{"id":20306,"date":"2026-09-14T08:17:24","date_gmt":"2026-09-14T08:17:24","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20306"},"modified":"2026-09-14T08:17:53","modified_gmt":"2026-09-14T08:17:53","slug":"ekosufisme-hukum-resonansi-sebagai-getaran-energi-spiritual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20306","title":{"rendered":"Ekosufisme; Hukum Resonansi Sebagai Getaran Energi Spiritual"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> Sekretaris Prodi AFI Pascasarjana UIN Raden Intan LAMPUNG<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kosmos sebagai bukti perwujudan adanya Tuhan. Alam semesta memiliki hukum resonansi yaitu timbal balik dari getaran energi yang kita lakukan. Manusia yang diciptakan dari tanah, yang 75 persen lebih tubuh manusia berisikan kandungan air, dan manusia membutuhkan oksigen guna melangsungkan kehidupannya. Di sadari atau tidak bahwa unsur yang ada pada diri manusia diambil dari alam, dan bahkan manusia membutuhkan makanan yang juga diambil dari sumberdaya alam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia adalah bagian dari ekosistem alam yang juga harus terlibat secara langsung terhadap keberlangsungan alam dan keberlanjutannya. Alam bukanlah warisan nenek moyang, melainkan alam adalah hal yang harus kita pelihara untuk keberlangsungan anak cucu kita. Memperlakukan baik dan penuh rahmah kepada alam adalah wujud pengabdian kepada sang Pencipta dalam bentuk nyata, bahkan demikian merupakan bentuk spiritual ibadah dan pengabdian kepada-Nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hukum resonansi alam berupa getaran timbal balik kepada makluknya menuntut kita untuk ramah terhadap alam dan lingkungan. Betapa tidak, setiap makhluk di alam semesta ini Allah ciptakan dengan segala manfaatnya, bahkan Allah tidak segan menciptakan nyamuk dan hewan yang lebih kecil darinya sebagai pelajaran bagi kita bahwa tajalli sebagai bentuk ayat quniyah yang harus kita baca dengan kacamata etika, moral dan tauhid. Hal ini bukan hanya persolan sosial semata, melainkan adalah urusan moral dan keberlangsungan alam semesta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam merawat keberlangsungan alam dan lingkungan perlu takhalli sebagai bentuk pengosongan hati guna mengisinya dengn akhlakul karimah hingga menjadi manusia yang mampu menundukkan dirinya dengan nilai spiritual mencapai ridha Ilahi rabbi pada setiap perilaku yang dijalankannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara implementasi, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan adalah investasi amal yang juga bernilai jariah. Saking urgennya menanam pohon hingga Nabi mengajarkan kepada kita untuk menanam benih yang jika esok terjadi kiamat, sedangkan benih itu masih ditangan kita. Begitu juga nabi mengajarkan kepada kita bahwa ketika seorang muslim menanam pohon dan pohon tersebut tumbuh besar hingga berbuah dan buahnya dimakan burung atau dicuri orang atau diambil hewan liar, maka tidak ada balasan apa-apa bagi yang menanam kecuali nilai shadaqah jariah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kita menanam pohon sembari kita berdoa bahwa ini adalah rizkimu yang aku hantarkan untuk menyuburkanmu, maka getaran energi tersebut akan membangkitkan jiwa raga kita hingga Tuhan ganti dengan rizki yang lebih banyak untuk kita, artinya bahwa shadaqah tidak hanya pada sesama manusia, tapi menyiram tanaman adalah bagian dari bentuk shadaqah yang kita dapat lakukan, karena tumbuhan juga merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan dengan instriksik yang melekat pada dirinya dan segala amal kebaikan itu akan kembali kepada kita sebagai malasan bentuk amal shaleh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berbuat baik kepada hewan pun juga demikian, hingga ketika kita berbagi makanan pada semut ataupun hewan lainnya berarti kita telah berupaya menyelamatkan makhluk Tuhan yang mana hal tersebut adalah kebaikan yang akan dibalas oleh-Nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu pelajaran mulia dikisahkan bahwa Imam Ghazali pada suatu saat sedang menulis kitab, dan pada saat anak pena tersebut dicelupkan ketinta hingga sebelum tinta itu digoreskan kelembaran kertas maka menghingbaplah lalat meminum tinta tersebut, dan Imam Ghazali membiarkannya hingga tinta habis pada anak pena tersebut, dari kisah ini diceritakan justru jalan inilah yang menghantarkan dirinya menuju surga-Nya Allah Ta&#8217;ala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah kisah juga dikatakan bahwa seseorang justru masuk surga dan dalam pertolongan Allah tidak dari amal ibadahnya yang tekun, melainkan atas rahmah yang dilakukannya pada seekor kucing kecil yang ditolongnya pada saat kucing terjebak kehujanan hingga kedinginan dan diambilnya lalu dirawatnya, dan dari situlah pertolongan Allah membersamianya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa contoh sederhana ini, memacu kita untuk senantiasa menjaga diri kita hingga mengendalikan diri kita dari sikap rakus, bakhil dan kesombongan kepada makhluk Allah yang telah diciptakan dan melangsungkan hidup dalam suatu ekosistem yang saling berinteraksi dan saling membutuhkan.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Sekretaris Prodi AFI Pascasarjana UIN Raden Intan LAMPUNG Kosmos sebagai bukti perwujudan adanya Tuhan. Alam semesta memiliki hukum resonansi yaitu timbal balik dari getaran energi yang kita lakukan. Manusia yang diciptakan dari tanah, yang 75 persen lebih tubuh manusia berisikan kandungan air, dan manusia membutuhkan oksigen guna melangsungkan kehidupannya. Di sadari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19881,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-20306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-11.05.17-1.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20307,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20306\/revisions\/20307"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}