{"id":2978,"date":"2016-12-24T13:41:12","date_gmt":"2016-12-24T13:41:12","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=2978"},"modified":"2016-12-24T13:41:12","modified_gmt":"2016-12-24T13:41:12","slug":"dirut-bprs-perbedaan-mendasar-antara-mudharobah-dan-musyarokah-setidaknya-dilihat-dari-4-aspek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=2978","title":{"rendered":"Dirut BPRS: \u201cPerbedaan Mendasar Antara Mudharobah Dan Musyarokah Setidaknya Dilihat Dari 4 Aspek\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2979\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/12\/15672543_1171395839574304_2204625029391886618_n.jpg\" alt=\"\" width=\"960\" height=\"640\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Berbicara mengenai akad di Perbankan Syariah tentu khalayak umum sudah tidak asing dengan istilah <em>mudharobah <\/em>dan <em>musyarokah<\/em>, keduanya merupakan bentuk kerjasama dengan sistem bagi hasil, tetapi antara keduanya memiliki konsep berbeda yang masih belum banyak diketahui oleh khalayak umum.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ridwansyah, S.E., M.E.Sy., CIRBD\u00a0 Direktur Utama BPRS kota Bandar Lampung sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Raden Intan Lampung dalam Praktikum Penyusunan Kontrak Bisnis Syariah yang diadakan oleh Jurusan Muamalah FSH IAIN Raden Intan ini menjelaskan lebih lanjut tentang konsep <em>mudharobah <\/em>dan <em>musyarokah. <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Perbedaan mendasar antara <em>mudharobah <\/em>dan <em>musyarokah<\/em> setidaknya dilihat dari 4 aspek,\u201d ujarnya (Sabtu, 17\/12\/2016)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama, dari segi modal, pada akad <em>mudharobah<\/em> Perbankan Syari\u2019ah memberikan modal untuk memulai usaha secara total kepada nasabah, sedangkan pada akad <em>musyarokah<\/em> bank hanya memberikan sebagian modal kepada nasabah sebagai tambahan untuk modal usaha yang telah dimiliki sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, dari segi bagi hasil, prinsip bagi hasil pada akad <em>mudharobah<\/em> sesuai dengan kesepakatan di awal\u00a0 sedangkan pada akad <em>musyarokah <\/em>prinsip bagi hasil sesuai kesepakatan dengan dipengaruhi perbandingan modal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga dari segi pengelola, pada akad <em>mudharobah<\/em> usaha sepenuhnya dikelola oleh mudharib (nasabah) sedangkan bank tidak ikut serta dalam pengelolaan, hanya memberikan modal saja. Sedangkan pada akad <em>musyarokah<\/em> usaha dikelola bersama-sama, bank selain memberi tambahan modal juga boleh ikut serta mengelola usaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keempat dari segi kerugian, pada akad <em>mudharobah <\/em>kerugian 100% ditanggung oleh Bank selama kerugian tersebut bukan atas kelalaian dari mudharib atau nasabah sebagai pengelola usaha. Sedangkan pada akad <em>musyarokah<\/em> Bank hanya bertanggung jawab atas kerugian sebesar modal yang diberikan kepasa nasabah. (Nur Fatmawati Anwar)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Berbicara mengenai akad di Perbankan Syariah tentu khalayak umum sudah tidak asing dengan istilah mudharobah dan musyarokah, keduanya merupakan bentuk kerjasama dengan sistem bagi hasil, tetapi antara keduanya memiliki konsep berbeda yang masih belum banyak diketahui oleh khalayak umum.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2979,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-2978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2978"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2978\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}