{"id":20359,"date":"2026-09-26T11:34:43","date_gmt":"2026-09-26T11:34:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20359"},"modified":"2026-09-26T11:34:43","modified_gmt":"2026-09-26T11:34:43","slug":"logo-musda-xi-mui-lampung-diluncurkan-membawa-pesan-persatuan-ulama-dan-kearifan-lokal-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20359","title":{"rendered":"Logo MUSDA XI MUI Lampung Diluncurkan, Membawa Pesan Persatuan Ulama dan Kearifan Lokal Lampung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\nBandar Lampung &#8211; <strong>MUI Lampung Digital<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah logo tidak hanya hadir sebagai tanda pengenal sebuah perhelatan, tetapi juga menjadi representasi nilai, cita-cita, dan pesan yang ingin diwariskan. Semangat itulah yang melandasi peluncuran Logo Musyawarah Daerah (Musda) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung yang mengusung tema \u201cMeneguhkan Khidmah Ulama, Memperkuat Ketahanan Umat, dan Membangun Lampung Berkeadaban.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Logo yang akan menjadi identitas visual Musda XI MUI Lampung tersebut dirancang oleh Rudi Santoso, MH, dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung sekaligus Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI Provinsi Lampung. Karya ini lahir dari perpaduan antara nilai keislaman, semangat musyawarah, dan kekayaan budaya lokal Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Rudi Santoso, MH desain logo bukan hanya persoalan estetika, melainkan upaya menerjemahkan nilai-nilai besar MUI ke dalam simbol visual yang mudah dipahami masyarakat. Setiap unsur yang ditampilkan memiliki makna filosofis yang menggambarkan perjalanan ulama dalam menjaga persatuan umat, merawat tradisi, serta menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLogo adalah bahasa simbol. Ia harus mampu berbicara tentang nilai, sejarah, dan harapan. Karena itu, setiap elemen dalam logo Musda XI MUI Lampung dirancang dengan pertimbangan makna yang berkaitan dengan identitas keislaman dan karakter masyarakat Lampung,\u201d ujar Rudi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Siger Lampung dan Semangat Harmoni Islam-Kearifan Lokal<\/strong><br \/>\nSalah satu unsur utama dalam logo tersebut adalah bentuk siger Lampung yang berada pada bagian atas. Siger bukan hanya simbol budaya Lampung, tetapi juga merepresentasikan kehormatan, kemuliaan, dan identitas masyarakat Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks Musda XI MUI Lampung, siger dimaknai sebagai simbol bahwa perjalanan dakwah dan pengabdian ulama tidak dapat dipisahkan dari ruang sosial dan budaya tempat umat hidup. Islam hadir bukan dengan menghapus identitas lokal, tetapi berdialog dan memperkuat nilai-nilai kebaikan yang telah tumbuh dalam masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siger dalam logo tersebut menjadi pesan bahwa keberislaman masyarakat Lampung memiliki karakter yang ramah, terbuka, serta mampu mempertemukan nilai agama dengan budaya lokal secara harmonis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Lingkaran Hijau Simbol Persatuan dan Keberlanjutan Perjuangan Ulama<\/strong><br \/>\nBentuk lingkaran yang menjadi bagian utama logo mengandung pesan tentang persatuan dan kesinambungan. Lingkaran melambangkan tidak adanya batas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sekaligus menggambarkan semangat ukhuwah yang menjadi fondasi kehidupan umat Islam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warna hijau yang dominan dipilih sebagai simbol identitas keislaman, kedamaian, pertumbuhan, serta harapan. Hijau juga memiliki kedekatan makna dengan nilai kehidupan, kesejukan, dan keberkahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam filosofi logo Musda XI MUI Lampung, lingkaran hijau menggambarkan cita-cita agar MUI terus menjadi rumah bersama bagi para ulama, cendekiawan, dan masyarakat dalam memperkuat persatuan umat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Garis Emas Representasi Keilmuan, Kepemimpinan, dan Amanah<\/strong><br \/>\nSapuan garis emas yang melintasi logo menjadi elemen yang memberikan karakter kuat. Warna emas sering dikaitkan dengan kemuliaan, kebijaksanaan, dan penghargaan terhadap nilai luhur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam logo Musda XI MUI Lampung, garis emas menggambarkan perjalanan kepemimpinan ulama yang berlandaskan ilmu, amanah, dan tanggung jawab moral. Ulama tidak hanya memiliki peran keagamaan, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan serta pemberi arah dalam menghadapi perubahan zaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Garis tersebut juga menggambarkan sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun Lampung yang berkeadaban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Angka XI Momentum Regenerasi dan Penguatan Organisasi<\/strong><br \/>\nAngka XI yang terdapat dalam logo menjadi penanda bahwa Musda ini merupakan Musyawarah Daerah ke-11 MUI Provinsi Lampung. Namun angka tersebut tidak hanya menunjukkan urutan penyelenggaraan, melainkan menjadi simbol perjalanan panjang organisasi dalam memberikan kontribusi bagi umat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Musda XI menjadi ruang evaluasi, regenerasi kepemimpinan, dan perumusan langkah strategis agar MUI tetap relevan dalam menjawab tantangan sosial keagamaan yang terus berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tiga Warna Utama, Tiga Pesan Besar<\/strong><br \/>\nSelain bentuk, warna dalam logo juga memiliki pesan tersendiri. Hijau melambangkan nilai Islam, kedamaian, pertumbuhan, dan keberkahan. Warna ini mencerminkan harapan agar perjalanan MUI Lampung selalu berada dalam semangat pelayanan kepada umat. Emas menggambarkan kemuliaan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan ulama yang berintegritas. Putih menjadi simbol ketulusan, kebersihan niat, kejernihan berpikir, dan semangat musyawarah dalam mengambil keputusan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga warna tersebut dirangkai menjadi satu kesatuan yang menggambarkan cita-cita Musda XI MUI Lampung: menghadirkan kepemimpinan ulama yang mampu menjaga persatuan dan memperkuat ketahanan umat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nKarya Rudi Santoso bukan kali pertama menuangkan gagasan keislaman dan kebudayaan melalui karya visual. Sebelumnya, ia juga dikenal sebagai perancang Logo Konferensi Wilayah (Konferwil) XI Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana desain dapat menjadi medium komunikasi nilai. Melalui simbol, warna, dan bentuk, sebuah organisasi dapat menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai akademisi Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Rudi memadukan perspektif keilmuan Islam dengan pendekatan kreatif dalam menghasilkan karya visual. Pengalaman sebagai bagian dari Komisi Infokom MUI Lampung turut memperkuat pemahamannya mengenai pentingnya komunikasi publik dalam menyampaikan pesan keagamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Logo Musda XI MUI Lampung bukan hanya gambar yang terpampang pada berbagai media publikasi. Ia merupakan simbol harapan agar musyawarah berjalan dalam suasana persaudaraan, keteduhan, dan kebijaksanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui filosofi yang terkandung di dalamnya, logo tersebut mengingatkan bahwa khidmah ulama selalu berkaitan dengan upaya merawat umat, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bersama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Musda XI MUI Lampung pun diharapkan tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi menjadi momentum memperkuat peran ulama dalam membangun masyarakat Lampung yang religius, harmonis, dan berkeadaban. (Rita Zaharah)<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-20360 aligncenter\" src=\"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM-252x300.png\" alt=\"\" width=\"252\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM-252x300.png 252w, https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM-859x1024.png 859w, https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM-768x915.png 768w, https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM-600x715.png 600w, https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/ChatGPT-Image-Sep-26-2026-05_59_45-PM.png 1149w\" sizes=\"(max-width: 252px) 100vw, 252px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung &#8211; MUI Lampung Digital Sebuah logo tidak hanya hadir sebagai tanda pengenal sebuah perhelatan, tetapi juga menjadi representasi nilai, cita-cita, dan pesan yang ingin diwariskan. Semangat itulah yang melandasi peluncuran Logo Musyawarah Daerah (Musda) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung yang mengusung tema \u201cMeneguhkan Khidmah Ulama, Memperkuat Ketahanan Umat, dan Membangun Lampung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20361,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,50],"tags":[],"class_list":["post-20359","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-mui"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/MUSDA-XI-MUI-Lampung-3.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20359"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20359\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20362,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20359\/revisions\/20362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}