{"id":19153,"date":"2025-09-24T23:59:19","date_gmt":"2025-09-24T23:59:19","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19153"},"modified":"2025-09-24T23:59:19","modified_gmt":"2025-09-24T23:59:19","slug":"perkuat-syiar-di-era-digital-rmi-nu-lampung-timur-bekali-puluhan-pesantren-strategi-media","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=19153","title":{"rendered":"Perkuat Syiar di Era Digital, RMI NU Lampung Timur Bekali Puluhan Pesantren Strategi Media"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Lampung Timur, <strong>MUI Lampung Digital <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rabithah Ma\u2019ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Lampung Timur menggelar Halaqoh Media Pondok Pesantren sebagai langkah strategis untuk menggenjot kekuatan syiar di dunia digital. Mengusung tema &#8220;Membangun Kekuatan Pesantren pada Dunia Digital,&#8221; acara ini dihadiri 109 pengurus pondok dan pengelola media dari 49 pesantren se-Lampung Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan yang dipusatkan di Mushola Formal Pondok Pesantren Darussalamah, Braja Dewa, Way Jepara, pada Jumat (12\/9\/2025) malam ini menjadi wadah konsolidasi untuk menghadapi tantangan digitalisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut dibuka dengan khidmat melalui pembacaan ayat suci Al-Qur&#8217;an, lagu Indonesia Raya, dan lantunan sholawat oleh santri PP Darussalamah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PCNU Lampung Timur, KH. Dardiri Ahmad, S.H.I., secara tegas menyerukan agar pesantren tidak lagi menjadi penonton di era digital. &#8220;Pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki lembaga lain. Di Lampung, kita masih kurang bersyiar di dunia maya. Maka, ayo kita kejar FYP (For You Page) dengan konten positif dan inspiratif,&#8221; serunya saat membuka acara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dukungan serupa datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lampung Timur yang menyoroti transformasi citra pesantren berkat media. &#8220;Dulu pesantren dibangun di pinggir kampung atau lereng gunung. Kini, banyak pesantren berani dibangun di tengah kota, dan yang tua pun bisa dikenal luas berkat media,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, Ketua RMI PCNU Lampung Timur, Kyai Hasan Al Antor, S.Sy., M.Pd., mengajak seluruh perwakilan pesantren untuk bersatu padu membenahi citra dan mempromosikan gerakan &#8220;Ayo Mondok&#8221; melalui konten-konten kebaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai tuan rumah, Pengasuh PP Darussalamah, KH. Imam Sibawaih, S.H.I., M.Sy., menekankan bahwa digitalisasi selaras dengan prinsip NU, al-muhafadhotu &#8216;ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. &#8220;Salah satu langkah konkret kami adalah membangun Darussalamah Digital Technology Boarding School sebagai komitmen mengarungi dunia digital,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari Konten Praktis Hingga Jihad Jurnalistik<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memasuki acara inti, seminar yang dipandu oleh moderator Agus Dr. Roro Fatihin menghadirkan dua narasumber kompeten dari RMI PWNU Lampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemateri pertama, Ade Erlangga, M.Pd., yang merupakan Wakil Sekretaris RMI PWNU Lampung, memberikan tips praktis pembuatan konten dakwah. &#8220;Editing saat ini tidak perlu alat mahal, cukup di HP. Buatlah konten yang ringan agar mudah diserap masyarakat,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mencontohkan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dengan mengadaptasi desain poster film viral atau tokoh terkenal, kemudian memberinya sentuhan santri seperti peci dan memodifikasi kata-katanya menjadi nilai-nilai Islam. &#8220;Jangan hanya posting yang viral\u2014postinglah yang bernilai. Jangan hanya cari engagement, tapi cari keberkahan,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemateri kedua, Hafidz Fatur Rahman, S.H., yang juga Wakil Sekretaris RMI PWNU Lampung, mengupas sisi strategis dan jurnalistik. Ia mendorong pesantren untuk memiliki website sebagai rujukan utama calon santri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, santri harus aktif menulis untuk melawan narasi negatif yang terstruktur. &#8220;Kebenaran yang tidak disampaikan secara masif dan terstruktur akan dikalahkan oleh narasi negatif,&#8221; tegasnya. &#8220;Di era digital ini, jihad kadang menjelma lewat jempol yang menulis kebenaran. Media pesantren adalah medan perjuangan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Acara ditutup dengan penegasan program kerja media oleh pengurus RMI PCNU Lampung Timur dan doa oleh perwakilan PCNU, mengukuhkan komitmen bersama untuk secara kolektif menguatkan eksistensi dan marwah pesantren di ruang digital. (Anang Ghozali\/Rita Zaharah)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung Timur, MUI Lampung Digital Rabithah Ma\u2019ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Lampung Timur menggelar Halaqoh Media Pondok Pesantren sebagai langkah strategis untuk menggenjot kekuatan syiar di dunia digital. Mengusung tema &#8220;Membangun Kekuatan Pesantren pada Dunia Digital,&#8221; acara ini dihadiri 109 pengurus pondok dan pengelola media dari 49 pesantren se-Lampung Timur. Kegiatan yang dipusatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19157,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,51],"tags":[],"class_list":["post-19153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-nasional-dan-daerah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/WhatsApp-Image-2025-09-13-at-20.33.43.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=19153"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19153\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19158,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/19153\/revisions\/19158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/19157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=19153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=19153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=19153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}