{"id":20231,"date":"2026-08-16T00:39:40","date_gmt":"2026-08-16T00:39:40","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20231"},"modified":"2026-08-16T00:39:40","modified_gmt":"2026-08-16T00:39:40","slug":"rahmat-allah-makna-dalil-relevansi-dalam-pembukaan-uud-1945","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20231","title":{"rendered":"RAHMAT ALLAH: MAKNA, DALIL, &#038; RELEVANSI DALAM PEMBUKAAN UUD 1945"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag<\/strong><br \/>\nGuru Besar UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Amin Nugrah Santoso, SH, MH<\/strong><br \/>\nDosen FH UNTIRTA Banten<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMAKNA RAHMAT : DALIL AL-QUR&#8217;AN DAN HADITS<br \/>\nMakna Rahmat, secara Bahasa, Rahmat berarti kasih sayang, lemah lembut, karunia, nikmat, dan pertolongan.<\/p>\n<p>Makna Rahmat, secara Istilah, Rahmat adalah Kehendak Allah untuk berbuat baik kepada hamba-Nya, berupa nikmat dunia dan ampunan di akhirat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari makna Rahmat tersebut, kandungan Rahmat meliputi dua sifat (asma Allah) yaitu Rahman dan Rahim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuk Rahmat itu, ada Rahmat Allah di dunia disebut Rahman, dan Rahmat Allah di akherat khusus bagi orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya disebut Rahim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahmat Dunia (Rahman) adalah Allah Yang Maha Pengasuh. Kasih sayang Allah berupa rezeki, sehat, aman, kemerdekaan, akal, hati, dan anugerah lainnya dikasihkan kepada semua makhluk Allah. Semua makhluk meliputi manusia muslim dan non muslim, manusia yang theis dan atheis, manusia taat dan maksiat semua diberi Rahmat oleh Allah Rahmat Allah).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu juga semua makhluk seperti hewan, binatang, tumbuhan, dan semua makhluk di dunia (makhluk bumi) dan makhluk langit diberi Rahmat Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbeda dengan Rahmat Akhirat (Rahim). Allah memiliki sifat\/asma yaitu Rahim. Makna Rahim berati Allah Yang Maha Pemurah menyayangi khusus bagi makhluk-Nya yang beriman, taat, dan beribadah hanya kepada-Nya. Allah hanya menyayangi mereka di akherat berupa ampunan (maghfirah), syafa&#8217;at, surga, dan ridha Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penjelasan Rahmat di atas didasarkan pada dalil nash.<br \/>\nDalil Al-Qur&#8217;an tentang Rahmat Allah, antara lain:<br \/>\nQS. Al-A&#8217;raf: 156:<br \/>\n\u0648\u064e\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u062a\u0650\u064a \u0648\u064e\u0633\u0650\u0639\u064e\u062a\u0652 \u0643\u064f\u0644\u064e\u0651 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d<br \/>\nArtinya:<br \/>\n&#8220;Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu&#8221;<br \/>\nPenjelasan mufassir bahwa ayat 156 merupakan Rahmat Allah bersifat umum, Rahmat diberikan Allah kepada semua makhluk di alam semesta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalil Rahmat Khusus untuk Orang Beriman, ini dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab: 43:<br \/>\n\u0648\u064e\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0650\u064a\u0646\u064e \u0631\u064e\u062d\u0650\u064a\u0645\u064b\u0627<br \/>\nArtinya:<br \/>\n&#8220;Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalil Rahmat tentang Tujuan Diutusnya Nabi. Dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya:107:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0633\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u0643\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0627 \u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064b \u0644\u0650\u0651\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0644\u064e\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e<br \/>\nArtinya:<br \/>\n&#8220;Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalil Hadits tentang Rahmat Allah. Antara lain:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hadits tentang 100 Rahmat, artinya: &#8220;Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. 1 rahmat diturunkan untuk jin, manusia, hewan, dan tumbuhan. Dengan 1 rahmat itu mereka saling menyayangi. Dan Allah menahan 99 rahmat untuk Dia rahmati hamba-hamba-Nya di hari kiamat&#8221;<br \/>\n(HR. Bukhari 6000, Muslim 2753).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hadits tentang Sayangi Bumi, dan Disayang Langit.