{"id":4619,"date":"2017-05-12T22:35:31","date_gmt":"2017-05-12T22:35:31","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=4619"},"modified":"2017-05-12T22:35:31","modified_gmt":"2017-05-12T22:35:31","slug":"kh-munawir-hti-tidak-sesat-tapi-tidak-tepat-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=4619","title":{"rendered":"KH Munawir : &#8220;HTI Tidak Sesat, Tapi Tidak Tepat Di Indonesia&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-4620 aligncenter\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/FB_IMG_1494466443717-1.jpg\" alt=\"\" width=\"537\" height=\"346\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pringsewu:<\/strong> Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi\u00a0Lampung KH. Munawir mengatakan bahwa pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia\u00a0(HTI) oleh Pemerintah Republik Indonesia sudah tepat. Hal ini tentunya\u00a0telah melewati berbagai macam kajian komprehensif dengan pertimbangan yang\u00a0sudah matang.<\/p>\n<p>&#8220;HTI tidak sesat. Tapi tidak tepat di Indonesia,&#8221; tegasnya seraya\u00a0mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah Darul Islam (Negara Islam) namun\u00a0Darussalam (Negara Keselamatan), Rabu (10\/5\/2017).<\/p>\n<p>Ia mengingatkan juga bahwa HTI selama ini tidak memiliki peran dan\u00a0sumbangsih ikut berjuang melawan penjajah di zaman kemerdekaan. Mereka\u00a0bukan seperti ormas lainnya seperti NU yang telah jelas nyata mewujudkan\u00a0kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Begitu mudahnya mereka datang tidak ikut berjuang, tiba-tiba ingin\u00a0mengganti ideologi Indonesia dengan sistem khilafah yang sudah dilarang\u00a0dibanyak negara,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa Pancasila dan NKRI adalah harga mati dan sudah final.\u00a0Menurutnya tidak perlu ada wacana-wacana khilafah di Indonesia. &#8220;Jangankan\u00a0di Indonesia, di negara Timur Tengah HT itu sudah ditolak,&#8221; tegasnya\u00a0sembari menilai bahwa pelarangan HTI di Indonesia\u00a0 menurutnya agak\u00a0terlambat dibanding negara-negara lain.<\/p>\n<p>Gus Nawir, begitu Kiai muda ini biasa disapa merasa heran ada saja orang\u00a0Indonesia terpedaya ikut-ikut Organisasi terlarang ini. Bergabungnya mereka\u00a0ini sama saja telah mengkhianati Pancasila<\/p>\n<p>&#8220;Orang-orang ini tidak sadar bahwa mereka sedang menghancurkan negara\u00a0sendiri dengan ideologi\u00a0 HTI dengan dalih menegakkan ajaran agama,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Gus Nawir mengatakan bahwa Hizbut secara ekstrim mewajibkan\u00a0khilafah dan apabila tidak menggunakan sistem tersebut adalah dosa besar.\u00a0Sementara kajian lain dari Imam Ghazali dalam Al Iqtishad Fi Al I&#8217;tiqad\u00a0halaman 200 menyebutkan bahwa mengatakan bahwa Kajian tentang khilafah\u00a0tidak penting, dan lebih selamat tidak mengkajinya. (Muhammad Faizin)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pringsewu: Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi\u00a0Lampung KH. Munawir mengatakan bahwa pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia\u00a0(HTI) oleh Pemerintah Republik Indonesia sudah tepat. Hal ini tentunya\u00a0telah melewati berbagai macam kajian komprehensif dengan pertimbangan yang\u00a0sudah matang. &#8220;HTI tidak sesat. Tapi tidak tepat di Indonesia,&#8221; tegasnya seraya\u00a0mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah Darul Islam (Negara Islam) namun\u00a0Darussalam (Negara Keselamatan), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4620,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-4619","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4619"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4619\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}