{"id":3176,"date":"2017-01-08T00:56:42","date_gmt":"2017-01-08T00:56:42","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=3176"},"modified":"2017-01-08T00:56:42","modified_gmt":"2017-01-08T00:56:42","slug":"hengky-anggara-launching-buku-terbarunya-1-setengah-jam-belajar-membaca-al-quran-metode-madlayyin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=3176","title":{"rendered":"Hengky Anggara, Launching Buku Terbarunya \u201c1 Setengah Jam Belajar Membaca al-Qur\u2019an Metode Madlayyin\u201d  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-3177\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/IMG-20170108-WA0006_1.jpg\" alt=\"\" width=\"932\" height=\"592\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bandar Lampung: Hengky merupakan mahasiswa jurusan tafsir hadits IAIN Raden Intan Lampung yang cukup produktif dalam menulis. Beberapa waktu lalu, mantan PRESMA (Presiden Mahasiswa) IAIN Raden Intan Lampung periode 2015-2016 ini telah melaunchingkan karya terbarunya sebuah buku tentang metode dalam pembelajaran tajwid dengan judul\u00a0 \u201c1 Setengah Jam Belajar Membaca al-Qur\u2019an Metode Madlayyin\u201d.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buku kali ini merupakan karya kelima dari lima buku yang telah ditulisnya, yaitu, Cuma 15 Menit,\u00a0 Berbisnis dengan Allah, Dimanakah Politik Sejati, Hanya sebuah Metoda, dan Satu Setengah Jam Belajar Membaca al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tidak pernah mengagendakan dalam pembuatan buku ini. Ini terinspirasi\u00a0 ketika saya melihat mahasiswa yang belajar di teras KMPA (Komunitas Mahasiswa Pecinta al-Qur\u2019an) juga anak-anak di\u00a0 TPA rata-rata mengalami kesulitan untuk memahami hukum-hukum tajwid. Oleh karena itu, saya berinisiatif untuk menciptakan sebuah metode mengajar tajwid yang dapat mudah di pahami,\u201d tutur Hengki kepada Media Online MUI Lampung saat ditemui pada, Kamis (5\/1\/2017).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hengky menjelaskan bahwa pengalaman mengajar itulah yang menyebabkan ia terus berfikir untuk menemukan metode baru yang mudah untuk dipahami oleh orang yang belajar tajwid baik kalangan muda maupun tua. Pada akhirnya ia mencetuskan sebuah metode baru yang disebut dengan metode \u2018mad layyin\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBanyak teman-teman yang paham teori namun dalam praktiknya tidak, atau praktik bisa namun tidak paham teori. Nah saya ingin menyinkronkan kedua hal ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa namanya metode mad layyin?\u00a0 Menurut penuturan Hengky, mad layyin ini secara bahasa maknanya lunak\/ lembut\/lentur.\u00a0 Ia menamai metode itu supaya orang dalam mencerna ilmu itu mudah dan gampang seperti makna madlayyin. Sementara \u20181 setengah jam\u2019, itu bukan berarti tuntutan untuk bisa baca al-Qur\u2019an dalam waktu satu setengah jam. Namun itu diambil karena rata-rata dalam mengajar Hengky menghabiskan waktu 1 setengah jam. Saat ini sudah ada beberapa TPA di sekitar Bandar Lampung , Pringsewu, dan Pesawaran yang sudah rekomendid untuk memesan buku metode mad layyin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSetelah membaca buku ini saya berharap orang semakin yakin kalau belajar al-Qur\u2019an itu mudah, hilangkan prinsip belajar susah,selain itu orang punya gambaran tentang belajar dan mengajarkan dengan menggunakan metode yang mudah, efektif dan efisien,\u201d pungkasnya. (Dewi Yulianti)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Hengky merupakan mahasiswa jurusan tafsir hadits IAIN Raden Intan Lampung yang cukup produktif dalam menulis. Beberapa waktu lalu, mantan PRESMA (Presiden Mahasiswa) IAIN Raden Intan Lampung periode 2015-2016 ini telah melaunchingkan karya terbarunya sebuah buku tentang metode dalam pembelajaran tajwid dengan judul\u00a0 \u201c1 Setengah Jam Belajar Membaca al-Qur\u2019an Metode Madlayyin\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3177,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-3176","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3176"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3176\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}