<br \/>\nRasul bersabda, artinya: &#8220;Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu&#8221; (HR. Tirmidzi 1924).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">AKAR KATA RAHMAT DALAM TATA BAHASA ARAB (NAHWU)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akar kata Rahmat dari tiga huruf \u0631-\u062d-\u0645 (R-H-M):<br \/>\n*\u0631\u064e\u062d\u0650\u0645\u064e &#8211; \u064a\u064e\u0631\u0652\u062d\u064e\u0645\u064f*<br \/>\n(Rahima -Yarhamu) bentuk kata kerja<br \/>\nFi&#8217;il Madhi (past tense) dan Fi&#8217;il Mudhari&#8217; (present tense).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata kerja tersebut memiliki arti &#8220;Mengasihi&#8221; dan &#8220;Menyayangi&#8221;. Allah selalu menyayangi secara Aktif dan terus-menerus kepada makhluk-Nya, termasuk manusia (hamba-Nya).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata Rahmat\/Rahmatan (\u0631\u064e\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064b)<br \/>\nmerupakan bentuk Kata Benda (Isim Masdar) berarti<br \/>\n&#8220;Kasih sayang&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahmat menunjukkan esensi sifat penyayang itu sendiri bagi Allah kepada makhluk-Nya.<br \/>\nRahmat Allah dalam sifat Rahman<br \/>\n(*\u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0646\u064f)<br \/>\nAr-Rahman adalah Isim Sifat Mubalaghah &#8220;Yang Maha Pengasih&#8221; meliputi cakupan Luas, umum, untuk semua makhluk di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbeda dengan Rahmat Allah dalam sifat Rahim<br \/>\n(*\u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0650\u064a\u0645\u064f*)<br \/>\nAr-Rahim adalah Isim Sifat Mubalaghah &#8220;Yang Maha Penyayang&#8221; ini sifat penyayang Allah khusus dimurahkan untuk orang beriman di akhirat kelak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam tinjauan Imu Nahwu (Tata Bahasa Arab),<br \/>\nRahman dan Rahim sama-sama sifat musyabbahah dari fi&#8217;il rahima. Pola fa&#8217;lan dan fa&#8217;il menunjukkan sifat yang sangat kuat dan menetap kepada Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam tinjauan Teologi Islam (Ilmu Kalam) Yang dimaksud &#8220;menetap&#8221; bahwa Rahman dan Rahim ada yang mengaitkan dengan &#8220;sifat Allah&#8221; dan &#8220;hal \/ahwal&#8221; berarti &#8220;keadaan&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sifat Sifat menunjukkan Sesuatu yang menempel permanen pada Zat Allah.<br \/>\nAhwal Allah menujukkan Sesuatu keadaan pada Zat Tuhan, dan berubah-ubah, tak permanen pada Zat Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlepas dari perbedaan interpretasi Rahman dan Rahim itu Sifat Allah atau Hal Allah, penulis tidak membuat ruang dialog. Penulis ingin menyatakan bahwa Rahmat Allah meliputi Rahman dan Rahim. Dalam pandangan Teologi Islam Aliran Asy&#8217;ariyah bahwa Rahman dan Rahim merupakan Sifat Allah. Berbeda dengan aliran Mu&#8217;tazilah Rahman dan Rahim adalah Ahwal Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nRAHMAT BERASAL DARI ALLAH: SIFAT RAHMAN &amp; RAHIM, DAN PERBEDAAN KEDUANYA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber Rahmat hanya satu yaitu ALLAH. Hanya Allah yang memilki sifat Rahman dan Rahim. Maka selain Allah tidak ada yang bisa memberi rahmat kepada makhluk kecuali hanya Dia. Dipertegas dalam QS. Fathir: 2:<br \/>\n\u0645\u064e\u0651\u0627 \u064a\u064e\u0641\u0652\u062a\u064e\u062d\u0650 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0644\u0650\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0633\u0650 \u0645\u0650\u0646 \u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u064e\u0629\u064d \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0645\u064f\u0645\u0652\u0633\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064e\u0627<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya:<br \/>\n&#8220;Apa saja yang Allah anugerahkan berupa rahmat, maka tidak ada yang dapat menahannya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ayat itu mempertegas bahwa Ramah berasal dari Allah karena Allah memiliki sifat Rahman dan Rahim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu pertanyaannya, bolehkah makhluk (manusia) mengasihi dan menyayangi manusia dan makhluk lain?<br \/>\nBoleh, sebab sifat Rahman dan Rahim Allah memancar kepada manusia dan agar manusia meniru\/membagi kasih sayang kepada sesama dan makhluk lain.