{"id":19511,"date":"2026-01-06T22:53:29","date_gmt":"2026-01-06T22:53:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19511"},"modified":"2026-01-06T23:01:33","modified_gmt":"2026-01-06T23:01:33","slug":"etika-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19511","title":{"rendered":"Etika Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> Dosen UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Etika lingkungan memberikan solusi pada krisis global yang terjadi pada saat ini. Etika lingkungan mengajak pada setiap individu untuk peduli terhadap lingkungan yang merupakan bagian dari moral dan bukan hanya sekadar etika sosial semata. Etika moral berarti mengajak kepada individu bahwa memperlakukan lingkungan merupakan bagian dari tugas mulia yang dianugerahkan Tuhan kepada hambanya dan perilaku itu akan bernilai amal shaleh jika dijalankan dengan penuh ketaatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaliknya, kerusakan dan kesewenangan hingga keserakahan dan kesombongan manusia adalah bagian dari kemaksiatan besar dan juga bentuk dari pengkhianatan. Disadari atau tidak bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya adalah untuk manusia, dan dari segala ciptaannya itulah Allah buktikan bukti-bukti kebesarannya. Lalu apa hal yang harus dilakukan hamba?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai hamba Allah yang sempurna dan paling mulia, hingga dipilihnya manusia sebagai Khalifah, maka manusia harus mampu bersikap adil, amanah dan tawazun (seimbang). Alam dan lingkungan memiliki intrinsik sehingga manusia harus mampu memerankan dirinya secara dinamis, karena sikap itulah yang dibutuhkan oleh alam dan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sifat dinamis itu dapat mencakup adil, amanah dan seimbang. Jika kita kembali pada penciptaan alam dan lingkungan, maka kita akan ingat pada pesan ayat qauliyah bahwa Allah ciptakan bumi sebagai hamparan, langit tanpa tiang dan gunung-gunung sebagai penyeimbang. Dari situlah kita dapat pelajaran mulia bahwa semua itu adalah bukti kebesaran Tuhan, keseimbangan tata surya dan planet termasuk bumi akan berjalan seirama sesuai fitrah yang diatur-Nya, sehingga tidak ada satupun di antaranya yang ingin unggul dan menunjukkan dirinya yang paling cepat atau paling lambat kecuali memang sudah fitrah. Jika hal itu terjadi maka akan terjadilah kerusakan dan kebinasaan. Ketika gunung yang menjadi pasak digunduli, sumberdaya alam dieksploitasi, sampah menumpuk tidak terbendung, limbah pabrik dan hasil produksi hingga polusi kendaraan tidak lagi dapat terbendung, maka di sana ada sebuah pergeseran, dan pergeseran itu adalah ancaman dan rambu-rambu awal dari kehancuran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika kerusakan itu terjadi, maka kita semua berpikir dengan benar, baik akademisi, aktifis, perintah, masyarakat dan juga agamawan harus mampu membahasakan secara logis kepada masyarakat bahwa menjaga dan merawat adalah tanggung jawab bersama, dan perbuatan mulia itu jika dilakukan dengan baik akan menjadi jariyah yang mengalir dan bernilai pahala. Sedangkan merusak adalah hal yang dilarang karena akan menimbulkan bahaya dan akan berimbas pada keberlangsungan kehidupan baik manusia dan makhluk lainnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Etika lingkungan memberikan solusi pada krisis global yang terjadi pada saat ini. Etika lingkungan mengajak pada setiap individu untuk peduli terhadap lingkungan yang merupakan bagian dari moral dan bukan hanya sekadar etika sosial semata. Etika moral berarti mengajak kepada individu bahwa memperlakukan lingkungan merupakan bagian dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19501,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-19511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2025-11-21-at-19.09.19.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19511"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19511\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19512,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19511\/revisions\/19512"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}