Jabatan: Anugerah atau Musibah
Prof. Dr. Siti Nurjanah, M. Ag, PIA
Guru Besar IAIN Metro Lampung
Islam mengajarkan kita tentang pentingnya struktur dalam kehidupan, yang melibatkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, pemerintah dan rakyat. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yang tidak hanya menjadi pemimpin agama, tetapi juga pemimpin negara setelah hijrah ke Madinah. Dalam ajaran Islam, setiap kelompok atau komunitas memiliki seorang pemimpin, atau “amir”, yang memegang peran penting dalam memimpin dan mengarahkan anggotanya. Seorang amir memikul tanggung jawab besar, tidak hanya dalam menyusun kebijakan, tetapi juga dalam menjadi teladan yang baik bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin adalah figur yang memegang jabatan untuk mengatur dan membimbing masyarakat, rakyat, atau bawahannya. Oleh karena itu, jabatan sebagai pemimpin bukanlah posisi yang bisa diberikan secara sembarangan. Pemilihan seorang pemimpin harus dilakukan secara hati-hati, sesuai dengan persyaratan dan kriteria yang telah ditetapkan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memiliki kualitas untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi mereka yang dipimpinnya.
Namun, jika kita merujuk pada pendapat Sayyidina Umar bin Khattab RA, beliau mengatakan bahwa jabatan adalah musibah yang harus dijalani dengan penuh kehati-hatian. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk berlaku adil, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan bertindak bijaksana. Pemimpin yang mampu memahami situasi dengan cermat, mematuhi aturan, serta mengayomi masyarakat yang dipimpinnya adalah pemimpin yang ideal. Sebaliknya, pemimpin yang dipenuhi dengan dendam dan ambisi pribadi akan merusak jalannya kepemimpinan tersebut. Itulah mengapa jabatan bisa menjadi musibah, karena membawa dampak yang besar pada diri pemimpin dan orang lain yang ada di sekitarnya. Sebuah jabatan yang dipegang dengan niat balas dendam dapat mengarah pada berbagai dampak negatif, seperti:
-
Motivasi yang Salah: Jabatan yang dipergunakan untuk balas dendam dapat memotivasi pemimpin untuk melakukan tindakan yang tidak etis atau tidak profesional.
-
Stres dan Kecemasan: Niat buruk dalam jabatan dapat menambah tingkat stres dan kecemasan yang berlebihan.
-
Kerusakan Hubungan: Sikap balas dendam bisa merusak hubungan dengan rekan kerja maupun atasan, yang pada akhirnya akan memengaruhi atmosfer kerja.
-
Kehilangan Fokus: Pemimpin yang terjebak dalam niat pribadi bisa kehilangan fokus pada tujuan yang lebih besar dan nilai-nilai yang penting bagi organisasi.
Namun, jabatan juga bisa menjadi anugerah jika dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan niat yang tulus untuk kemajuan bersama. Jabatan yang dikelola dengan baik akan membuka peluang untuk berkembang dan meningkatkan kualitas organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin harus mampu berfikir positif, melakukan inovasi, dan terus mengembangkan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah yang telah diambil oleh pemimpin sebelumnya, seorang pemimpin dapat menilai, mengembangkan, dan mengimplementasikan program-program yang belum terlaksana dengan semangat keberlanjutan.
Untuk menjadi pemimpin yang sukses, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
-
Fokus pada Pengembangan Diri: Pemimpin yang baik selalu berusaha mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuannya agar dapat mencapai tujuan yang lebih baik untuk masa depan.
-
Membangun Hubungan yang Sehat: Membangun hubungan yang sehat dan komunikasi yang efektif dengan semua pihak sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini juga berlaku bagi pemimpin sebelumnya, yang meletakkan dasar kepemimpinan yang perlu dihargai dan diteruskan.
-
Mengelola Emosi: Pemimpin harus mampu mengelola emosi dengan bijak, tidak terpengaruh oleh bisikan atau emosi negatif, agar kebijakan yang diambil tetap berdasarkan pertimbangan matang dan tidak terburu-buru.
-
Mencari Tujuan yang Lebih Bermakna: Pemimpin yang sukses akan mencari tujuan yang lebih bermakna, yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut. Dengan memahami dan memaknai tujuan organisasi secara mendalam, pemimpin dapat memajukan organisasi tanpa harus terfokus pada kesalahan orang lain.
Pada akhirnya, apakah jabatan itu anugerah atau musibah sangat bergantung pada cara kita memandang dan mengelolanya. Prinsip “al-muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah” yaitu “memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” adalah pedoman yang relevan dalam kepemimpinan. Sebuah kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang terus berkembang, mempertahankan hal-hal baik yang sudah ada, sambil membuka ruang bagi inovasi dan perbaikan yang berkelanjutan.
Dengan memilih untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, pemimpin dapat membawa organisasi mencapai tujuan yang lebih tinggi, membangun hubungan yang sehat, dan memberi manfaat besar bagi semua orang di sekitarnya. Kepemimpinan yang efektif tidak hanya mengutamakan kesuksesan pribadi, tetapi juga kesuksesan bersama yang bermanfaat untuk masa depan.
Mulyojati, 5 April 2025.
