{"id":20304,"date":"2026-09-12T01:24:50","date_gmt":"2026-09-12T01:24:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20304"},"modified":"2026-09-12T01:24:50","modified_gmt":"2026-09-12T01:24:50","slug":"ekoteologi-integrasi-teologi-ilmu-pengetahuan-dan-lingkungan-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20304","title":{"rendered":"Ekoteologi; Integrasi Teologi, Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> Sekretaris Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Secara bahasa, ekoteologi terdiri dari dua kata yaitu ekologi dan teologi. Sedangkan ekoteologi dipandang secara istilah berarti kajian agama yang membahas tentang lingkungan berkelanjutan. Membahas teologi berarti berbicara tentang agama-agama \u00a0 atau norma yang diyakini oleh penganut agama atau agama-agama, yang jika dikaitkan dengan lingkungan, maka sejatinya setiap agama secara masif telah mengedukasi kepada pemeluknya untuk ramah terhadap lingkungan, menjaga, merawat dan melestarikannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada prinsipnya bahwa penerapan ekoteologi tidak lepas pada enam prinsip yaitu Tauhid, Ayat, Khalifah, Adil, Amanah dan Tawazun. Tauhid adalah membahas tentang keyakinan hamba kepada sang Pencipta yang dalam konteks Islam disebut sebagai rabbul alamin (penguasa alam), yang menciptakan dan memelihara seluruh makluk. Allahlah yang memelihara bahkan daun jatuh dari tangkainya tidaklah luput dari pengawasan-Nya (\u00a0 \u0648\u0645\u0627 \u064a\u0633\u0642\u0637 \u0645\u0646 \u0648\u0631\u0642\u0629 \u0625\u0644\u0627\u0651 \u064a\u0639\u0644\u0645\u0647\u0627). Sedangkan prinsip kedua adalah ayat (bukti kebesaran Tuhan) bahwa adanya alam semesta menunjukkan bukti adanya Tuhan (\u0648\u0641\u0649 \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0622\u064a\u0627\u062a \u0644\u0644\u0645\u0624\u0645\u0646\u064a\u0646).\u00a0 Bahkan Allah tidak segan-segan menciptakan hewan yang paling kecil dengan manfaat yang dianugerahkan kepadanya (\u0625\u0646\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0644\u0627 \u064a\u0633\u062a\u062d\u064a \u0623\u0646 \u064a\u0636\u0631\u0628 \u0645\u062b\u0644\u0627 \u0645\u0627 \u0628\u0639\u0648\u0636\u0629 \u0641\u0645\u0627 \u0641\u0648\u0642\u0647\u0627).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan prinsip ketiga adalah Khalifah sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Bi&#8217;ah wa al-hifadzu &#8216;alaiha dijelaskan bahwa hubungan antara manusia dan alam adalah 1) Allah ciptakan manusia dan alam dengan segala intrinsiknya. 2) Allah ciptakan manusia dan alam sebagai makhluk yang saling membutuhkan antara keduanya dan saling menyempurnakan, 3) Allah ciptakan alam semesta sebagai bentuk amanah yang harus dijaga sebagai konsekuensi hamba.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Prinsip selanjutnya adalah adil, amanah dan tawazun, adil dalam memperlakukan alam karena alam adalah amanah yangTuhan anugrahkan kepada hamba sebagai bentuk tugas mulia untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka amanat ini harus dijaga secara proporsional dalam pengelolaan dan pengolahannya. Allah ciptakan alam semesta berjalan secara seimbang (\u0643\u0644\u0651 \u0641\u0649 \u0641\u0644\u0642 \u064a\u0633\u0628\u062d\u0648\u0646). Bertapa sempurna alam semesta ini diciptakan Tuhan dan berjalan sesuai porosnya, dan selama alam masih seimbang maka alam tidak akan hancur, melainkan jika alam telah tidak seimbang maka ia akan mengalami perubahan alam dan bahkan kerap disebut kerusakan alam, padahal alam tidak rusak melainkan\u00a0 ia melakukan ishlah sebagai bentuk keseimbangan baru. Kerusakan alam yang disebut musibah bagi makhluk sejatinya ia membuat keseimbangan baru, yang rugi bukan alam tapi lingkungan yang ada disekitarnya, yaitu manusia, hewan dan bahkan tumbuhan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis lingkungan terjadi baik secara intenal (alamiah) maupun eksternal (karena disebabkan kerusakan yang dibuat oleh manusia), keduanya ini akan berpotensi terjadinya perubahan alam. Allah ciptakan tata surya sedemikian rupa, bahkan bahkan semua berjalan seimbang, tertib tunduk kepada-Nya. Jika saja matahari egois dan ingin berjalan lebih cepat dari biasanya maka akan terjadi benturan dahsyat dan akan menyebabkan kehancuran alam semesta. Namun, matahari dan segala tata surya berjalan sesuai porosnya hingga tidak terjadi benturan yang menyebabkan terjadinya bencana