{"id":4157,"date":"2017-03-26T04:12:21","date_gmt":"2017-03-26T04:12:21","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=4157"},"modified":"2017-03-26T04:12:21","modified_gmt":"2017-03-26T04:12:21","slug":"prof-dr-ir-hasriadi-mat-akin-m-p-lampung-lebih-dikenal-sebagai-indonesia-mini-karena-keanekaragaman-kultural","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=4157","title":{"rendered":"Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P : \u201cLampung Lebih Dikenal Sebagai Indonesia Mini Karena Keanekaragaman Kultural\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-4158\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/P_20170324_144655.jpg\" alt=\"\" width=\"3264\" height=\"2448\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Universitas Lampung (UNILA) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menandatangani MoU. MoU dilaksanakan di gedung Rektorat lantai 2, Jum\u2019at (24\/3\/2017).<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P mengatakan dalam sambutannya \u00a0Lampung lebih dikenal sebagai Indonesia mini karena keanekaragaman kultural yang ada di Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDari sabang sampai marauke, semua etnis di Indonesia ada di Lampung, keberagaman ini menjadi salah satu ciri khas Lampung untuk hidup bersama secara harmonis. Dan dengan adanya keberagaman ini konflik antara etnis tidak perlu lagi terjadi di Lampung, semua hidup berdampingan untuk kemajuan Lampung yang sejahtera,\u201d kata Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P yang juga Dewan Pertimbangan MUI Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDan rencana pendirian Kantor Perwakilan Komnas HAM Lampung saya menilai sangat tepat, karena dapat mewujudkan Lampung sebagai daerah yang utuh, bersatu, harmonis, hidup rukun dengan penuh toleransi,\u201d tutur Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roichatul Aswidah Komisioner KOMNAS HAM mengatakan Komnas HAM adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLampung merupakan salah satu wilayah yang rawan terhadap terjadinya konflik social, agraria, dan Industrial. Fenomena ini menyebabkan potensi terjadinya pelanggaran HAM. Berbagai peristiwa di Lampung terekam dengan baik oleh banyak pihak,\u201d kata Roichatul Aswidah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Roichatul Aswidah menambahkan untuk itu, merespon surat Gubernur Lampung dengan melakukan serangkaian proses menuju pembentukan Kantor Perwakilan Komnas HAM Lampung. Diskusi Publik ini merupakan salah satu langkah\u00a0 memulai tahapan tersebut. Hal ini sangat penting agar Kantor Perwakilan Komnas HAM Lampung bisa berjalan secara optimal seperti tujuan yang di rencanakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH Ketua Umum MUI Lampung mengatakan rencana pembentukan Kantor Perwakilan Komnas HAM Lampung adalah wujud dari kepedulian penggiat HAM dan berbagai unsur elemen masyarakat di Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya sangat mengapresiasi karena rencana pembentukan ini dimulai dari komunikasi, sehingga argumentasi politik, yuridis dan sosiologis dapat menyoroti pentingnya pembentukan Kantor Perwakilan Komnas HAM Lampung,\u201d kata Dr. KH. Khairuddin Tahmid, MH yang juga Wakil Dekan Fakultas Syari\u2019ah dan Hukum IAIN Raden Intan Lampung. (Rudi Santoso)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Universitas Lampung (UNILA) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menandatangani MoU. MoU dilaksanakan di gedung Rektorat lantai 2, Jum\u2019at (24\/3\/2017).<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4158,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-4157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}