{"id":18782,"date":"2025-07-30T03:18:26","date_gmt":"2025-07-30T03:18:26","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18782"},"modified":"2025-07-30T03:18:26","modified_gmt":"2025-07-30T03:18:26","slug":"seputar-masjid-aku-tidak-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18782","title":{"rendered":"Seputar Masjid; Aku Tidak Sendiri"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<p><strong>Dr. Agus Hermanto, MHI<\/strong> <em>Dosen UIN Raden Intan Lampung<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masjid pada umumnya dibangun pada tanah hibah atau wakaf, dari dana infaq dan shadaqah yang terkumpul untuk mendirikannya, artinya bahwa masjid milik umat dan diperuntukkan seluruhnya demi melayani umat. Dalam keorganisasian di lingkungan masjid, tidak seyogianya seorang pengurus mengatakan &#8220;kalau bukan aku, tidak akan berjalan kegiatan di masjid&#8221; atau kalimat &#8220;hanya aku yang paham sejarah masjid ini&#8221; ditambah lagi &#8220;hanya pada zamanku kegiatan masjid ini berjalan&#8221;. Dari statement-statement inikah memantik penulis menuangkan opini tentang persoalan masjid.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hanya orang yang egois yang mengatakan bahwa dirinya adalah segalanya. Hal ini biasanya muncul karena ada perasaan ingin diakui, dihormati dan dianggap lebih dari rata-rata orang pada umumnya. Ketika ketua masjid mengatakan bahwa tidak akan ada kegiatan kecuali atas ijinnya, maka yakinlah kegiatan masjid tidak akan jalan. Jika seorang yang sudah sepuh dan tidak lagi lazim menjadi imam pada saat ini, karena suaranya terbatas, tapi istiqamahnya tinggi, seyogianya harus kontrol diri untuk berpikir kaderisasi. Seorang pemuda yang memiliki tenaga kuat, ide banyak harus juga kontrol agar idenya disesuaikan dengan kebutuhan jamaah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang ketua masjid harus mampu membangun skill pemimpin yang mampu mendistribusikan tugas dengan bidang-bidang yang ada, memiliki komunikasi yang baik hingga dapat diterima oleh para jamaah, dan bahkan harus selalu mensupport dan tidak gila kehormatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan masjid tidak dapat dimonopoli oleh perorangan atau kelompok, namun semua kegiatan yang ada haruslah berdasarkan rapat dan tidak seenak sendiri mengambil kebijakan, bahkan seorang ketua. Tidak seyogyanya seorang ketua merasa bahwa masa jabatannya adalah lebih baik bahkan terbaik dibandingkan sebelumnya, dan akan berpikir ingin selalu menjadi ketua para periode selanjutnya. Orang yang telah mendahului kita baik waqif, maupun para pemberi infaq, shadaqah hingga pengurusan sebelumnya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, semua berkesinambungan dan saling menjaga nilai-nilai kebersamaan yaitu ukhuwah Islamiyah dengan mewujudkan kemakmuran masjid.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Masjid pada umumnya dibangun pada tanah hibah atau wakaf, dari dana infaq dan shadaqah yang terkumpul untuk mendirikannya, artinya bahwa masjid milik umat dan diperuntukkan seluruhnya demi melayani umat. Dalam keorganisasian di lingkungan masjid, tidak seyogianya seorang pengurus mengatakan &#8220;kalau bukan aku, tidak akan berjalan kegiatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18696,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-18782","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-18-at-06.13.02.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18782","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18782"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18782\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18784,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18782\/revisions\/18784"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18782"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18782"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18782"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}