{"id":20387,"date":"2026-10-15T23:08:10","date_gmt":"2026-10-15T23:08:10","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20387"},"modified":"2026-10-15T23:08:31","modified_gmt":"2026-10-15T23:08:31","slug":"musda-mui-xi-lampung-prof-mukri-perbedaan-adalah-keniscayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20387","title":{"rendered":"Musda MUI XI Lampung, Prof Mukri: Perbedaan adalah Keniscayaan"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandar Lampung &#8211; <strong>MUI Lampung Online<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XI pada 15\u201317 Oktober 2026 atau bertepatan dengan 3\u20135 Jumadil Awal 1448 Hijriah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan yang berlangsung di Horison ini mengangkat tema besar &#8220;Meneguhkan Khidmah Ulama, Memperkuat Ketahanan Umat, dan Membangun Lampung Berkeadaban.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, Prof KH Moh Mukri, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan MUI tidak boleh dipahami sebagai ruang persaingan melainkan sebagai rumah bersama untuk menyatukan potensi, memperkuat pengabdian kepada masyarakat, dan menjadi tempat kolaborasi bukan kompetisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, perbedaan merupakan keniscayaan yang harus disikapi dengan semangat kebersamaan, di mana MUI hadir sebagai wadah berhimpunnya berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk membangun kolaborasi dalam melayani umat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Perbedaan adalah keniscayaan. Khittah MUI adalah berkumpul bersama seluruh ormas yang ada. Di MUI bukan kompetisi, tetapi kolaborasi. Apa pun yang dikerjakan sendiri tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal,&#8221; ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menekankan bahwa kekuatan utama MUI terletak pada kolaborasi seluruh unsur yang tergabung di dalamnya. Semangat tersebut sejalan dengan tema Musda XI yang menempatkan khidmah ulama dan ketahanan umat sebagai dua agenda penting dalam membangun kehidupan masyarakat Lampung yang berkeadaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menjelaskan bahwa Lampung merupakan daerah dengan masyarakat yang memiliki latar belakang beragam. Kondisi tersebut menjadi kekayaan sekaligus membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan dan mencegah munculnya kegaduhan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, berbagai persoalan yang berpotensi mengganggu keharmonisan masyarakat dapat diselesaikan apabila seluruh ormas memiliki kesadaran untuk bekerja sama dan mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan kelompok masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;MUI merupakan payung besar tempat berteduh bagi keberagaman umat Islam. Kita ingin menghadirkan kenyamanan bagi semuanya, dengan semangat saling menghargai dan saling memanusiakan manusia,&#8221; jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khidmah atau pengabdian ulama menurutnya tidak hanya diwujudkan melalui pemberian tuntunan keagamaan, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam menjaga persatuan, menyelesaikan persoalan sosial, serta memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Sekretaris Jenderal MUI Pusat, H Amirsyah Tambunan, dalam sambutannya berharap Musda XI MUI Lampung mampu menghasilkan kepemimpinan yang merepresentasikan keterwakilan umat Islam dari berbagai unsur dan organisasi kemasyarakatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, kepemimpinan MUI harus mampu menjadi kekuatan pemersatu antara ulama dan umara (pemerintah), sehingga terbangun sinergi yang baik dalam menjawab berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia juga mengingatkan bahwa MUI memiliki tiga tugas utama yang harus menjadi landasan dalam menjalankan roda organisasi, yakni khadimul ummah (pelayan umat), himayatul ummah (pelindung umat), dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga tugas tersebut, menurutnya, harus diwujudkan secara nyata melalui program dan langkah organisasi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pelayan umat lanjutnya, MUI dituntut hadir memberikan bimbingan dan solusi atas persoalan keagamaan. Sebagai pelindung umat, MUI memiliki tanggung jawab menjaga akidah, moral, serta kemaslahatan masyarakat. Sementara sebagai mitra pemerintah, MUI diharapkan mampu membangun kerja sama yang konstruktif dengan tetap menjaga independensi organisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui forum ini, ia berharap lahir kepemimpinan MUI yang inklusif, mampu merangkul seluruh elemen umat Islam, memperkuat hubungan ulama dan umara, serta mengedepankan semangat kolaborasi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat Lampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musda tersebut dibuka oleh Gubernur Lampung yang diwakili oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Drs. M. Firsada. Hadir pada Musda tersebut segenap pimpinan MUI Provinsi Lampung dan juga 15 Kabupaten dan Kota.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; Bandar Lampung &#8211; MUI Lampung Online Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XI pada 15\u201317 Oktober 2026 atau bertepatan dengan 3\u20135 Jumadil Awal 1448 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung di Horison ini mengangkat tema besar &#8220;Meneguhkan Khidmah Ulama, Memperkuat Ketahanan Umat, dan Membangun Lampung Berkeadaban.\u201d Ketua Umum MUI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20388,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,50],"tags":[],"class_list":["post-20387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-mui"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/PHOTO-2026-10-15-22-47-11-Copy.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20389,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20387\/revisions\/20389"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}