{"id":18704,"date":"2025-07-19T04:44:18","date_gmt":"2025-07-19T04:44:18","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18704"},"modified":"2025-07-19T05:08:16","modified_gmt":"2025-07-19T05:08:16","slug":"bahagia-dan-galau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18704","title":{"rendered":"Bahagia dan Galau"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Bahagia dan Galau<\/strong><br \/>\nDr. Agus Hermanto, MHI<br \/>\n<em>Dosen UIN Raden Intan Lampung<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahagia adalah harapan setiap orang, namun kehidupan tidak akan menjamin setiap orang merasakannya, terkadang merasa bahagia, namun pada saat lain juga merasakan kegalauan. Laki-laki dan perempuan dalam menyikapi kegalauan kerap kali berbeda, perempuan cenderung bercerita, dan selalu menceritakan segala apa yang dirasakannya, sedangkan laki-laki kerap kali mengambil sikap menyendiri dibandingkan dengan bercerita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itulah perempuan kerap membutuhkan sahabat saat dibenturkan dengan masalah, sedangkan laki-laki kerap menyendiri bahkan mencari hiburan lain pada saat dibenturkan masalah. Hal ini tidak mutlak, namun kerap kali ada benarnya. Bercerita bagi perempuan pada saat dibenturkan masalah adakah jalan untuk mengeluarkan rasa galau, jengkel, hingga kemarahan dan kesedihan, berbeda dengan laki-laki yang justru kerap kali menyendiri hingga mencari kesibukan berupa hiburan untuk mencari solusi dan jalan keluarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laki-laki yang biasa keluar rumah untuk bekerja, saat ia pulang kerap kali membutuhkan waktu walau sejenak untuk mengeluarkan pikiran, beban hingga aura negatif yang mungkin masih melekat pada dirinya, namun pada saat yang sama kerap kali perempuan justru memiliki beragam persoalan selama di rumah dan sibuk mengerjakan banyak pekerjaan dan belum lagi vibes rumah yang juga kerap kali menjadi toksik baginya, sehingga saat suami pulang kerap tidak menunggu lama ia langsung bercerita dan menyatakan uneg-uneg yang ada pada pikirannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sinilah kita dalam membangun rumah tangga kerap kali membutuhkan kebahagiaan dan ketenangan, sedangkan hal itu akan dapat terwujud manakala tidak adanya kasih sayang dan akhlakul karimah. Pengertian dan saling perhatian adalah bentuk komunikasi yang baik, sehingga sebuah rumah tangga akan terwujud sebuah keharmonisan yang sejati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laki-laki tidak harus selamanya dilayani, terkadang ia juga harus melayani, perempuan tidak pula selamanya menjadi pelayan, melainkan ia juga kadang harus dilayani, melayani laki-laki dengan cara menghormati dan memuliakan, sedangkan melayani perempuan dengan penuh perhatian kasih sayang dan juga penuh kelembutan. Meskipun laki-laki digariskan sebagai kepala rumah tangga, namun pada saat yang sama ia juga harus menjadi sesosok yang baik pada pasangannya dengan membantu pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring, bersih-bersih lingkungan, yang mana hal ini kerap kali dilekatkan pada perempuan. Begitu juga sebaliknya, bahkan perempuan yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kegiatan rumah tangga di lingkungan rumah termasuk mengasuh anak, pada saat yang lain ia juga harus mampu menunjukkan sikap perhatian dan penuh harap kepada suaminya, karena suami atau laki-laki akan sangat terasa bangga ketika ia dibutuhkan dan dihargai, terutama pada saat-saat dimana suami sedang adanya persoalan yang dihadapinya, baginya istri adalah inspirasi, sehingga layak jika dikatakan bahwa &#8220;dibalik suksesnya suami terdapat istri yang shalihah&#8221;.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahagia dan Galau Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Bahagia adalah harapan setiap orang, namun kehidupan tidak akan menjamin setiap orang merasakannya, terkadang merasa bahagia, namun pada saat lain juga merasakan kegalauan. Laki-laki dan perempuan dalam menyikapi kegalauan kerap kali berbeda, perempuan cenderung bercerita, dan selalu menceritakan segala apa yang dirasakannya, sedangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18696,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-18704","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-18-at-06.13.02.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18704","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18704"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18704\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18712,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18704\/revisions\/18712"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18704"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18704"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18704"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}