{"id":5231,"date":"2017-07-22T06:24:29","date_gmt":"2017-07-22T06:24:29","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=5231"},"modified":"2017-07-22T06:24:29","modified_gmt":"2017-07-22T06:24:29","slug":"kerendahan-hati-harus-jadi-modal-dalam-beradu-argumen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=5231","title":{"rendered":"Kerendahan Hati Harus Jadi Modal dalam Beradu Argumen"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5232\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/20264684_10209439732619365_8928408308664814832_n.jpg\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"540\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung: <\/strong>Sebagian orang menilai berdebat (jadal) merupakan hal yang harus dihindari terlebih mempermasalahkan masalah khilafiyah. Namun bagi sebagian orang berdebat dapat menjadi wahana untuk memperkaya diri dengan pengetahuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Berdebat bukan untuk kalah atau menang. Berdebat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan,&#8221; demikian dikatakan akademisi Mohammad Syifa saat menjelaskan \u201cEtika Debat dan Dialog dalam Tradisi Keilm<span class=\"text_exposed_show\">uan Islam dan Aplikasinya di Masa Kini\u201d, di Hotel Kurnia Bandar Lampung, Jumat (21\/7).<\/span><\/p>\n<div class=\"text_exposed_show\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Alumnus Department of Religious Studies Indiana University-Bloomington Indiana USA ini mengingatkan bahwa dalam berdebat hendaknya mengedepankan kemampuan pemahaman terhadap materi yang didebatkan. Emosi bisa saja dan sering muncul saat seseorang sudah tidak bisa lagi mengeluarkan argumen untuk mendukung pendiriannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ketika emosi muncul saat berdebat, maka itulah sebenarnya seseorang sudah kalah dalam berdebat,&#8221; jelas pria yang pernah menjadi pengurus PCINU AS-Kanada dan saat ini tinggal di Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga mengingatkan bahwa dalam berdebat hendaklah mengedepankan hikmah dan mauidzatul hasanah. Dalam berdebat juga harus mengedepankan kerendahan hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Berdebat harus mengedepankan kerendahan hati. Ini modal ukhuwah dengan orang lain. Jangan menganggap semua salah dan sayalah yang benar. Yang pasti hanya dari Allah,&#8221; ingatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerendahan hati ini sudah dicontohkan oleh para ulama dalam etika berpendapat dan berdebat. Mereka selalu menyampaikan kalimat &#8220;wallahualm bisshowab&#8221; sebagai penutup pendapat mereka walaupun sudah melalui pemahaman yang mendalam dan sungguh-sungguh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini disampaikannya di depan peserta Workshop Multikulturalisme Intern Ummat Islam yang dilaksanakan oleh Kanwil Kementerian Agama Lampung. Kegiatan bertema \u201cMemperkokoh Ukhuwah dan Sinergi dalam Dakwah ini dilaksanakan selama 3 hari dari 20-22 Juli 2017. (Rudi Santoso)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Sebagian orang menilai berdebat (jadal) merupakan hal yang harus dihindari terlebih mempermasalahkan masalah khilafiyah. Namun bagi sebagian orang berdebat dapat menjadi wahana untuk memperkaya diri dengan pengetahuan. &#8220;Berdebat bukan untuk kalah atau menang. Berdebat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan,&#8221; demikian dikatakan akademisi Mohammad Syifa saat menjelaskan \u201cEtika Debat dan Dialog dalam Tradisi Keilmuan Islam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5232,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-5231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5231"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5231\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}