{"id":20034,"date":"2026-05-27T02:05:59","date_gmt":"2026-05-27T02:05:59","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20034"},"modified":"2026-05-27T02:05:59","modified_gmt":"2026-05-27T02:05:59","slug":"idul-adha-menyembelih-ego-dan-rakus-demi-kesempurnaan-tauhid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=20034","title":{"rendered":"Idul Adha Menyembelih Ego dan Rakus demi Kesempurnaan Tauhid"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"66\" data-end=\"86\"><strong>Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag<\/strong><br \/>\nGuru Besar UIN Raden Intan Lampung dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"88\" data-end=\"678\">Idul Adha selalu datang membawa aroma yang khas. Takbir menggema di langit-langit masjid, gema doa memenuhi jalanan, sementara hewan-hewan qurban mulai disiapkan untuk disembelih. Namun sesungguhnya, Idul Adha bukan hanya tentang keramaian pagi hari atau nikmatnya hidangan daging setelah penyembelihan. Di balik semua itu, tersimpan pelajaran besar tentang bagaimana manusia harus belajar memotong kesombongan dirinya sendiri. Qurban bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi, melainkan menyembelih ego, kerakusan, dan cinta dunia yang sering kali tumbuh diam-diam di dalam hati manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"680\" data-end=\"1297\">Shalat Idul Adha menjadi pintu pertama menuju pelajaran tauhid itu. Sejak matahari belum tinggi, manusia berbondong-bondong meninggalkan rumah menuju lapangan terbuka. Mereka berjalan bersama tanpa melihat jabatan, kekayaan, atau kedudukan sosial. Seorang pejabat berdiri sejajar dengan rakyat biasa. Orang kaya merapatkan saf bersama buruh dan petani. Dalam hamparan sajadah yang sama, semua manusia kehilangan simbol kebesaran duniawinya. Yang tersisa hanyalah status sebagai hamba Allah. Di titik inilah Idul Adha mengajarkan bahwa kebesaran sejati bukan pada harta atau kuasa, tetapi pada ketundukan kepada Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1299\" data-end=\"1920\">Keunikan Shalat Id juga mengandung makna mendalam. Tidak ada adzan dan tidak ada khutbah sebelum shalat dimulai. Semua langsung diarahkan untuk fokus kepada Allah. Seolah Islam ingin mengajarkan bahwa sebelum manusia mendengar nasihat, sebelum manusia sibuk dengan urusan sosial dan dunia, hati harus lebih dulu tunduk kepada Rabb-nya. Inilah makna dari firman Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2 <em data-start=\"1696\" data-end=\"1725\">\u201cFashalli lirabbika wanhar\u201d<\/em> yang berarti \u201cMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.\u201d Ayat ini bukan hanya perintah ritual, tetapi juga panggilan spiritual agar manusia menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1922\" data-end=\"2420\">Takbir yang berkumandang berulang-ulang dalam Shalat Id sejatinya adalah latihan menghancurkan ego. Ketika lisan mengucap \u201cAllahu Akbar\u201d, sesungguhnya manusia sedang diingatkan bahwa dirinya kecil. Jabatan kecil. Harta kecil. Popularitas kecil. Yang besar hanyalah Allah. Karena itu, orang yang rajin bertakbir tetapi masih merasa dirinya paling hebat sesungguhnya belum memahami makna Idul Adha. Takbir bukan sekadar suara keras di pengeras suara, tetapi proses meruntuhkan kesombongan dalam dada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2422\" data-end=\"2937\">Idul Adha juga menjadi momentum pendidikan sosial yang luar biasa. Rasulullah memerintahkan perempuan, anak-anak, bahkan perempuan yang sedang haid untuk hadir menyaksikan syiar Idul Adha. Ini menunjukkan bahwa Idul Adha bukan ibadah individual yang hanya dinikmati pribadi-pribadi saleh. Ia adalah ibadah kolektif yang membangun rasa persaudaraan dan kepedulian sosial. Lapangan tempat Shalat Id menjadi simbol persatuan umat manusia di hadapan Allah. Tidak ada kelas sosial dalam sujud. Semua sama di hadapan-Nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2939\" data-end=\"3524\">Setelah Shalat Id selesai, pelajaran tauhid itu berlanjut dalam prosesi qurban. Di sinilah manusia diuji, apakah ia benar-benar mampu melepaskan apa yang dicintainya demi Allah. Banyak orang mudah mengucapkan cinta kepada Tuhan, tetapi berat mengeluarkan harta terbaiknya untuk orang lain. Karena itu, qurban sejatinya adalah ujian keikhlasan. Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan. Yang Allah lihat adalah ketakwaan dan ketulusan hati manusia sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3526\" data-end=\"4098\">Qurban juga merupakan latihan melawan sifat rakus yang semakin menguasai kehidupan modern. Hari ini manusia hidup dalam budaya menimbun. Banyak orang merasa aman ketika semua disimpan untuk dirinya sendiri. Bahkan ada yang rela hidup mewah sementara tetangganya kelaparan. Di sinilah qurban datang menghancurkan logika egoistik itu. Daging qurban tidak boleh dinikmati sendiri. Ia harus dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, tetangga, bahkan nonmuslim. Qurban mengajarkan bahwa rezeki bukan untuk dipusatkan pada diri sendiri, tetapi untuk menghidupkan rasa kemanusiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4100\" data-end=\"4709\">Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi fondasi spiritual Idul Adha. Nabi Ibrahim bukan sedang diuji tentang kemampuan menyembelih anaknya, tetapi diuji tentang siapa yang paling dicintainya, Allah atau dunia. Ketika beliau lulus dari ujian itu, Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan qurban. Pesannya sangat jelas bahwa orang beriman harus siap melepaskan apa pun yang menghalangi dirinya dari Allah. Dalam kehidupan hari ini, mungkin bukan anak yang harus \u201cdisembelih\u201d, tetapi keserakahan, ambisi berlebihan, kecintaan pada materi, dan hawa nafsu yang membuat manusia jauh dari nilai-nilai ketuhanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4711\" data-end=\"5246\">Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, manusia sering kali berubah menjadi pribadi yang individualis. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, bukan seberapa besar manfaat yang diberikan. Akibatnya, banyak orang kaya harta tetapi miskin empati. Banyak yang sukses karier tetapi gagal menjadi manusia yang peduli. Idul Adha hadir untuk menggugat cara berpikir seperti itu. Seekor hewan qurban yang dibagikan kepada masyarakat sesungguhnya lebih mulia daripada kekayaan yang hanya disimpan dalam rekening pribadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5248\" data-end=\"5712\">Imam Ibnul Qayyim pernah menjelaskan bahwa qurban disyariatkan agar jiwa manusia terbiasa melepaskan apa yang dicintainya. Sebab jika seekor kambing saja sulit dilepaskan karena sayang terhadap harta, bagaimana mungkin seseorang mampu meninggalkan dosa dan maksiat yang sudah dicintainya bertahun-tahun. Karena itu, Idul Adha bukan hanya ritual tahunan, tetapi sekolah kehidupan untuk melatih manusia menjadi pribadi yang ikhlas, dermawan, dan tunduk kepada Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5714\" data-end=\"6131\">Idul Adha mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsunya sendiri. Ego yang ingin dipuji. Rakus yang tak pernah puas. Kesombongan yang membuat diri merasa lebih tinggi dari orang lain. Semua penyakit hati itu harus \u201cdisembelih\u201d sebagaimana hewan qurban disembelih di hari raya. Sebab tanpa itu, Idul Adha hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa makna spiritual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6133\" data-end=\"6547\">Maka hakikat Idul Adha bukanlah tentang seberapa banyak daging yang dibagikan atau seberapa besar hewan yang disembelih. Hakikatnya adalah sejauh mana hati berubah setelahnya. Apakah manusia menjadi lebih rendah hati, lebih peduli kepada sesama, lebih ringan bersedekah, dan lebih dekat kepada Allah. Jika itu belum terjadi, boleh jadi yang tersentuh hanya pisau qurban, sementara hati masih tetap keras dan egois.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6549\" data-end=\"6906\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Idul Adha sejatinya adalah panggilan besar untuk kembali memurnikan tauhid. Bahwa hidup bukan tentang menuhankan diri sendiri, bukan tentang memuaskan ambisi tanpa batas, tetapi tentang kepasrahan total kepada Allah. Ketika ego berhasil disembelih dan kerakusan berhasil dipotong, saat itulah manusia menemukan makna kemerdekaan spiritual yang sesungguhnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag Guru Besar UIN Raden Intan Lampung dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung Idul Adha selalu datang membawa aroma yang khas. Takbir menggema di langit-langit masjid, gema doa memenuhi jalanan, sementara hewan-hewan qurban mulai disiapkan untuk disembelih. Namun sesungguhnya, Idul Adha bukan hanya tentang keramaian pagi hari atau nikmatnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20011,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-20034","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/WhatsApp-Image-2023-03-27-at-10.40.08.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20034"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20034\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20035,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20034\/revisions\/20035"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}