{"id":8111,"date":"2018-04-03T21:29:49","date_gmt":"2018-04-03T21:29:49","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=8111"},"modified":"2018-04-03T21:29:49","modified_gmt":"2018-04-03T21:29:49","slug":"mui-dan-pwnu-lampung-puisi-ibu-indonesia-tidak-bernilai-edukasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=8111","title":{"rendered":"MUI dan PWNU Lampung: Puisi \u2018Ibu Indonesia\u2019 Tidak Bernilai Edukasi"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8112 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/sukmawati-soekarnoputri-membacakan-puisi-ibu-indonesia_20180403_095340.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"393\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, menyayangkan puisi berjudul \u2018Ibu Indonesia\u2019 karya Sukmawati Soekarno Putri yang dibacakan pada acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, pada Kamis (29\/3\/2018) lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH seharusnya seorang tokoh dalam mengeluarkan opini, pandangan bahkan puisi sekalipun harus memperhatikan efek yang ditimbulkan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBanyak fenomena saat ini yang menimbulkan efek problem di masyarakat. Seharusnya ibu Sukma bisa lebih memperhatikan itu, jangan sampai urusan insaniah menabrak urusan Ilahiah,\u201d kata Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menuturkan, perbandingan yang disebutkan dalam puisi tersebut sangat tidak sesuai. \u201cPuisi itu perkara seni, konde itu soal budaya, dan itu masuk dalam urusan insani, sedangkan azan, cadar dan syariat, itu urusan agama, jangan dicampur aduk, sehingga menimbulkan problematika seperti saat ini,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Senada, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Moh Mukri, M.Ag mengatakan, puisi \u2018Ibu Indonesia\u2019 yang dibacakan oleh Sukmawati sama sekali tidak memiliki nilai edukasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApa yang disampaikannya lewat puisi tersebut, tidak mencerminkan Kebhinekaan Indonesia. Kita semua paham Indonesia ini memiliki semangat saling menghargai yang tinggi, namun dengan adanya puisi tersebut, malah menyulut perpecahan bukannya persatuan. Seharusnya Sukmawati belajar dari pendahulunya yang sangat menghargai perbedaan di Indonesia,\u201d ucap Mukri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan Sukmawati yang tidak mengerti syariat Islam lanjut Mukri, itu persoalan pribadinya. \u201cSeharusnya jika tidak mengerti maka jangan bicara, bukan malah membanding-bandingkan. Ini sangat mengganggu persatuan dan kesatuan yang terus kita bina,\u201d kata dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prof. Dr. H. Moh Mukri, M.Ag juga menghimbau kepada masyarakat dan warga Nahdliyin Lampung khususnya, untuk tidak terpancing. \u201cTetap sejuk dan damai, kita warga NU sangat mencintai kedamaian, jangan sampai terpancing emosinya, sehingga nanti malah dimanfaatkan oleh kepentingan suatu pihak,\u201d himbaunya. (Andira Putri Isnaini)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, menyayangkan puisi berjudul \u2018Ibu Indonesia\u2019 karya Sukmawati Soekarno Putri yang dibacakan pada acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, pada Kamis (29\/3\/2018) lalu. Menurut Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH seharusnya seorang tokoh dalam mengeluarkan opini, pandangan bahkan puisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8112,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-8111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8111"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8111\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}