{"id":1861,"date":"2016-09-06T01:13:07","date_gmt":"2016-09-06T01:13:07","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=1861"},"modified":"2016-09-06T01:13:07","modified_gmt":"2016-09-06T01:13:07","slug":"asbisindo-kemukakan-alasan-bank-syariah-memperolah-share-rendah-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=1861","title":{"rendered":"ASBISINDO Kemukakan Alasan Bank Syari\u2019ah Memperolah Share Rendah di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1862\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/09\/14215555_1068769506503605_359636549_o.jpg\" alt=\"14215555_1068769506503605_359636549_o\" width=\"1280\" height=\"720\" \/><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung<\/strong>: \u201cAda banyak alasan kenapa share Bank Syari\u2019ah di bawah 5% di Indonesia,<!--more--> padahal targetnya adalah 10%,\u201d ungkap Heri Suhendro, ketua DPW Asbisindo Lampung pada saat audensi antara MUI Lampung dan DPW ASBISINDO Wilayah Lampung yang bertempat di <em>meeting room<\/em> BPRS Mitra Agro Usaha lantai 2 pada Senin (5\/9\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ungkapan Heri Suhendro tersebut karena ada pernyataan dari salah satu anggota Komisi Ekonomi Keumatan MUI Lampung, Dr. Marselina, S.E., M.Si., yang mempertanyakan kenapa share bank Syari\u2019ah di Indonesia mencapai lima persen padahal targetnya sepuluh persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDi Lampung sebenarnya perbankan syari\u2019ah pernah mencapai enam persen pada tahun 2011-2012, namun sekarang ini, untuk mendapatkan share di atas lima persen perlu effort yang luar biasa. Kalau mau share lebih lima persen, program tax amnesty yang ditargetkan pemerintah 4.000 trilyun, jika 1.000 trilyunnya saja bisa dimasukkan ke perbankan syari\u2019ah (yang diwajibkan mengendap selama tiga tahun), tentu perbankan syari\u2019ah akan mampu menembus share sampai sepuluh persen\u201d, papar\u00a0 Heri Suhendro.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada beberapa alasan lainnya yang dihasilkan dari diskusi yang dikemukakan oleh beberapa pengurus Asbisindo terkait rendahnya share yang didapat di perbankan syari\u2019ah. Pertama, terkait produk yang dihasilkan baik dari pembiayaan ataupun sumber dana (funding). Sumber dana yang dikelola oleh perbankan syari\u2019ah masih dari sumber dana komersil yang mengharapkan bagi hasil atau bonus. Sebenarnya bisa saja mencapai 10 persen share yang diperoleh perbankan syari\u2019ah asal funding yang menitipkan dana tidak mengharapkan bagi hasil atau bonus. Kedua, publikasi tentang kesyari\u2019ahan masih sangat minim. Selama ini mindside yang ada di masyarakat bahwa meminjam di perbankan syari\u2019ah lebih tinggi di bandingkan dengan perbankan konvensional. Keempat, sebenarnya bisa saja share perbankan syari\u2019ah di Lampung bisa mencapai sepuluh persen, jika Bank Lampung yang dimiliki pemerintah provinsi menjadi \u201cmuallaf\u201d pindah ke perbankan syari\u2019ah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBegitupun jika di beberapa pemerintah daerah yang belum memiliki perbankan syari\u2019ah seperti Pringsewu, Pesawaran, Tulang Bawang, dan Mesuji mendirikan perbankan syari\u2019ah yang menjadi BUMD, kemungkinan mendapatkan share sepeluh persen bisa tercapai di Lampung\u201d, pungkas Heri Suhendro. (Abdul Qodir Zaelani)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: \u201cAda banyak alasan kenapa share Bank Syari\u2019ah di bawah 5% di Indonesia,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1862,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-1861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1861\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}