{"id":19541,"date":"2026-01-16T02:16:34","date_gmt":"2026-01-16T02:16:34","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19541"},"modified":"2026-01-16T02:19:22","modified_gmt":"2026-01-16T02:19:22","slug":"isra-miraj-dan-tiga-pilar-kesalehan-spiritual-sosial-dan-ekologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19541","title":{"rendered":"Isra Mi\u2019raj dan Tiga Pilar Kesalehan Spiritual Sosial dan Ekologis"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI<\/strong> Pengasuh Ponpes Nashihuddin Bandar Lampung<\/p>\n<p>Peristiwa Isra Mi\u2019raj merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan moral dan spiritual. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha bukan hanya mukjizat yang meneguhkan kenabian, tetapi juga mengandung arah etik bagi kehidupan umat manusia. Isra Mi\u2019raj menegaskan bahwa iman tidak cukup berhenti pada ritual ibadah, melainkan harus terwujud dalam perilaku sosial dan tanggung jawab terhadap alam semesta. Dalam situasi dunia yang dihadapkan pada krisis moral ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan, pesan Isra Mi\u2019raj semakin menemukan relevansinya.<\/p>\n<p>Pesan utama Isra Mi\u2019raj terletak pada penguatan kesalehan spiritual. Perintah salat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW secara langsung menunjukkan betapa sentralnya relasi manusia dengan Tuhan. Salat menjadi sarana pembentukan kesadaran ilahiah yang menuntun manusia pada ketenangan batin dan kejernihan nurani. Kesalehan spiritual membangun fondasi moral yang kokoh, menata niat, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan sikap jujur dan ikhlas. Tanpa fondasi spiritual yang kuat, praktik keagamaan berisiko terjebak pada formalitas yang kering dari nilai dan makna.<\/p>\n<p>Namun Isra Mi\u2019raj tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Peristiwa ini juga mengandung pesan kuat tentang kesalehan sosial. Salat yang benar seharusnya melahirkan kepekaan terhadap penderitaan sesama dan komitmen pada keadilan. Al Quran menegaskan bahwa ibadah yang sejati akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, kesalehan spiritual harus berbuah pada sikap empati kepedulian dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Iman yang tidak tercermin dalam kepedulian sosial berpotensi menjadi iman yang eksklusif dan kehilangan dimensi kemanusiaannya.<\/p>\n<p>Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kesalehan sosial menjadi kunci dalam merawat persatuan dan memperkuat toleransi. Isra Mi\u2019raj mengingatkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber etika publik yang menumbuhkan keadaban sosial, bukan alat pembenaran konflik. Ketika nilai kejujuran keadilan dan kasih sayang dijadikan prinsip hidup bersama, agama benar benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kesalehan sosial inilah yang menjadi jembatan antara iman personal dan tanggung jawab kebangsaan.<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi, Isra Mi\u2019raj juga dapat dimaknai sebagai panggilan untuk membangun kesalehan ekologis. Perjalanan Rasulullah SAW melintasi ruang dan alam semesta menyadarkan manusia akan kebesaran dan keteraturan ciptaan Tuhan. Alam bukanlah objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas, melainkan amanah yang harus dijaga dan dilestarikan. Kesalehan ekologis menuntut sikap bijak dalam mengelola sumber daya alam, menghindari perusakan lingkungan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan.<\/p>\n<p>Kesalehan ekologis memiliki keterkaitan erat dengan kesalehan spiritual dan sosial. Kesadaran akan kehadiran Tuhan akan mendorong manusia untuk bersikap lebih bertanggung jawab terhadap alam. Demikian pula kepedulian sosial tidak akan utuh tanpa kesadaran ekologis, sebab dampak kerusakan lingkungan selalu dirasakan paling berat oleh kelompok masyarakat yang lemah. Isra Mi\u2019raj mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara Tuhan manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.<\/p>\n<p>Ketiga pilar kesalehan tersebut spiritual sosial dan ekologis harus dipahami secara utuh dan saling menguatkan. Kesalehan spiritual tanpa kepedulian sosial dapat melahirkan sikap apatis. Kesalehan sosial tanpa fondasi spiritual berisiko kehilangan arah moral. Sementara kesalehan ekologis tanpa keduanya akan sulit tumbuh sebagai kesadaran kolektif. Isra Mi\u2019raj menjadi momentum refleksi untuk menata kembali cara beragama agar lebih kontekstual, seimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan.<\/p>\n<p>Peringatan Isra Mi\u2019raj tidak cukup dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan. Ia harus menjadi titik balik dalam membangun keberagamaan yang transformatif. Ketika salat membentuk karakter, karakter melahirkan kepedulian sosial, dan kepedulian sosial mendorong tanggung jawab ekologis, maka pesan Isra Mi\u2019raj benar benar hidup dalam realitas. Di situlah Isra Mi\u2019raj menjadi inspirasi untuk meneguhkan iman sekaligus merawat keadilan sosial dan kelestarian alam demi masa depan bersama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kiai. Khabibul Muttaqin, SHI Pengasuh Ponpes Nashihuddin Bandar Lampung Peristiwa Isra Mi\u2019raj merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah Islam yang sarat dengan pesan moral dan spiritual. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha bukan hanya mukjizat yang meneguhkan kenabian, tetapi juga mengandung arah etik bagi kehidupan umat manusia. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19520,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-19541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_9402-1536x866-2.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19541"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19545,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19541\/revisions\/19545"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19520"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}