bahkan kiamat tiba adalah pada saat tata surya telah berjalan tidak sesuai ritmenya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks ini, manusia harus benar-benar mampu menjaga dan merawat serba melestarikan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Karena jika hal ini tidak ditanggulangi, akan mengancam segala fitrah yang telah diciptakan oleh Tuhan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kajian ekoteologi disini disini menawarkan bahwa agama telah mengajarkan kepada setiap penganutnya untuk menjaga dan merawat lingkungan. Sehingga, manusia harus sadar bahwa hubungan manusia kepada alam adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan dan perilaku itu bernilai ibadah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad (\u0625\u0630 \u0642\u0627\u0645\u062a \u0627\u0644\u0635\u0644\u0627\u0629 \u0648\u0641\u0649 \u064a\u062f\u0643\u0645 \u0641\u0633\u064a\u0644\u0629 \u0623\u0644\u0627\u0651 \u062a\u0642\u0648\u0645 \u0623\u0646 \u064a\u063a\u0631\u0633\u0647\u0627 \u0641\u0627\u0644\u064a\u063a\u0631\u0633\u0647).\u00a0 Saking pentingnya bercocok tanam Nabi sendiri telah bersabda bahwa apabila manusia menanam pohon atau memeliharanya, lalu pohon itu tumbuh membesar kemudian berbuah kemudian dimakan burung, atau dicuri manusia dan atau dimakan oleh hewan liar, makan seseorang yang menanam akan mendapatkan nilai pahala.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks yang lain Allah mengingatkan kepada hambanya agar tidak sombong di muka bumi ini (\u0648\u0644\u0627 \u062a\u0645\u0634 \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0645\u0631\u062d\u0627). Bahkan Allah mengingat dengan kalimat yang lebih tegas (\u0648\u0644\u0627 \u062a\u0641\u0633\u062f\u0648\u0627 \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0628\u0639\u062f \u0625\u0635\u0644\u0627\u062d\u0647\u0627). Meskipun Allah telah menunjukkan bukti merasakan\u00a0 itu agar manusia kembali kepada Allah (\u0638\u0647\u0631 \u0627\u0644\u0641\u0633\u0627\u062f \u0641\u0649 \u0627\u0644\u0628\u0631 \u0648\u0627\u0644\u0628\u062d\u0631 \u0628\u0645\u0627 \u0643\u0633\u0628\u062a \u0623\u064a\u062f\u0649 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0633 \u0644\u064a\u0630\u064a\u0642\u0647\u0645 \u0628\u0639\u0636 \u0627\u0644\u0630\u0649 \u0639\u0645\u0644\u0648\u0627 \u0644\u0639\u0644\u0643\u0645 \u062a\u0631\u062c\u0639\u0648\u0646).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ekoteologi akan menghantarkan hamba untuk sadar atas amanah yang Allah anugrah kan kepadanya, bukan hanya bernilai sosial, melainkan bernilai moral dan spiritual. Rusaknya alam tidak lagi menyalahkan taqdir, melainkan bagaimana manusia sadar hingga berusaha menjadi pelopor yang rahmah (penuh kasih sayang) dan etika dalam melestarikan alam dan lingkungan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kendalanya adalah kerap kali manusia terjebak pada sebuah paradigma, sehingga manusia menjadi rakus dan hingga mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, keserakahan ini adalah pengkhianatan kepada Tuhan, sehingga ia lalai dan tidak adanya kepedulian, gerakan greendien, ekofeminisme haruskah dibarengi dengan deep ekologi (membangun ekologi dari dalam diri, kesadaran dan keinginan untuk berbuat kebaikan) adalah jalan mulia yang diajarkan. Sehingga, manusia tidak lagi terjebak pada paham antroposentrisme, ekosentrisme dan biosentrisme yang mana paradigma ini kerap kali merugikan diri manusia sendiri. Keserakahan manusia telah menyebabkan banyaknya petaka dan tidak menguntungkan bagi keberlangsungan hidup, yang damai dan harmoni.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Sekretaris Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung Secara bahasa, ekoteologi terdiri dari dua kata yaitu ekologi dan teologi. Sedangkan ekoteologi dipandang secara istilah berarti kajian agama yang membahas tentang lingkungan berkelanjutan. Membahas teologi berarti berbicara tentang agama-agama \u00a0 atau norma yang diyakini oleh penganut agama atau agama-agama, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-20304","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/WhatsApp-Image-2026-04-13-at-11.05.17-2.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20304"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20305,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20304\/revisions\/20305"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}