{"id":19250,"date":"2025-10-16T03:32:51","date_gmt":"2025-10-16T03:32:51","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19250"},"modified":"2025-10-16T03:32:51","modified_gmt":"2025-10-16T03:32:51","slug":"mui-lampung-desak-kpi-dan-dewan-pers-investigasi-siaran-yang-menyakiti-pesantren","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19250","title":{"rendered":"MUI Lampung Desak KPI dan Dewan Pers Investigasi Siaran yang Menyakiti Pesantren"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bandar Lampung, <strong>MUI Lampung Digital<\/strong><\/p>\n<p>Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung mengeluarkan surat pernyataan resmi menanggapi narasi dalam salah satu siaran TV Trans7 yang dinilai sangat menyakiti keluarga besar pondok pesantren dan para santri.<\/p>\n<p>Dalam surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Lampung, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag., dan Sekretaris Umum Dr. H. Mansur Hidayat, M.Sos.I., MUI menilai siaran tersebut bukan sekadar bahan lelucon, tetapi telah mencederai kehormatan pesantren serta berpotensi mengganggu harmoni sosial dan ketentraman umum.<\/p>\n<p>MUI Lampung mendesak lembaga terkait seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers untuk melakukan investigasi terhadap produk siaran yang dianggap menistakan lembaga pesantren.<\/p>\n<p>Jika dalam hasil investigasi ditemukan pelanggaran kode etik jurnalistik maupun Undang-Undang Penyiaran, MUI meminta agar Trans7 diberikan sanksi tegas supaya tidak semena-mena dalam menggunakan ruang publik untuk menistakan dan memfitnah kelompok masyarakat tertentu.<\/p>\n<p>Selain itu, MUI Lampung juga mengimbau masyarakat, khususnya keluarga besar pondok pesantren, simpatisan, dan wali santri, untuk tetap menjaga kondusivitas serta tidak terpancing melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan ketegangan sosial.<\/p>\n<p>MUI menegaskan bahwa persoalan ini perlu ditangani oleh lembaga yang berwenang sesuai mandat konstitusi, seperti KPI dan Dewan Pers.<\/p>\n<p>Terkait dengan permintaan maaf dari pihak Trans7, MUI Lampung menyatakan dapat menerimanya sepanjang disertai dengan sikap terbuka dan kesungguhan untuk tidak mengulangi tindakan serupa di kemudian hari.<\/p>\n<p>\u201cPermintaan maaf tidak boleh menghapus fakta bahwa telah terjadi penistaan terhadap pesantren dan lingkungan santri,\u201d demikian salah satu poin dalam surat tersebut.<\/p>\n<p>MUI Lampung menegaskan komitmen dalam menjaga kehormatan lembaga pendidikan pesantren dan menyerukan agar media massa lebih berhati-hati serta beretika dalam menayangkan konten yang menyangkut institusi keagamaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Bandar Lampung, MUI Lampung Digital Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung mengeluarkan surat pernyataan resmi menanggapi narasi dalam salah satu siaran TV Trans7 yang dinilai sangat menyakiti keluarga besar pondok pesantren dan para santri. Dalam surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Lampung, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag., dan Sekretaris Umum Dr. H. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,50],"tags":[],"class_list":["post-19250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-mui"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/035555fb-18fe-484b-b839-4055ca39d270-1.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19250"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19250\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19252,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19250\/revisions\/19252"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}