{"id":955,"date":"2016-06-28T22:35:16","date_gmt":"2016-06-28T22:35:16","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=955"},"modified":"2016-06-28T22:35:16","modified_gmt":"2016-06-28T22:35:16","slug":"paradigma-wasathiyah-menjadi-ruh-setiap-gerakan-mui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=955","title":{"rendered":"Paradigma \u201cWasathiyah\u201d Menjadi Ruh Setiap Gerakan MUI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-956 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/maruf-Amin-MUI-1.jpg\" alt=\"maruf-Amin-MUI-1\" width=\"620\" height=\"320\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jakarta: Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat KH Ma\u2019ruf Amin menegaskan, paradigma Islam \u201cwasathiyah\u201d harus bisa menjadi ruh dari setiap gerakan MUI di semua tingkatan.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cParadigma wasathiyah dipandang penting seiring dengan semakin kuatnya indikasi bergesernya gerakan keislaman di negeri ini ke kutub ekstrim, baik yang ke kiri ataupun yang ke kanan,\u201d kata KH. Ma\u2019ruf di Jakarta<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pergeseran ke kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme, pluralisme dan sekularisme dalam beragama. Sedangkan pergeseran ke kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPergerakan kedua kutub ini disadari atau tidak, diakui atau tidak, merupakan gambaran pertarungan ideologi global yang menerjang di Indonesia. Dampaknya pertarungan tersebut telah memporak-porandakan bangunan keislaman yang selama ini telah dibangun oleh para ulama terdahulu di negeri ini,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Islam wasathiyah sebagai paradigma perkhidmatan di lingkungan MUI diharapkan bisa mengembalikan gerakan keislaman di Indonesia sebagaimana yang dibangun ulama terdahulu. Yaitu keislaman yang mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeseimbangan (tawazun), lurus dan tegas (i\u2019tidal), toleransi (tasamuh), egaliter (musawah), mengedepankan musyawarah (syura), berjiwa reformasi (islah), mendahulukan yang prioritas (aulawiyah), dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikar), dan berkeadaban (tahadhdhur).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kiai Ma\u2019ruf mengingatkan para pengurus MUI di semua tingkatan agar memahami dan menghayati paradigma Islam wasathiyah ini, sehingga dapat menjadi corong dalam menyampaikannya kepada umat. Setiap pengurus MUI harus mendakwahkan Islam wasathiyah kepada sebanyak mungkin umat Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSecara lebih sistematis, MUI akan menyiapkan kader-kader da\u2019i di seluruh Indonesia untuk menjadi ujung tombak menyebarkan paradigma Islam wasathiyah ini. Sehingga pemahaman keislaman sebagaimana yang telah diletakkan oleh para ulama terdahulu di Indonesia bisa hadir kembali dan menjadi jati diri muslimin di Indonesia,\u201d demikian KH Ma\u2019ruf Amin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber: mui.or.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta: Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat KH Ma\u2019ruf Amin menegaskan, paradigma Islam \u201cwasathiyah\u201d harus bisa menjadi ruh dari setiap gerakan MUI di semua tingkatan.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":956,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/955\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}