{"id":18695,"date":"2025-07-18T00:16:38","date_gmt":"2025-07-18T00:16:38","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18695"},"modified":"2025-07-18T00:16:38","modified_gmt":"2025-07-18T00:16:38","slug":"kedekatan-anak-laki-laki-pada-ayahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18695","title":{"rendered":"Kedekatan Anak Laki-Laki Pada Ayahnya"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Kedekatan Anak Laki-Laki Pada Ayahnya<\/strong><br \/>\nDr. Agus Hermanto, MHI<br \/>\n<em>Dosen UIN Raden Intan Lampung<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anak merupakan generasi masa depan yang kelak akan menjadi penerus kita, sehingga pendidikan anak sangatlah menentukan kepada sikap dan prilakunya kelak setelah dewasa. Anak selain harus dekat pada ibunya juga harus dekat dengan ayahnya. Seorang ibu yang begitu sabar, penuh cinta, ulet dan telaten mengurusinya, menunjukkan betapa pentingnya sikap kasih sayang pada dirinya. Namun dibalik itu ada seorang ayah yang tangguh, namun juga penuh kasih sayang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anak laki-laki bisanya memiliki masa pertumbuhan yang berbeda dengan anak perempuan, sehingga ia harus memiliki strategi khusus untuk dapat membimbing dan merawatnya hingga tumbuh besar menjadi manusia yang sempurna. Anak akan tumbuh dan membesar baik laki-laki maupun perempuan sesuai dengan fitrahnya, sehingga mereka harus mendapatkan sentuhan yang sedikit berbeda, misalnya anak perempuan pada masa kecilnya suka main boneka, sebaliknya anak laki-laki tidak direkomendasikan untuk bermain boneka, begitu juga ketika anak laki-laki suka bermain bola atau mobilan, maka tidak direkomendasikan bagi anak perempuan untuk bermain demikian, hal ini merupakan bentuk penanaman nilai-nilai skill yang beda antara keduanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa anak laki-laki harus dekat pada ayahnya? Laki-laki memiliki kecenderungan yang beda dengan perempuan, baik pada masa kecil hingga kelak setelah ia dewasa. Anak laki-laki yang jauh dari sentuhan ayahnya akan memiliki karakter yang buruk pada kemudian hari dan bahkan akan memiliki kecenderungan yang tidak lazim, sesuai fitrah yang dimilikinya. Seorang ayah yang biasa memiliki tugas untuk mencari nafkah, dengan segala kesibukannya di luar rumah, maka dia pun harus selalu menyempatkan waktunya untuk bersama anak-anak nya, terutama anak laki-laki. Banyak di antara kita yang dengan kesibukannya di luar rumah hingga kerap kali meninggalkan hak untuk anak-anaknya, sehingga sentuhan kasih sayang hanya didapatkan dari ibunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibu akan mengajarkan kasih sayang pada anaknya terutama bagi anak laki-laki, ketika terlalu dekat dengan ibunya dan jauh dari ayahnya akan banyak kesempatan baginya untuk memberontak, karena ia tidak tahu bagaimana menjadi laki-laki yang sejati. Anak laki-laki ketika bersama adek laki-lakinya kerap berebut mainan dan kerap bertengkar, hal itu wajar sebagai jiwa anak-anak, namun dibalik semua itu, seorang ayah harus mampu mengawalnya agar ia tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah. Seorang laki-laki yang mengajarkan kekerasan pada saat ia berselisih dengan adeknya, dimarahi misalnya, maka ia akan sesungguhnya seorang ayah sedang mengajarkan kekerasan pada anak lakinya, ketika seorang ayah dengan kesibukannya kerap kali tidak peduli pada anak-anaknya terutama anak laki-laki, maka ia akan mencontoh perilaku ayahnya yang sombong, dingin, angkuh dan tidak ramah serta tanpa adanya kasih sayang, terlebih ketika ayahnya selalu melakukan kekerasan pada ibunya atau bahkan kerap melakukan tindakan buruk seperti judi, mabuk, bahkan merokok, maka anak pun akan tertanam sebuah core believe pada dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indikasi anak laki-laki nakal atau memiliki kelainan hingga pada masa dewasanya memiliki karakter buruk di antaranya adalah karena ada indikasi buruk sebagai jejak memori anak yang dilihat dan didengar dari seorang ayahnya. Untuk itu, tulisan ini mengajak kepada para ayah untuk senantiasa dekat pada anak-anak terutama anak laki-laki, agar ia tumbuh sesuai fitrahnya dan mendapatkan bimbingan yang layak dari sesosok ayah yang baik hingga tumbuh dan menjadi dewasa penuh dengan karismatik dan menjadi laki-laki sesuai fitrahnya. Wacana yang ditanamkan seorang ayah kepadanya hingga perilaku yang diajarkan kepadanya termasuk bagaimana cara menyelesaikan masalah mulai dari hal yang paling ringan hingga yang paling berat ia akan tangguh dan benar-benar sempurna.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Kedekatan Anak Laki-Laki Pada Ayahnya Dr. Agus Hermanto, MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Anak merupakan generasi masa depan yang kelak akan menjadi penerus kita, sehingga pendidikan anak sangatlah menentukan kepada sikap dan prilakunya kelak setelah dewasa. Anak selain harus dekat pada ibunya juga harus dekat dengan ayahnya. Seorang ibu yang begitu sabar, penuh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18696,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-18695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-18-at-06.13.02.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18695"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18698,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18695\/revisions\/18698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}