{"id":19593,"date":"2026-01-21T10:47:05","date_gmt":"2026-01-21T10:47:05","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19593"},"modified":"2026-01-21T10:47:05","modified_gmt":"2026-01-21T10:47:05","slug":"air-bersih-sumber-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19593","title":{"rendered":"Air Bersih Sumber Kehidupan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> Dosen UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Air merupakan kebutuhan pokok manusia, bahkan dikatakan oleh para pakar bahwa dalam tubuh manusia hampir 70-80 persen berisikan kandungan air. Dalam Islam, air kerap kali dibedakan pada jenis air mutlak dan non mutlak, adapun air mutlak adalah air suci yang mensucikan, artinya air tersebut belum tercampur dengan benda lain sehingga dapat disebut air mutlak, hal itu karena tidak diberi nama jenis air tertentu, melainkan tetap menjadi air mutlak, sedangkan air tidak mutlak kerap disebut juga air mustakmal yaitu air yang suci namun tidak dapat digunakan bersuci, karena air itu sudah tersentuh oleh tubuh atau anggota tubuh manusia. Sedangkan selanjutnya juga disebut air mutanajis atau air yang kemasukan benda najis sehingga tidak dapat digunakan untuk bersuci, selain itu juga air makhruh yaitu air yang suci namun tidak dapat digunakan untuk bersuci, seperti jenis air yang telah tercampur oleh benda atau zat tertentu sehingga keadaannya tetap suci tapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belajar dari beberapa definisi dan jenis-jenis air tersebut di atas, maka dapatlah diambil pelajaran bahwa Islam sangat peka dan jeli terhadap ragam air, sehingga Islam hanya mengambil air mutlak yang dapat digunakan untuk bersuci dan tidak pada jenis lainnya. Islam begitu selektif terhadap air yang dibutuhkan manusia, bukan hanya untuk kebersihan dan kesucian, melainkan untuk sumber kehidupan juga. Jika kita mengkonsumsi minuman dari air yang tidak sehat, maka kebutuhan tubuh kita tidak akan terpenuhi, dan akan dapat merusak organ tubuh lainnya seperti ginjal dan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelajaran besar yang dapat kita petik, betapa pentingnya air bersih bagi kehidupan kita, bahkan jika dapat dikatakan bahwa air paling baik adalah air bersih (air putih) yang banyak mengandung mineral. Meskipun air suci lainnya seperti minuman yang sudah tercampur dengan benda lain dan juga sudah berubah namanya menjadi lebel pada nama yang ada dalam campuran bahan tersebut tidak lagi disebut air mutlak, artinya ada resiko yang dapat berakibat buruk jika dimanfaatkan oleh tubuh manusia dalam waktu yang lama, meskipun air itu tidak najis atau tidak diharamkan, namun air itu telah tercampur bahan lain yang akan menyebabkan ginjal bekerja dengan keras dan akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh kita. Untuk itu, kita harus memperbanyak air putih agar kita senang sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat ini, khususnya di kota-kota besar sangat sulit menemukan air bersih, hal ini terjadi karena pola hidup modern yang dilakukan saat ini, limbah rumahan atau juga hasil deterjen atau benda lainnya yang dapat mengotori atau mencemari air itu akan senantiasa menjadikan krisi air bersih. Kesulitan air bersih tersebut sehingga menyebabkan banyaknya penyulingan air yang telah tercemar diolah menjadi air bersih, meskipun demikian, tentunya tidak akan menghasilkan air bersih seperti air mutlak yang berasal dari sumur, sungai (yang masih bersih), sumber mata air, embun, salju, air laut, dan air hujan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Air merupakan kebutuhan pokok manusia, bahkan dikatakan oleh para pakar bahwa dalam tubuh manusia hampir 70-80 persen berisikan kandungan air. Dalam Islam, air kerap kali dibedakan pada jenis air mutlak dan non mutlak, adapun air mutlak adalah air suci yang mensucikan, artinya air tersebut belum tercampur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19501,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-19593","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-19.09.19.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19593","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19593"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19593\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19595,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19593\/revisions\/19595"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}