{"id":20317,"date":"2026-09-18T02:22:21","date_gmt":"2026-09-18T02:22:21","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20317"},"modified":"2026-09-18T02:22:21","modified_gmt":"2026-09-18T02:22:21","slug":"ekoteologi-menguak-kesakralan-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20317","title":{"rendered":"Ekoteologi Menguak Kesakralan Alam"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> Sekretaris Prodi AFI Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ekoteologi menghantarkan pada sebuah pemahaman tentang kebesaran Tuhan melalui bukti-bukti ciptaan-Nya yang Maha Agung. Kosmos sebagai bukti adanya sang Pencipta yang tidak dapat didustakan oleh hambanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Alam adalah sesuatu yang sakral, dimana Allah menciptakan alam semesta sesuai dengan manfaat dan tujuan yang melekat padanya. Betapa tidak, Allah ciptakan gunung-gunung sebagai penyeimbang dan Allah jadikan bumi sebagai hamparan, seluruh tata surya berjalan sesuai ritmenya dan tiada yang menyalahi aturan. Keseimbangan itu telah berjalan sedemikian, sehingganya akan selalu dinamis berjalan. Tata Surya berjalan dengan santai tanpa ada yang ingin mendahului, jika seandainya matahari egois ingin berjalan lebih cepat, pastilah akan berbenturan dengan tatananainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini tentunya berbeda dengan manusia yang dianugerahi akal pikiran, kerap kali perilaku dan tindak tanduknya berubah-ubah sesuai kondisi dan mindset yang ada pada dirinya. Dalam hal ini sebenarnya dibutuhkan psikologi lingkungan agar manusia memiliki mindset baik, jika ramah lingkungan sehingga tidak terjadi suatu tindakan ceroboh hingga mengeksploitasi sumberdaya alam dan mencemari lingkungan baik udara, air maupun daratan. Sampah menumpuk akibat kecerobohan manusia, banjir melanda dan longsor di mana-mana lebih tepat dikatakan bencana eksternal yang diakibatkan oleh perilaku manusia. Betapa sombong, serakah dan berlebihan perilaku manusia ketika mindset yang ada pada dirinya tidak tertata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Alam memiliki hukum resonansi yaitu hukum timbal balik, jika kita berbuat baik pada alam dan lingkungan, maka alam pun akan senantiasa memberikan banyak keberkahan pada manusia, tanaman kita tanam, rawat, ia pun akan berbuah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun jika manusia rakus, maka antropisontris melekat pada dirinya dan akan menjadi mala petaka bagi makluk yang ada disekitarnya, karena setiap tindakannya akan bermuara pada kekuasaan dan akhirnya pengkhianatan pada Tuhan atas kekhalifahan terabaikan, keadilan dan amanah yang melekat pada dirinya ia abaikan dan kehancuran menjadi akibat dari perilaku nya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Sekretaris Prodi AFI Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung Ekoteologi menghantarkan pada sebuah pemahaman tentang kebesaran Tuhan melalui bukti-bukti ciptaan-Nya yang Maha Agung. Kosmos sebagai bukti adanya sang Pencipta yang tidak dapat didustakan oleh hambanya.\u00a0 Alam adalah sesuatu yang sakral, dimana Allah menciptakan alam semesta sesuai dengan manfaat dan tujuan yang melekat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-20317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-11.05.17-2.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20317"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20318,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20317\/revisions\/20318"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}