{"id":20394,"date":"2026-10-17T00:18:14","date_gmt":"2026-10-17T00:18:14","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20394"},"modified":"2026-10-17T00:18:49","modified_gmt":"2026-10-17T00:18:49","slug":"5-unsur-manusia-untuk-terselenggaranya-kebaikan-menurut-prof-mukri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20394","title":{"rendered":"5 Unsur Manusia untuk Terselenggaranya Kebaikan menurut Prof Mukri"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandar Lampung &#8211; <strong>MUI Lampung Digital<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Prof Dr KH Muhammad Mukri, mengungkapkan bahwa terselenggaranya kebaikan dalam kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan lima unsur utama yang terdapat dalam diri setiap individu. Kelima unsur tersebut adalah jasad, nafsu, akal, hati, dan ruh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Musyawarah Daerah (Musda) MUI Provinsi Lampung yang berlangsung di Hotel Horison, Bandar Lampung, Jumat (16\/10\/2026).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof Mukri yang kembali terpilih sebagai Ketua Umum MUI Lampung masa khidmah 2026\u20132031 menjelaskan bahwa kelima unsur tersebut juga dikenal dalam kearifan Jawa dengan istilah rogo, karso, cipto, roso, dan sukmo. Menurutnya, keseimbangan seluruh unsur tersebut menjadi modal penting agar manusia mampu menghadirkan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menjelaskan, unsur pertama adalah jasad atau rogo, yakni bagian lahiriah manusia yang harus dijaga kesehatannya. Jasad memiliki hak untuk mendapatkan makanan yang baik dan halal, istirahat cukup, serta aktivitas fisik yang mendukung kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Namun, jasad tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan fisiknya. Seluruh anggota tubuh juga harus diarahkan untuk menjalankan ibadah dan melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.,&#8221; jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan jasad yang sehat, seseorang dapat lebih optimal menjalankan tanggung jawabnya. Tangan digunakan untuk membantu sesama, kaki melangkah menuju kebaikan, dan seluruh anggota tubuh menjadi sarana pengabdian kepada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur kedua adalah nafsu atau karso. Menurutnya, nafsu merupakan kekuatan besar dalam diri manusia yang harus dikelola dan diarahkan. Nafsu dapat menjadi energi positif apabila dikendalikan, tetapi juga berpotensi merusak apabila dibiarkan mengikuti keinginan tanpa batas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Islam dikenal tingkatan nafsu, mulai dari ammarah yang cenderung mengajak kepada keburukan, lawwamah yang mulai menyadari dan menyesali kesalahan, hingga muthmainnah atau jiwa yang tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, nafsu bukan untuk dimatikan, melainkan dididik agar manusia mampu mengubah keserakahan menjadi sikap qana&#8217;ah serta mengarahkan keinginannya menuju sesuatu yang diridhai Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur ketiga adalah akal atau cipto. Akal merupakan anugerah Allah yang memungkinkan manusia berpikir, memahami persoalan, menimbang sesuatu, dan mengambil keputusan secara bijaksana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof Mukri mengingatkan bahwa Al-Qur&#8217;an berulang kali mendorong manusia menggunakan akalnya melalui ungkapan afala ta&#8217;qilun yang berarti apakah kamu tidak berpikir, serta ulul albab yang merujuk kepada orang-orang yang berakal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan akal, manusia diharapkan mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah, mengembangkan ilmu pengetahuan, membedakan kebenaran dan kebatilan, serta merencanakan masa depan dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, kemampuan berpikir harus tetap dipandu nilai-nilai agama agar kecerdasan tidak justru digunakan untuk melakukan kecurangan maupun tindakan yang merugikan orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur keempat adalah hati atau roso. Hati menjadi pusat kesadaran batin yang memengaruhi emosi, kepekaan sosial, dan nilai-nilai moral seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hati yang bersih akan lahir kasih sayang, empati, ketulusan, dan keikhlasan. Sebaliknya, hati yang tidak terjaga dapat menjadi tempat tumbuhnya berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, kesombongan, dan kebencian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, menjaga kebersihan hati menjadi bagian penting dalam membangun pribadi yang mampu menghadirkan kebaikan. Semakin bersih hati seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun unsur kelima adalah ruh atau sukmo, yakni unsur terdalam manusia yang berkaitan dengan kehidupan dan kesadaran spiritual dalam hubungannya dengan Allah SWT.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jika hati berkaitan dengan rasa dan dinamika batin, ruh mengingatkan manusia tentang hakikat keberadaan, tujuan penciptaan, serta pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesadaran spiritual tersebut perlu dipelihara melalui ibadah, zikir, doa, dan berbagai bentuk penghambaan kepada Allah agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof Mukri menekankan bahwa kelima unsur tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruhnya harus dibangun secara seimbang agar manusia mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jasad harus dijaga kesehatannya, nafsu dikendalikan arahnya, akal dipandu oleh agama, hati dibersihkan dari berbagai penyakit batin, dan ruh senantiasa didekatkan kepada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ketidakseimbangan salah satu unsur tersebut dapat memengaruhi keseluruhan kehidupan manusia. Mereka yang hanya berorientasi pada jasad berpotensi terjebak dalam kehidupan materialistis. Sementara orang yang selalu mengikuti hawa nafsu dapat terjerumus pada perbuatan tercela,&#8221; katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula, kecerdasan akal tanpa tuntunan agama dapat disalahgunakan, hati yang kotor akan sulit menerima kebenaran, sedangkan lemahnya kesadaran spiritual dapat membuat kehidupan kehilangan makna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui pemahaman tersebut, Prof Mukri mengajak seluruh pengurus MUI untuk menjadikan keseimbangan lima unsur manusia sebagai bekal dalam menjalankan amanah organisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, pengabdian kepada umat tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual maupun kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan niat yang benar, pengendalian diri, kebersihan hati, dan kedekatan kepada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan keseimbangan tersebut, ia berharap setiap pengurus mampu membangun kolaborasi, memperkuat konsolidasi, serta menjalankan khidmah secara maksimal demi terselenggaranya kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas. (Muhammad Faizin)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; Bandar Lampung &#8211; MUI Lampung Digital Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, Prof Dr KH Muhammad Mukri, mengungkapkan bahwa terselenggaranya kebaikan dalam kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan lima unsur utama yang terdapat dalam diri setiap individu. Kelima unsur tersebut adalah jasad, nafsu, akal, hati, dan ruh. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20388,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,51],"tags":[],"class_list":["post-20394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-nasional-dan-daerah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/PHOTO-2026-10-15-22-47-11-Copy.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20394"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20394\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20396,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20394\/revisions\/20396"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}