{"id":5228,"date":"2017-07-21T00:07:06","date_gmt":"2017-07-21T00:07:06","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=5228"},"modified":"2017-07-21T00:07:06","modified_gmt":"2017-07-21T00:07:06","slug":"islam-wasathiyah-sebagai-corak-faham-keagamaan-mainstream-umat-islam-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=5228","title":{"rendered":"Islam Wasathiyah Sebagai Corak Faham Keagamaan Mainstream Umat Islam di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5229\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/20246383_1367725513274668_8838015473588442943_n.jpg\" alt=\"\" width=\"757\" height=\"423\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung gelar silaturahmi dan dialog ormas Islam yang di laksanakan pada, Kamis (20\/07\/2017) di Aula MCC Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Acara yang mengusung tema \u201cmengembangkan Islam wasathiyah untuk meneguhkan komitmen bersama terhadap Pancasila dan NKRI\u201d ini dihadiri berbagai ormas (organisasi masyarakat) Islam, diataranya yakni NU, Muhammadiyah, LDII, Fatayat, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. KH. Khairuddin Tahmid, M.H., Ketua Umum MUI Provinsi Lampung yang juga sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyampaikan bahwa dalam mempromosikan Islam wasathiyah untuk meneguhkan Pancasila dan NKRI, MUI memiliki peran strategis diantaranya adalah MUI sebagai pewaris tugas para Nabi (<em>Warasatul anbiya<\/em>), pemberi fatwa (<em>mufti)<\/em>, pembimbing dan pelayan umat (<em>khadimul ummah<\/em>), penegak <em>amar ma\u2019ruf nahi munkar<\/em>, pelopor gerakan pembaruan (<em>al-tajdid<\/em>), serta sebagai pelopor gerakan perbaikan dan perdamaian (<em>ishlah<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, menurut Dr. KH. Khairuddin Tahmid, M.H., Islam yang <em>rahmatan lil\u2019alamin<\/em> adalah Islam yang <em>wasathiyah<\/em> (tengah-tengah), Islam yang tidak membelok ke kiri maupun ke kanan. Islam <em>wasathiyah<\/em> adalah Islam yang bersifat <em>Inklusif <\/em>(terbuka), mempunyai prinsip, namun menghargai perbedaan. Bukan bersifat <em>eksklusif<\/em> (tertutup), yang tidak mentolerir jika ada suatu perbedaan. Dalam berijtihad menurutnya, tidak ada kebenaran yang mutlak, namun bersifat relatif. Oleh karena itu, tidak boleh suatu golongan merasa bahwa pendapatnya yang paling benar, apalagi sampai menyalahkan pendapat lain. Hal inilah yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paradigma Islam wasathiyah inilah yang sesuai dan menjadi corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia. Islam <em>wasathiyah<\/em> identik dengan kaum muslimin yang disebut sebagi <em>\u2018ummatan wasathan\u2019<\/em> (Qur\u2019an 2:143). Umat seperti inilah yang dapat dan mampu menjadi saksi kebenaran bagi manusia lain. Yakni ummat yang selalu menjaga keseimbangan, tidak terjerumus ke ekstrimisme kiri atau kanan. (Dewi Yulianti)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung gelar silaturahmi dan dialog ormas Islam yang di laksanakan pada, Kamis (20\/07\/2017) di Aula MCC Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Acara yang mengusung tema \u201cmengembangkan Islam wasathiyah untuk meneguhkan komitmen bersama terhadap Pancasila dan NKRI\u201d ini dihadiri berbagai ormas (organisasi masyarakat) Islam, diataranya yakni NU, Muhammadiyah, LDII, Fatayat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5229,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-5228","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5228","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5228"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5228\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}