{"id":7339,"date":"2018-01-09T05:35:32","date_gmt":"2018-01-09T05:35:32","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=7339"},"modified":"2018-01-09T05:35:32","modified_gmt":"2018-01-09T05:35:32","slug":"manfaatkan-anugerah-rezeki-dari-allah-untuk-beribadah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=7339","title":{"rendered":"Manfaatkan Anugerah Rezeki dari Allah untuk Beribadah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7340\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2018\/01\/26195628_10210627688397517_8334252358567529785_n.jpg\" alt=\"\" width=\"917\" height=\"569\" \/><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pringsewu:<\/strong> Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH. Sujadi mengajak umat Islam untuk memanfaatkan anugerah dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk beribadah dan berjuang di jalan-Nya. Ajakan tersebut disampaikannya saat mengupas tafsir Surat Al-\u2018Adiyat pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di gedung PCNU Pringsewu, Ahad (7\/1).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Allah telah memberikan contoh kesungguhan hewan kuda dalam berjuang membantu perjuang<span class=\"text_exposed_show\">an Nabi Muhammad SAW. Kuda merupakan hewan yang spesial dalam ikut menyukseskan perjuangan Nabi mensyiarkan Islam di penjuru negeri sampai-sampai Allah SWT bersumpah dengan hewan ini.<\/span><\/p>\n<div class=\"text_exposed_show\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>&#8220;Dalam surat tersebut digambarkan perjuangan sungguh-sungguh tak kenal lelah dari hewan kuda sampai terengah-engah. Ini contoh bagi kita manusia yang terkadang pura-pura terengah-engah karena biar terlihat benar-benar telah melakukan perjuangan,&#8221; kata Bupati Pringsewu ini.<\/p>\n<p>Dalam kaitan kekinian, kuda bisa disamakan dengan kendaraan seperti mobil, motor maupun sepeda yang digunakan untuk alat berjuang mensyiarkan Islam di zaman sekarang.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau dulu tujuan memiliki dan memelihara kuda adalah untuk menakut-nakuti musuh Allah. Untuk menunjukkan bahwa Islam itu, selain banyak, juga siap beribadah dan berjuang. Seperti terlihat dari jamaah shalat yang lurus dan patuh terhadap komando,&#8221; kata pria akrab disapa Abah Sujadi ini sembari menambahkan, tugas utama di dunia adalah beribadah.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, Abah Sujadi mengatakan bahwa semakin tambah fasilitas dari Allah yang diberikan kepada manusia selama hidup di dunia seharusnya diiringi dengan semakin tambahnya ibadah kepada Alllah SWT.<\/p>\n<p>&#8220;Memang sudah fitrah manusia mencintai dunia. Namun perlu diingat bahwa dunia ada batasnya. Silakan senang dunia, tapi jangan lupa dengan Allah SWT,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Saat ini, tambah Abah Sujadi, dunia memang semakin menarik manusia untuk lupa dengan akhirat. Berbagai perkembangan teknologi semakin membuat manusia mudah terperosok kedalam berbagai macam dosa.<\/p>\n<p>&#8220;Saat ini sudah zamannya orang mudah berbuat dosa melalui media sosial. Malah bagi sebagian oknum berbuat dosa dengan menjelekkan orang di media sosial menjadi komoditas yang menguntungkan secara finansial,&#8221; katanya prihatin melihat para buzzer yang bekerja menyebarkan berbagai berita hoaks, ujaran kebencian sesuai dengan pesanan.<\/p>\n<p>Seharusnya, sambung dia, tindakan buzzer ini tidak dilakukan oleh orang Islam. Tindakan menviralkan kejelekan orang lain dan berita yang tidak benar sama dengan menjelekkan diri sendiri.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pringsewu: Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH. Sujadi mengajak umat Islam untuk memanfaatkan anugerah dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk beribadah dan berjuang di jalan-Nya. Ajakan tersebut disampaikannya saat mengupas tafsir Surat Al-\u2018Adiyat pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di gedung PCNU Pringsewu, Ahad (7\/1). Allah telah memberikan contoh kesungguhan hewan kuda dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7340,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,45],"tags":[],"class_list":["post-7339","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-ormas-dan-pesantren"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7339","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7339"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7339\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7339"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7339"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7339"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}