{"id":977,"date":"2016-06-29T03:24:52","date_gmt":"2016-06-29T03:24:52","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=977"},"modified":"2016-06-29T03:24:52","modified_gmt":"2016-06-29T03:24:52","slug":"uslub-ayat-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=977","title":{"rendered":"Uslub Ayat al-Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-978\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/tafsir.jpg\" alt=\"tafsir\" width=\"1600\" height=\"1060\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah Swt telah menganugerahkan kepada manusia berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir<!--more--> cemerlang yang dapat menundukkan unsur-unsur kekuatan alam dan menjadikannya sebagai pelayan bagi kepentingan manusia dan Allah Swt memberikan\u00a0 bimbingan dari waktu ke waktu kepada manusia melalui sebersit wahyu sebagai petunjuk menempuh hidup dan kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan. Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi dan berada di atas kemampuannya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara bahasa,\u00a0\u201c<em>Uslub<\/em>\u201d\u00a0digunakan untuk barisan kurma. Jalan yang memanjang juga disebut\u00a0<em>uslub<\/em>. Bisa dikatakan bahwa\u00a0<em>uslub<\/em>\u00a0adalah jalan, cara, dan <em>mazhab<\/em>. Seperti ungkapan\u00a0\u201c<em>Antum fi usl\u00fbb saw\u00e2<\/em>\u201d.\u00a0<em>Uslub<\/em>\u00a0juga berarti\u00a0<em>fann<\/em>\u00a0(seni). Dalam terminologi ahli <em>Balaghah<\/em>,\u00a0<em>uslub<\/em>\u00a0adalah sebuah metode dalam memilih redaksi dan menyusunnya, untuk mengungkapkan sejumlah makna, agar sesuai dengan tujuan dan pengaruh yang jelas. Pengetian lainnya,uslub\u00a0adalah berbagai ungkapan redaksi yang selaras untuk menimbulkan beragam makna yang dikehendaki. Dalam tradisi Barat ilmu ini dikenal dengan Stilistika.\u00a0<em>Style<\/em>\u00a0berasal dari kata\u00a0stilus\u00a0(Latin), yaitu alat tulis pada lempengan lilin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Uslub\u00a0al-Qur\u2019an\u00a0bukanlah <em>mufradat<\/em> (kosa kata) dan susunan kalimat, akan tetapi metode yang dipakai al-Qur\u2019an dalam memilih mufradat dan gaya kalimatnya. Ali al-Jarim dan Musthafa Usman menyebutkan bahwa <em>uslub<\/em> adalah makna yang terkandung pada kata-kata yang terangkai sedemikian rupa sehingga lebih cepat mencapai sasaran kalimat yang dikehendaki dan lebih menyentuh jiwa para pendengarnya. Menurutnya, <em>uslub<\/em> ada tiga macam yaitu\u00a0<em>al-Usl\u00fbb al-\u2018Ilm\u00ee, al-Usl\u00fbb al-Adab\u00ee,\u00a0dan\u00a0al-Usl\u00fbb al-Khithab\u00ee. Uslub<\/em>\u00a0atau gaya bahasa berarti mengungkapkan fikiran atau perasaan melalui bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari kita berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita, di rumah, di tempat bekerja, dll. Untuk mengungkapkan fikiran, perasaan, dan tujuan, digunakanlah bermacam-macam\u00a0uslub\u00a0atau gaya bahasa yang sesuai dengan gaya kalimat berita, gaya kalimat pertanyaan, gaya perintah, atau gaya bahasa lain, tergantung situasi dan kondisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karenanya, uslub al-Qur\u2019an berarti gaya bahasa al-Qur\u2019an yang tidak ada duanya dalam menyusun redaksi penuturnya dan memilih redaksinya. Para ulama, baik dulu maupun sekarang, telah membahas bahwa al-Qur\u2019an memiliki uslub tersendiri yang berbeda dengan uslub-uslub Arab lainnya, dari segi penulisan, retorika, dan susunan kalimatnya. Uslub\u00a0yang dipakai manusia berbeda satu sama lain sebanyak kuantitas jumlah mereka, bahkan\u00a0uslubyang dipakai seorang akan berbeda\u00a0sesuai dengan tema dan dan konteksnya. Uslub yang baik adalah uslub yang efektif, yaitu uslub yang menimbulkan efek psikologis, bahkan efek artistik (keindahan) sehingga dapat menggerakkan jiwa mukhattab untuk memberikan respon perkataan atau reaksi perbuatan atau kedua-duanya, sesuai yang diinginkan oleh <em>mutakallim<\/em>. Uslub yang efektif atau uslub yang bernilai balaghah adalah uslub yang fasih, serta sesuai dengan satu atau lebih aspek situasi ujaran, yaitu tujuan, mutakallim dan mukhattab dan uslub yang disampaikan mutakallim sesuai dengan tempat dan waktu ujaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Susunan Uslub <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara bahasa\u00a0<em>al-Nazhm<\/em>\u00a0adalah susunan. Sebagaimana yang telah disebutkan di <em>mu\u2019jam al-Wasith<\/em>; <em>Nazhm al-Qur\u2019an<\/em> itu adalah ungkapan-ungkapan yang ada pada mushaf baik dalam aspek\u00a0sighah\u00a0maupun aspeklughah. Sedangkan\u00a0<em>al-Nazhim<\/em>\u00a0dalam istilah nazhm al-Qur\u2019an adalah\u00a0al-Manzh\u00fbm\u00a0(bagian-bagiannya serasi dalam satu keharmonisan).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abdul Q\u00e2hir al-Jurj\u00e2n\u00ee dalam bukunya\u00a0\u201c<em>Dal\u00e2\u2019il al-I\u2019j\u00e2z<\/em>\u201d\u00a0mengemukakan teori tentang\u00a0nazm\u00a0yang terbilang cukup cemerlang.\u00a0Adapun teori tersebut dapat diintisarikan sebagai berikut ini:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Nazm\u00a0adalah saling keterkaitannya antara unsur-unsur kalimat, salah satu unsur dicantumkan atas unsur lainnya, dan salah satu unsur ada disebabkan ada unsur lainnya.<\/li>\n<li>Kata dalam\u00a0nazm\u00a0mengikuti makna, dan kalimat itu tersusun dalam ujaran karena maknanya sudah tersusun terlebih dahulu dalam jiwa.<\/li>\n<li>Kata harus diletakkan sesuai dengan kaidah gramatikanya sehingga semua unsur diketahui fungsi yang seharusnya dalam kalimat.<\/li>\n<li>Huruf-huruf yang menyatu dengan makna, dalam keadaan terpisah, memiliki karateristik tersendiri sehingga semuanya diletakkan sesuai dengan kekhasan maknanya, misalnya huruf\u00a0\u0645\u0627\u00a0\/\u00a0m\u00e2 diletakkan untuk makna negasi (kata sangkalan)\u00a0dalam konteks sekarang\u00a0(h\u00e2l), huruf\u00a0\u0644\u0627\/\u00a0l\u00e2 diletakkan untuk makna negasi dalam konteksfuture (mustaqbal).<\/li>\n<li>Kata bisa berubah dalam bentuk\u00a0ma&#8217;rifah, nakirah, pengedepanan, pengakhiran,\u062d\u0630\u0641\u00a0\/ellipsis,\u00a0dan repetisi. Semua diperlakukan pada porsinya dan dipergunakan sesuai dengan yang seharusnya.<\/li>\n<li>Keistimewaan kata bukan dalam banyak sedikitnya makna tetapi dalam peletakannya sesuai dengan makna dan tujuan yang dikehendaki kalimat.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Jurj\u00e2n\u00ee berpendapat bahwa\u00a0nazm\u00a0adalah\u00a0\u0648\u062b\u064a\u0642 \u0627\u0644\u0627\u0631\u062a\u0628\u0627\u0637 \u0628\u0627\u0644\u0646\u062d\u0648, (terkait erat dengan nahwu\/ tata bahasa). Namun yang dimaksud nahwu di sini bukanlah nahwu yang berkaitan dengan tanda\u00a0<em>rafa\u2019,\u00a0nashab,\u00a0j\u00e2r,\u00a0jazm<\/em>, mendahulukan\u00a0<em>fi\u2019il<\/em>\u00a0sebelum\u00a0<em>maf\u2019\u00fbl<\/em>, dan sebaginya. Tetapi, nahwu yang dimaksud oleh al-Jurj\u00e2n\u00ee adalah\u00a0<em>al-Nahw al-Bal\u00e2ghy<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>al-Bal\u00e2ghah al-Nahwiyyah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Jurj\u00e2n\u00ee mengemukkan contoh kecil yang berkaitan dengan\u00a0nazm, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Swt dalam surat Hud ayat 44.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u0648\u064e\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064f \u0627\u0628\u0652\u0644\u064e\u0639\u0650\u064a \u0645\u064e\u0627\u0621\u064e\u0643\u0650 \u0648\u064e\u064a\u064e\u0627 \u0633\u064e\u0645\u064e\u0627\u0621\u064f \u0623\u064e\u0642\u0652\u0644\u0650\u0639\u0650\u064a \u0648\u064e\u063a\u0650\u064a\u0636\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0627\u0621\u064f \u0648\u064e\u0642\u064f\u0636\u0650\u064a\u064e \u0627\u0644\u0623\u0645\u0652\u0631\u064f \u0648\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0648\u064e\u062a\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u062c\u064f\u0648\u062f\u0650\u064a\u0650\u0651 \u0648\u064e\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u0628\u064f\u0639\u0652\u062f\u064b\u0627 \u0644\u0650\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0638\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e \ufd3f\u0647\u0648\u062f: \u0664\u0664\ufd3e<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya: <em>dan difirmankan: &#8220;Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,&#8221; dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: &#8220;Binasalah orang-orang yang zalim<\/em> .&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang dikemukakan\u00a0al-Jurj\u00e2n\u00ee\u00a0ini adalah hanya sebagian kecil dari maha karyanya yang tersebar dalam berbagai buku. Ia telah menganalisis fungsi bunyi, kata dalam kalimat, dan fungsi semuanya dalam mengantarkan makna. Di dalamnya, diterangkan tentang pemilihan huruf, pemilihan kata, dan fungsinya dalam kalimat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Waq\u2019u al-Usl\u00fbb<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Dalam Al-Qur\u2019an juga terdapat keteraturan bunyi yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika ia mendengar harokat dari sukunnya, mad dan ghunnahnya, fasilah dan maknanya sehingga telinga tidak pernah merasa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang dimaksud dengan\u00a0<em>Waq\u2019u<\/em> <em>al-Usl\u00fbb<\/em>\u00a0menurut Fahd adalah\u00a0<em>nizh\u00e2m al-Usl\u00fbb al-Shout\u00ee<\/em>\u00a0(sistem styles bunyi) dan\u00a0<em>Jam\u00e2l al-Usl\u00fbb al-Lughaw\u00ee<\/em>. Banyak sekali orang yang menulis dua aspek dari uslub al-Qur\u2019an tersebut dengan sebutan\u00a0<em>al-Nazm al-Mus\u00eeq\u00ee, al-Mus\u00eeq\u00e2 al-D\u00e2khiliyyah, al-\u00ceq\u00f4\u2019 al-Mus\u00eeq\u00ee fi al-Qur\u2019an, al-Mus\u00eeq\u00f4 al-B\u00e2thinah<\/em>,\u00a0dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Waqa\u2019 \u201cirama atau ritme\u201d dalam al-Qur\u2019an tidak hanya terdapat satu surat secara utuh, atau pada sejumlah ayat. Tapi, irama dalam al-Qur\u2019an juga terdapat pada satu lafadz.<a name=\"_ftnref15\"><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun contoh al-waqa\u2019 dalam sejumlah ayat bisa kita jumpai pada surat al-Najm ayat 1-22 berikut ini:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u0648\u064e\u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u062c\u0652\u0645\u0650 \u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0647\u064e\u0648\u064e\u0649. \u0645\u064e\u0627 \u0636\u064e\u0644\u0651\u064e \u0635\u064e\u0627\u062d\u0650\u0628\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u063a\u064e\u0648\u064e\u0649. \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0646\u0652\u0637\u0650\u0642\u064f \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0647\u064e\u0648\u064e\u0649. \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0647\u064f\u0648\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627 \u0648\u064e\u062d\u0652\u064a\u064c \u064a\u064f\u0648\u062d\u064e\u0649. \u0639\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e\u0647\u064f \u0634\u064e\u062f\u0650\u064a\u062f\u064f \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0648\u064e\u0649. \u0630\u064f\u0648 \u0645\u0650\u0631\u0651\u064e\u0629\u064d \u0641\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0648\u064e\u0649. \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0623\u0641\u064f\u0642\u0650 \u0627\u0644\u0623\u0639\u0652\u0644\u064e\u0649. \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u062f\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0641\u064e\u062a\u064e\u062f\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649. \u0641\u064e\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0642\u064e\u0627\u0628\u064e \u0642\u064e\u0648\u0652\u0633\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0623\u064e\u062f\u0652\u0646\u064e\u0649. \u0641\u064e\u0623\u064e\u0648\u0652\u062d\u064e\u0649 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u0650\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652\u062d\u064e\u0649. \u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0630\u064e\u0628\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064f\u0624\u064e\u0627\u062f\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0623\u064e\u0649. \u0623\u064e\u0641\u064e\u062a\u064f\u0645\u064e\u0627\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0631\u064e\u0649. \u0648\u064e\u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0631\u064e\u0622\u0647\u064f \u0646\u064e\u0632\u0652\u0644\u064e\u0629\u064b \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u064e\u0649. \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e \u0633\u0650\u062f\u0652\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0646\u0652\u062a\u064e\u0647\u064e\u0649. \u0639\u0650\u0646\u0652\u062f\u064e\u0647\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0629\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0623\u0652\u0648\u064e\u0649. \u0625\u0650\u0630\u0652 \u064a\u064e\u063a\u0652\u0634\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0633\u0650\u0651\u062f\u0652\u0631\u064e\u0629\u064e \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u063a\u0652\u0634\u064e\u0649. \u0645\u064e\u0627 \u0632\u064e\u0627\u063a\u064e \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0635\u064e\u0631\u064f \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0637\u064e\u063a\u064e\u0649. \u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0631\u064e\u0623\u064e\u0649 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064f\u0628\u0652\u0631\u064e\u0649. \u0623\u064e\u0641\u064e\u0631\u064e\u0623\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0644\u0627\u062a\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0632\u0651\u064e\u0649. \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u064e\u0627\u0629\u064e \u0627\u0644\u062b\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u062b\u064e\u0629\u064e \u0627\u0644\u0623\u062e\u0652\u0631\u064e\u0649. \u0623\u064e\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0630\u0651\u064e\u0643\u064e\u0631\u064f \u0648\u064e\u0644\u064e\u0647\u064f \u0627\u0644\u0623\u0646\u0652\u062b\u064e\u0649. \u062a\u0650\u0644\u0652\u0643\u064e \u0625\u0650\u0630\u064b\u0627 \u0642\u0650\u0633\u0652\u0645\u064e\u0629\u064c \u0636\u0650\u064a\u0632\u064e\u0649. \ufd3f\u0627\u0644\u0646\u062c\u0645: 1-22\ufd3e<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Quran sendiri memperhatikan nada dan langgam ketika memilih kata-kata yang digunakannya setelah terlebih dahulu memperhatikan kaitan antara kandungan kata dan pesan yang ingin disampaikannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum seseorang terpesona dengan keunikan atau kemukjizatan kandungan Al-Quran, terlebih dahulu ia akan terpukau oleh beberapa hal yang berkaitan dengan susunan kata-kata dan kalimatnya, antara lain menyangkut nada dan lagamnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun ayat-ayat Al-Quran ditegaskan oleh Allah bukan syair, atau puisi, namun ia terasa dan terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Ini disebabkan karena huruf dari kata-kata yang dipilihnya melahirkan keserasian bunyi, dan kemudian kumpulan kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikianlah masalah nada dan irama Qur\u2019ani. Tanda-tanda pemisah antara ayat yang satu dan ayat yang lain, atau antara kalimat yang satu dan kalimat yang lain, irama Qur\u2019ani tidak terikat sama sekali oleh kaidah atau pola apapun juga yang lazim digunakan dalam puisi Arab. Seni sastra Qur\u2019ani tidak serupa dengan pantun yang harus memenuhi kaidah panjang lebar, tambahan dan ulangan, atau penghapusan huruf dan pengurangannya demi keserasian irama. Sastra al-Qur\u2019an tidak lain adalah suatu gaya bahasa yang membawakan tujuan al-Qur\u2019an selengkapnya, baik yang bernada lembut, keras tenang ataupun nada yang bernada menggelombangkan; baik yang mengalir perlahan maupun yang menggelegak laksana amukan badai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abi Abdullah At Tirmidzi, 2003, <em>Metafora Hikmah<\/em>, Jakarta: Gema Insani Press<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Husein bin Muhammad al-Raghib al-Asfahani. 