<\/p>\n<p>PERBEDAAN AR-RAHMAN DAN AR-RAHIM<br \/>\nAr-Rahman adalah sifat Allah, Allah memberikan kasih sayang secara umum kepada makhluk.<br \/>\nSemua makhluk: muslim, kafir, hewan, tumbuhan, dan lainnya di dunia. Seperti rezeki, sehat, hujan, nikmat, dan lainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ar-Rahim adalah sifat Allah, Allah memberikan kasih sayang khusus kepada hamba Allah yang beriman (mukmin, muslim) berupa balasan (jaza&#8217;), Rahmat, Ampunan (Maghfirah), Syafa&#8217;at, Ridho Allah, dan Surga Allah bagi mukmin atau muslim di akherat kelak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Analogi Ulama tentang beda Rahman dan Rahim.<br \/>\nRahman = Seperti matahari, cahayanya untuk semua orang.<br \/>\nRahim = Seperti makanan khusus, hanya untuk tamu VIP di rumah Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jelaslah bahwa Rahmat Allah meliputi kasih sayang di dunia (Rahman) bagi semua makhluk seperti Rezeki, dan kasih sayang di akherat (Rahim) khusus bagi mukmin\/muslim seperti Surga<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penjelasan Ulama Tafsir, berikut ini:<br \/>\n1.Rahmat itu Hasil dari Sifat Rahman dan Rahim.<br \/>\nRahman dan Rahim adalah &#8220;Nama\/ Sifat&#8221; Allah.<br \/>\nRahmat adalah &#8220;Efek \/ Buah&#8221; dari kedua sifat itu yang turun ke makhluk, termasuk manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahman dan Rahim<br \/>\nmenurunkan Rahmat. Maka Rahmat lebih luas. Allah memiliki 99 sifat\/asma, dan hanya 2 sifat yaitu Rahman dan Rahim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahman dan Rahim hanya 2 dari 99 Asmaul Husna.<br \/>\nTetapi Rahmat mencakup semua: Hidayah, Ampunan, Rezeki, Berkah, Nikmat, Pertolongan, Kemerdekaan, dan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">KAITAN FRASE &#8220;RAHMAT ALLAH&#8221; DALAM PEMBUKAAN UUD 1945<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam Pembukaan UUD RI 1945, alinea ketiga:<br \/>\n&#8220;Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalimat &#8220;Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa&#8230;&#8221; memiliki maksud dan makna muatan politis dan teologis\/relijius.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Frase dalam alinea ketiga itu, memiliki maksud dan penjelasannya. Frase itu memiliki empat makna politik dan spiritual sekaligus. Penjelasannya sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.PENGAKUAN TEOLOGIS<br \/>\nKami bangsa Indonesia mengakui: Kemerdekaan ini bukan murni usaha manusia. Tetapi Indinesia merdeka karena ada campur tangan Tuhan. Allah memberikan Rahmat kepada bangsa Indonesia karena getol berjuang melawan penjajah sebagai bentuk kezaliman. Hilanglah kezaliman, muncullah nikmat Allah yaitu kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanpa pertolongan Allah, tanpa Rahmat Allah, tak mungkin perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah bisa merdeka. Beratus tahun hidup dijajah 3,5 tahun Jepang dan 350 tahun Belanda tidak mungkin bisa kita lawan, sulit merdeka. Tetapi berkat Rahmat Allah merdekalah bangsa Indonesia dan hidup merdeka di dalam NKRI, sejak 17 Agustus 1945 meski masih terus menghadapi rongrongan dan agresi penjajah. Masihkan di alam merdeka kini bangsa Indonesia masih menghadapi penjajah gaya baru, penjajahan dari dalam dan luar negeri? Penjajahan dari dalam berupa pengkhianatan korupsi, dan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.SUMBER LEGITIMASI NEGARA<br \/>\nNegara kita berdiri di atas fondasi &#8220;Ketuhanan&#8221;. sebagaimana Sila Pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bangsa Indonesia itu bangsa yang relijius, dan negara Indonesia meski bukan negara teokrasi dan bukan pula negara sekuler. Tetapi negara berdasarkan Pancasila<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua regulasi, dan kebijakan harus sesuai &#8220;rahmat&#8221;. Penyelenggaraan negara dan menjalankan roda pemerintahan dengan mengharap Rahmat Allah, maka membawa maslahat dan tidak menzalimi rakyat dan negara jauh dari khianat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oleh sebab itu, siapa pun, baik rakyat ataupun penguasa \/aparat jika berkhianat kepada negara dan rakyat, maka jauhlah Ramat Allah . Mengapa demikian? mengkhianati bangsa dan negara berarti tidak mensyukuri nikmat kemerdekaan dan mengingkari nikmat Allah dari Rahmat Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. KOMITMEN SYUKUR<br \/>\nBangsa yang pandai bersyukur, maka berkah Allah selalu mengiri perjalanan bangsa dan negara yang merdeka ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkat imerupakan anugerah Allah kepada bangsa yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Kalau diberi anugerah, wajiblah kita syukur kepada Allah.