampah yang mulai menggumpal, hingga nanti pada saat musim hujan akan rentan terjadi penyumbatan dan dapat mengakibatkan banjir di beberapa sudut kota, belum lagi limbah pabrik dan asap kendaraan yang terus meningkat, sedangkan penghijauan mulai menipis akibat banyaknya gusuran dan padatnya pembangunan, gedung-gedung dan pemukiman semakin meningkat dan banyak bangunan beton menjulang kokoh dan tinggi pada pusat-pusat kota, belum lagi gedung-gedung berkaca yang memiliki dampak sangat signifikan terhadap lapisan ozon, alam menjerit akibat keserakahan manusia yang tidak lagi peduli terhadap lingkungan.
Ada peran yang terlupakan dari kita, bahwa kita adalah Khalifatullah yang bertugas menjaga dan merawat lingkungan, mengabaikan dan ketidak pedulian berarti sebuah penghianatan nyata yang tidak kita sadari. Untuk itu, tugas mulia ini menjadi kewajiban bersama, para akademisi, ilmuwan, cendikiawan bahkan para agamawan. Melalui literasi kita dapat menyampaikan inspirasi, melalui mimbar-mimbar suci kita bisa menyampaikan edukasi, dan melalui hal yang sederhana mengaplikasikan ajaran agama secara benar juga merupakan hal mulia yang dapat diapresiasi. Kepedulian lingkungan tidak harus mengunggu kebijakan, atau saluran tangan berupa bantuan, tapi dari hal yang ringan sejatinya akan memberikan dampak baik bagi lingkungan sekitar kita.
Bersuci dalam konteks agama adalah bagian dari pelajaran mulia yang dapat kita jalani, bersuci artinya membersihkan diri dari hadats maupun najas, bahkan segala kotoran badan dan sekitar rumah hingga tempat ibadah. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, hingga meminimalisir penggunaan sampah plastik yang akan berdampak pada pencemaran lingkungan, menipisnya kesuburan tanah, menimbulkan molekul-molekul yang akan berbahaya pada kesehatan pada saat ia mulai rapuh, sehingga hal sederhana ini haruslah dibarengi dengan kesadaran diri, dengan senantiasa menanamkan pada diri, “kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi”
