{"id":18503,"date":"2025-06-26T22:01:58","date_gmt":"2025-06-26T22:01:58","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18503"},"modified":"2025-06-26T22:01:58","modified_gmt":"2025-06-26T22:01:58","slug":"peran-gender-dalam-merespon-tradisi-lokal-di-masjid-darul-hidayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18503","title":{"rendered":"Peran Gender dalam Merespon Tradisi Lokal di Masjid Darul Hidayah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bandar Lampung, <strong>MUI Lampung Digital<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masjid Darul Hidayah, yang terletak di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, peringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah dengan rangkaian kegiatan yang sarat makna. Acara berlangsung hangat dan khidmat pada Kamis malam Jum\u2019at, (26\/06\/2025). Menghadirkan momentum istimewa yang menggabungkan nilai-nilai tradisi lokal dengan semangat pembaruan sosial keagamaan yang inklusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, dilanjutkan dengan Istighosah bersama yang diikuti oleh seluruh jamaah. Tidak hanya itu, masjid juga menyelenggarakan lomba membaca surat-surat pendek Al-Qur\u2019an untuk anak-anak sebagai bagian dari pembinaan generasi penerus. Yang menarik, seluruh kegiatan dirancang untuk melibatkan seluruh unsur jamaah tanpa membedakan peran sosial maupun latar belakang gender.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Takmir Masjid Darul Hidayah, Dr. Agus Hermanto, M.H.I., dalam sambutannya menekankan bahwa pelibatan semua unsur jamaah merupakan cerminan dari nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, dan partisipasi aktif. Ia menyampaikan bahwa peran gender dalam masyarakat modern tidak lagi bersifat hierarkis, tetapi lebih pada kemitraan yang saling menguatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGender bukan hanya persoalan jenis kelamin, tetapi soal peran sosial yang dibentuk oleh budaya, pendidikan, dan lingkungan. Dalam Islam, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berpartisipasi dalam amal kebaikan, termasuk dalam kegiatan keagamaan di masjid,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. Agus juga menekankan pentingnya merespons tradisi lokal secara bijak. Menurutnya, tradisi seperti pemotongan tumpeng dan doa bersama dapat diharmoniskan dengan nilai-nilai Islam, asalkan dimaknai sebagai bentuk syukur dan kebersamaan umat. Tradisi lokal justru menjadi jembatan spiritual yang dapat memperkuat ikatan antarwarga dan memperluas makna syiar Islam di tengah masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu hal yang patut diapresiasi dalam kegiatan ini adalah pelibatan aktif jamaah Majlis Taklim yang terdiri dari para ibu dan perempuan dewasa. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi turut terlibat dalam perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Menurut Dr. Agus, ini adalah bentuk kemajuan dalam membangun masjid yang inklusif dan partisipatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya mengajak seluruh bidang pengurus, mulai dari PHBI, remaja masjid, hingga Majlis Taklim, untuk terus bersinergi dalam setiap kegiatan. Masukan dari jamaah perempuan sangat berharga dan menjadi bagian penting dari dinamika positif di masjid ini,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menyoroti tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi muda, terutama terkait ketertarikan terhadap teknologi dan dunia digital. Menurutnya, tantangan ini harus dihadapi dengan pendekatan positif dan edukatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAnak-anak kita adalah aset umat. Mereka perlu dibekali dengan nilai-nilai spiritual agar tetap memiliki arah dalam menghadapi zaman. Salah satu caranya adalah dengan mengajak mereka mencintai masjid sejak dini melalui kegiatan-kegiatan yang membangun dan menyenangkan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam lomba membaca surat pendek, terlihat antusiasme luar biasa dari para peserta cilik. Mereka, baik dari kalangan putra maupun putri, menunjukkan semangat dan keberanian dalam menampilkan hafalan mereka di depan jamaah. Kegiatan seperti ini, menurut Dr. Agus, adalah bentuk nyata dari proses pembinaan karakter Islami yang tidak membedakan peran sosial, melainkan membangun kesetaraan sejak usia dini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peringatan 1 Muharram ini juga menjadi ajang refleksi spiritual bagi seluruh jamaah. Dalam penutupan acara, Dr. Agus mengajak semua pihak untuk menjadikan momen tahun baru Islam sebagai titik tolak hijrah menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bermanfaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHijrah hari ini adalah berpindah dari sikap pasif menuju aktif, dari eksklusivitas menuju inklusivitas, dari peran terbatas menuju peran luas yang melibatkan semua pihak secara setara,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui kegiatan ini, Masjid Darul Hidayah membuktikan bahwa tradisi lokal tidak harus ditinggalkan, tetapi dapat dihidupkan kembali dalam bingkai nilai-nilai Islam yang adil dan seimbang. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, masjid menjadi pusat penguatan ukhuwah dan transformasi sosial yang relevan dengan tantangan zaman. (Rita Zaharah)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Bandar Lampung, MUI Lampung Digital Masjid Darul Hidayah, yang terletak di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, peringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah dengan rangkaian kegiatan yang sarat makna. Acara berlangsung hangat dan khidmat pada Kamis malam Jum\u2019at, (26\/06\/2025). Menghadirkan momentum istimewa yang menggabungkan nilai-nilai tradisi lokal dengan semangat pembaruan sosial keagamaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18504,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,51],"tags":[],"class_list":["post-18503","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-warta-nasional-dan-daerah"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-26-at-22.45.42.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18503","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18503"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18503\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18505,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18503\/revisions\/18505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18504"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18503"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18503"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18503"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}