1997. <em>Mu\u2019jam al-Mufrad\u00e2t li Alf\u00e2dz al-Quran.<\/em> Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Cet ke-1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Jarim, Ali dan Musthafa Usman,\u00a0Al-Balaghah al-Wadhihah,\u00a0(Mesir: Dar al-Ma\u2019arif, 1957)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Jurj\u00e2n\u00ee, Q\u00e2hir,\u00a0Dal\u00e2\u2019il al-I\u2019j\u00e2z,\u00a0(Damaskus: D\u00e2r al-Fikr, 2007), Cet. I,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Rumi, Fahd ibn \u2018Abd al-Rahman,\u00a0Khash\u00e2ish al-Qur\u2019an al-Kar\u00eem,\u00a0(Riyadh: Maktabah al-Taubah, 2000), Cet. X,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Sh\u00e2lih, Subhi,\u00a0Mabahits fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an,\u00a0(Beirut:D\u00e2r al-\u2018Ilm li al-Mal\u00e2y\u00een,\u00a01977),<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">al-Zarqany, Muhammad \u2018Abdul \u2018Azhim,\u00a0Man\u00e2hil al-\u2018Irf\u00e2n fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an,\u00a0(Mesir: D\u00e2r al-Ihya\u2019, t.t.),<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. M.Quraish Syihab, 1996, <em>Wawasan Al-Qur\u2019an Tafsir Maudhu\u2019i atas Pelbagai Persoalan Uma<\/em>t, Mizan: Bandung,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidayat, D.,\u00a0Al-Bal\u00e2ghah li al-Jam\u00ee\u2019 wa al-Syaw\u00e2hid min Kal\u00e2m al-Bad\u00ee\u2019,\u00a0(Semarang: Karya Toha Putra, tt), Cet. I,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibn al-Atsir,\u00a0<em>Al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar<\/em>,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ismail bin Katsir. 1990. <em>Tafs\u00eer al-Quran al-\u2018Adz\u00eem<\/em>. Beirut: Dar al-Jil. Jilid-4.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kementerian Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah, dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia. 1997. <em>al-Quran dan Terjemahnya<\/em>. Medinah al-Munawwarah: Mujamma\u2019 al-Malik Fahd.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keraf, Gorys,\u00a0Diksi dan Gaya Bahasa,\u00a0(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009),<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shehab, Magdy,\u00a0Al-I\u2019j\u00e2z al-Ilmi fi al-Qur\u2019an wa al-Sunnah,\u00a0dalam Syarif Hade Masyah, dkk,Ensiklopedia Mukjizat al-Qur\u2019an dan Hadis; Kemukjizatan Sastra dan Bahasa al-Qur\u2019an,(Bekasi: Sapta Sentosa, 2008), Cet. I, Jilid. VII,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shihab,\u00a0M. Quraish,\u00a0Mukjizat Al-Qur\u2019an diTinjau dari Aspek Kebahasaan, Syarat Ilmiyah dan Pemberitaan Ghaib,\u00a0(Bandung: Mizan, 2008),.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sugono, Dendy, dkk,\u00a0Kamus Bahasa Indonesia,\u00a0(Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2008),<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<table>\n<tbody>\n<tr style=\"text-align: justify;\">\n<td width=\"95\">Penulis<\/td>\n<td width=\"435\">Muhammad Jayus, MHI (Tim Media Online MUI Lampung)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify;\" width=\"95\">Editor<\/td>\n<td width=\"435\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Abdul Qodir Zaelani<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Allah Swt telah menganugerahkan kepada manusia berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":978,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}