{"id":2433,"date":"2016-11-07T08:21:48","date_gmt":"2016-11-07T08:21:48","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=2433"},"modified":"2016-11-07T08:21:48","modified_gmt":"2016-11-07T08:21:48","slug":"pesan-pengasuh-kepada-alumni-mahad-al-jamiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=2433","title":{"rendered":"Pesan Pengasuh Kepada Alumni\u00a0 Ma\u2019had Al-Jami\u2019ah  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2434\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/ust-m-nur-1.jpg\" alt=\"ust-m-nur-1\" width=\"1706\" height=\"960\" \/><\/strong><strong>Bandar Lampung:<\/strong>\u201cSetiap santri itu ada masanya, tapi tidak setiap masa itu ada santrinya.<!--more-->\u00a0 Kita bersyukur kepada Allah pernah menjadi santri,\u201dungkap Muhammad Nur, M. Hum., selaku sekretaris Ma\u2019had al-Jami\u2019ah IAIN Raden Intan ketika menyampaikan sambutan di acara baksos dan peresmian ikatan alumni padaMinggu (23\/10\/16) lalu di asrama putri I.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Acara yang mengusung tema \u201cDengan Memperingati Hari Santri Nasional, Mari Tebarkan Kasih Sayang Untuk Menciptakan Insan Yang Bertoleran\u201d ini berlangsung dengan khidmat walaupun di luar cuaca sedikit mendung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Muhammad Nur, M. Hum. dalam sambutannya menyatakan bahwa pesantren itu mandiri, ini menjadi citra bahwa santri itu mandiri dalam segala hal dan hal tersebut memang terbukti. \u00a0\u201cHidup di pesantren itu pahit, bangun harus subuh atau sebelum subuh, tidurnya malam, dan hal itu monoton. Kehidupan seperti itu kelihatannya tidak enak. Tapi dibalik ketidakenakan itu, banyak orang yang setelah tamat dari pesantren itu susah \u2018MoveOn\u2019 dari pesantren,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beliau pun bercerita bahwa dirinya dulu ketika di pesantren pernah dihukum oleh seorang ustadz karena suatu kesalahan yang bukan disebabkan oleh dirinya. \u201cKita mendapat hukuman dari pesantren itu merupakan kenang-kenangan yang tidak bisa dilupakan. Saya pernah dihukum dipesantren oleh seorang ustadz. Saya dipukul pakai rotan disebabkan oleh kesalahan yang bukan saya lakukan sampai bekas sabetan rotan tersebut membekas di lengan saya. Namun saya tidak marah. Saya tetap ta\u2019dzim dengan ustadz saya dan menyimpan sakit tersebut sampai ke hati,\u201d kata beliau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia pun mengatakan bahwa sesama santri itu memiliki chemistry yang sama.\u201cKalau kita punya istri orang pondok atau santri, kita tidak perlu mengajari wudhu, sholat dan lain-lain lagi. Jika nanti anak anda ngompol, sudah tidak perlu diberitahu yang ini najis dan lain-lain. Mereka sudah paham, maka ajari hal lain supaya kita dapat pahala di hal lain tersebut. Itulah kelebihan santri,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalian disini berjuang untuk menuntut ilmu, dirumah orang tua kalian berjuang untuk membiayai kalian, itu saya ingatkan kalian supaya menjadi\u00a0 pengingat untuk tidak menghianati orang tua kalian. Pesan saya kepada anda, anda adalah santri, baik kemarin, sekarang dan nanti. Jadi santri dengan guru itu hubungannya bukan hubungan biasa, saya harap hubungan kita tidak akan pernah musnah,\u201d paparnya. (Dewi Yulianti)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung:\u201cSetiap santri itu ada masanya, tapi tidak setiap masa itu ada santrinya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2434,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-2433","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2433"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2433\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}