{"id":2444,"date":"2016-11-09T02:36:04","date_gmt":"2016-11-09T02:36:04","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=2444"},"modified":"2016-11-09T02:36:04","modified_gmt":"2016-11-09T02:36:04","slug":"dirjen-pendis-ada-beberapa-perbedaan-aicis-2016-dengan-aicis-sebelumnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=2444","title":{"rendered":"Dirjen Pendis: \u201cAda Beberapa Perbedaan AICIS 2016 dengan AICIS Sebelumnya\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2438\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/15032810_1123122891068266_9180202151618407224_n.jpg\" alt=\"15032810_1123122891068266_9180202151618407224_n\" width=\"960\" height=\"640\" \/>Bandar Lampung:<\/strong> Forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang dilaksanakan pada 1-4 November 2016 resmi ditutup. Penutupan forum diskusi internasional ini dilaksanakan di GSG (Gedung Serba Guna) IAIN Raden Intan Lampung, Kamis sore (3\/11\/16).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Amsal Bakhtiar mengatakan, pengadaan AICIS kali ini sangat berbeda dengan AICIS yang diadakan sebelumnya. Menurutnya ada beberapa poin perbedaan, yang pertama menurutnya adalah AICIS kali ini baru kali pertama diadakan di kampus. Ia mengatakan ACIS sebelumnya selalu diadakan di hotel. Ia juga memuji kampus IAIN Raden Intan Lampung\u00a0 dikatakannya bahwa kampus IAIN Raden Intan merupakan kampus yang bagus. \u00a0\u201cKampusnya bagus, asri, dan ada embungnya. Embungnya ada ikannya lagi,\u201d katanya sembari tertawa kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua adalah adanya <em>\u2019Illegal Participant\u2019<\/em> (peserta ilegal). Ia\u00a0 mengungkapkaan, pada AICIS kali ini terdapat banyak sekali <em>\u2018Illegal Participan\u2019,<\/em> namun bukan dalam artian negatif. <em>\u201cIllegal Participan<\/em>, atau peserta ilegal yang saya maksudkan itu malah sangat positif sekali. Dua hari menjelang AICIS, pengelola jurnal se-Indonesia di bawah PTKIN ingin berpartisipasi di AICIS dan saya katakan silakan kalian datang semua. Saat mereka bertanya di mana tempatnya, saya bilang di masjid,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutannya, ia juga mengungkapkan bahwa PTKIN memiliki 60 jurnal , 51 terakreditasi B, 4 terakreditasi A, dan tiga dari 4 tersebut terakreditasi<em> \u00a0<\/em>dan <em>\u00a0<\/em>terindeks di SCOPUS, yaitu jurnal bidang humaniora. \u201cIni luar biasa, karena baru ada di PTKIN kita, ini merupakan suatu kebanggaan,\u201d ungkapnya dengan rasa bangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga mengatakan bahwa di perguruan tinggi lainnya, satupun tidak ada jurnal bidang humaniora yang terindeks SCOPUS. \u201cSementara sisanya yang lain masih sedang dalam proses akreditasi online,\u201d ujarnya. (Dewie Yulianti)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang dilaksanakan pada 1-4 November 2016 resmi ditutup. Penutupan forum diskusi internasional ini dilaksanakan di GSG (Gedung Serba Guna) IAIN Raden Intan Lampung, Kamis sore (3\/11\/16). Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Amsal Bakhtiar mengatakan, pengadaan AICIS kali ini sangat berbeda dengan AICIS yang diadakan sebelumnya. Menurutnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2438,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-2444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2444"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2444\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}