<br \/>\nCara mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan kerja keras bangsa kita sesuai kemampuan, skill, profesi dan pekerjaan.<br \/>\nMengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan melindungi rakyat, mensejahterakan, dan mencerdaskan bangsa untuk kemajuan Indonesia itu bentuk syukur kepada Allah.<br \/>\n(Alinea 4 Pembukaan UUD RI 1945).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4.DOA DAN PERMOHONAN KEPADA TUHAN<br \/>\nDengan menyebut &#8220;Rahmat Allah&#8221;, dalam Pembukaan UUD RI 1845, menunjukkan bahwa para pendiri bangsa bersama para pejuang lainnya selalu ingat Allah Yang Maha Kuasa. Maka mereka selalu berdoa:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya Allah, kami mohon teruskan Rahmat-Mu agar bangsa ini tetap merdeka, bersatu, adil, makmur, dan sejahtera, serta bermartabat di mata bangsa di dunia, dan mulia di pandangan-Mu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">RELEVANSI DENGAN &#8220;YANG MAHA KUASA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disebut &#8220;Yang Maha Kuasa&#8221;, bahwa Allah Yang Maha Kuasa, karena:<br \/>\n1.Hanya Allah yang bisa mengusir penjajah. Penjajahan adalah perbuatan zalim, Allah tak ridha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.Hanya Allah yang bisa menjaga NKRI tetap utuh dari ancaman perpecahan. Maka kita, bangsa Indonesia harus terus berjuang, dan menjaga Persatuan dan Kesatuan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.Mengingatkan penguasa. Penguasa tidak boleh dan jangan zalim. Penguasa yang zalim pasti tumbang dan di akherat menghadapi tanggung jawab di hadapan penguasa sesungguhnya (Malik yaum al-din) yaitu Allah. Ada Yang Maha Kuasa di atas para penguasa dunia, yaitu penguasa hari kiamat (Allah). Pesan tegas Allah dalam QS. Al-Qashash:5:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya;<br \/>\n&#8220;Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ayat 5 di atas menegaskan pemimpin zalim pasti lenyap dari muka bumi, dan diangkatlah dari kaum lemah (mustad&#8217;afin\/dhu&#8217;afa) menjadi pemimpin adil yang mampu menjaga aset dan kejayaan negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nPenutup uraian, raihlah Rahmat Allah dengan perjuangan sebagaimana para pahlawan dan pejuang, serta para pendiri bangsa untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan kita dibawa ke arah yang lebih dan paling maju. Allah memberkahi Rahmat untuk kemerdekaan bangsa Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka kita jangan melupakan Rahmat Allah. Merdeka karena Allah dengan Rahmat-Nya, dan Rahmat itu datang diberikan kepada bangsa (hamba Allah) yang semangat berjuang, bekerja keras, taat, saleh, dan jauh dari zalim, sombong, bohong, khianat, korupsi, eksploitasi, dan kejahatan, baik rakyat dan pemimpin\/penguasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga Allah menjauhkan pemimpin dan rakyat dari kezaliman, khianat, dan korupsi bagi pemimpin dan rakyat agar Allah selalu memberkahi dan merahmatu bangsa dan negara Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangsa yang semangat, dan mensyukuri nikmat, dan mengharap Rahmat dalam perjuangan di alam merdeka, Allah terus memberikan Rahmat.&#8221; Semboyan:<br \/>\n&#8220;Bangsa yang tahu Rahmat, jadilah bangsa yang dirahmati.&#8221;<br \/>\nAmin ya mujibas sailin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag Guru Besar UIN Raden Intan Lampung Amin Nugrah Santoso, SH, MH Dosen FH UNTIRTA Banten MAKNA RAHMAT : DALIL AL-QUR&#8217;AN DAN HADITS Makna Rahmat, secara Bahasa, Rahmat berarti kasih sayang, lemah lembut, karunia, nikmat, dan pertolongan. Makna Rahmat, secara Istilah, Rahmat adalah Kehendak Allah untuk berbuat baik kepada hamba-Nya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20232,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-20231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-16-at-07.29.25.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20233,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20231\/revisions\/20233"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}