{"id":6379,"date":"2017-10-21T01:06:49","date_gmt":"2017-10-21T01:06:49","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=6379"},"modified":"2017-10-21T01:06:49","modified_gmt":"2017-10-21T01:06:49","slug":"santri-sebagai-salah-satusolusi-pembenahan-karakter-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=6379","title":{"rendered":"Santri Sebagai Salah Satu Solusi Pembenahan Karakter Bangsa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-6380\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Hari-Santri-Nusantara.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Jakarta: <\/strong>Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Preside nNomor 22 Tahun 2015. Sejak itu, setiap tahun masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri. Sebagaimana tanggal-tanggal yang ditetapkan oleh pemerintah untuk diperingati secara nasional, Hari Santri merupakan penghormatan pemerintah terhadap fatwa ulama untuk bela negara. (22\/10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat itu, Indonesia yang baru merdeka harus menghadapi Inggris dan Belanda, sehingga KH Hasyim Asy\u2019ari mengeluarkan Resolusi Jihad bahwa membela Negara adalah jihad. \u201cDengan semangat itulah para pejuang dan rakyat Surabaya bertempur melawan sekutu dengan gagah berani,\u201d ujar Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keppres tersebut member pengakuan bahwa ulama dan para santri berperan besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Penetapan Hari Santri sekaligus untuk mengenang, menela dani dan melanjutkan peran ulama dan santri dalam membangun bangsa dan negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semangat Hari Santri menurut Chriswanto masih relevan untuk saat ini. Pasalnya, Indonesia sedang bermasalah dengan karakter moral bangsa, \u201cBanyaknya korupsi dan dampak Pilkada yang berlarut-larut, menampakkan bangsa ini memuja demokrasi tapi tak bisa menerima hasilnya,\u201d imbuh Chriswanto. Pemimpin yang jujur dan amanah sulit ditemukan, maka menurutnya bila bangsa dan negara bermasalah dengan moralitas, resolusi jihad menjadi sangat relevan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Resolusi jihad merupakan pembentukan santri-santri yang memiliki karakter moral yang mulia, mampu jujur, amanah, kerja keras dan hemat (mujhid muzhid), rukun, kompak, dan mampu bekerja sama dengan baik. Dengan adanya santri-santri yang berakhlak mulia, merupakan modal yang kuat dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, \u201cDengan demikian perjuangan pondok pesantren dalam mengisi pembangunan tak pernah habis karena selaras dengan perkembangan dan kebutuhan zaman. Dalam program kerja LDII, pesantren harus menghasilkan santri atau alumni yang profesional religius,\u201d imbuh Chriswanto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menghasilkan santri yang memiliki karakter akhlak yang mulia, kurikulum pesantren selayaknya tidak sekadar teori namun juga praktik, yang mendorong psikomotorik para santri dalam mempraktikkan ajaran-ajaran Allah dan Rasulullah SAW. Para santri bisa melakukan aksi yang afirmatif terhadap segala persoalan bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Chriswanto, di sinilah peran besar para guru pesantren dalam menghasilkan santri yang berkarakter. Chriswanto mengingatkan, santri yang hebat hanya lahir dari para guru yang hebat. Untuk itu ia mengingatkan agar guru-guru pondok pesantren di Indonesia tidak terkontaminasi sikap pragmatis dalam hal politik dan ekonomi, \u201cPara guru harus kembali kepada ajaran Islam, dengan berprilaku sesuai tuntunan Allah dan Rasul. Para guru tidak hanya pencitraan dan hanya bisa membuat instruksi, tapi memberi contoh,\u201d ujar Chriswanto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, para guru harus mampu membuat kurikulum yang tidak hanya belajar kitab, namun sekaligus mengimplementasikan kandungan dan makna Alquran dan Alhadits, agar para santri bisa mengimplementasi secara afektif dan psikomotorik, \u201cUntuk itu guru-guru di pesantren harus terus meningkatkan kualitas dirinya, dalam bidang keilmuan maupun karakter. Sebab guru yang berkualitas mampu menghasilkan santri yang berkarakter,\u201d imbuh Chriswanto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merujuk soal kurikulum, Fitriyanto, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Gadingmangu, Jombang, Jawa Timur menyebut pesantren-pesantren yang bekerja sama dengan LDII selalu mengedepankan pembentukan karakter. Para santri itu, selain belajar Alquran dan Alhadist juga ditanamkan rasa kepedulian sosial yang tinggi, \u201cAgar mereka tak hanya menjadi pribadi yang saleh tapi juga berguna di lingkungannya,\u201d papar Fitri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembentukan karakter mulia itu dipraktikkan para santri dengan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar pesantren, \u201cDengan total santri mencapai 7.000 lebih, santri yang tinggal di pesantren atau kos, memiliki kegiatan rutin setiap sore membersihkan pekarangan warga. Mereka juga terlibat kerja bakti dalam pembangunan masjid maupun sarana umum lainnya,\u201d imbuh Fitri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka dalam keseharian diajarkan melayani tamu \u2013 yang silih berganti berkunjung ke pesantren \u2013 juga menghormati orang tua. Hal-hal kecil itu dibiasakan di terhadap santri, namun memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter para santri, sebagai generasi emas Indonesia di masa mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Senada dengan Chriswanto, KH Ubaidillah Alhasaniy, Ketua Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono, Jombang, Jawa Timur mengatakan bangsa Indonesia saat ini sangat bermasalah dengan kejujuran, \u201cSangat sulit mencari pemimpin yang jujur dan amanah,\u201d tukas KH Ubaidillah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian Indonesia membutuhkan SDM yang berkarakter jujur dan amanah, \u201cRuang yang kosong inilah yang harus diisi oleh para santri yang memiliki karakter yang unggul,\u201d papar KH Ubaidillah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">KH Ubaidillah menuturkan membentuk santri yang berkarakter dimulai dengan kesuksesan belajar di pesantren. Pondasi ilmu agama yang bagus, akan terus berlanjut ketika para santri menempuh pendidikan formal, \u201cKarakter profesionalnya didukung dengan pondasi agama yang kuat atau profesional religius, membuatnya dibutuhkan siapa saja,\u201d imbuh KH Ubaidillah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut kyai asal Gresik itu, sukses sebagai profesional itu membuat santri mudah memperoleh mata pencaharian, dan tentu saja kian mudah dalam membangun keluarga. Di sinilah letak strategis santri yang memiliki akhlak mulia, \u201cMereka dalam membina rumah tangga tentu melahirkan generasi penerus yang unggul, terdidik dengan karena memiliki orangtua yang berkarakter mulia,\u201d papar KH Ubaidillah. Generasi penerus inilah yang bakal mengisi kemerdekaan dengan karya dan prestasi. (Frediansyah Firdaus)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta: Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Preside nNomor 22 Tahun 2015. Sejak itu, setiap tahun masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri. Sebagaimana tanggal-tanggal yang ditetapkan oleh pemerintah untuk diperingati secara nasional, Hari Santri merupakan penghormatan pemerintah terhadap fatwa ulama untuk bela negara. (22\/10). Saat itu, Indonesia yang baru merdeka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6380,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-6379","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6379","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6379"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6379\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6379"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6379"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6379"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}