{"id":18097,"date":"2025-05-20T14:57:39","date_gmt":"2025-05-20T14:57:39","guid":{"rendered":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18097"},"modified":"2025-05-20T14:57:39","modified_gmt":"2025-05-20T14:57:39","slug":"opini-sumbu-pendek-dan-gagal-paham-pentingnya-pendekatan-multidisipliner-dalam-memahami-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=18097","title":{"rendered":"Opini: Sumbu Pendek dan Gagal Paham: Pentingnya Pendekatan Multidisipliner dalam Memahami Islam"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Sumbu Pendek dan Gagal Paham: Pentingnya Pendekatan Multidisipliner dalam Memahami Islam<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Dr. KH. Andi Warisno, MM Pd.<br \/>\n(<em>Rektor Universitas Islam An-Nur Lampung<\/em>)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, suku, bahasa, dan keyakinan, pemahaman terhadap agama, khususnya Islam, tak bisa dilakukan secara sempit dan mono-disipliner. Terlebih lagi, dalam era keterbukaan informasi saat ini, fenomena &#8220;sumbu pendek&#8221; atau cepat emosi dan &#8220;gagal paham&#8221; terhadap ajaran agama kian tampak dalam bentuk intoleransi, ujaran kebencian (hate speech) hingga tindakan ekstrem yang mengatasnamakan kebenaran tunggal agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Salah satu akar masalahnya adalah pendekatan mono-disiplin dalam memahami ajaran Islam. Ketika seseorang hanya mengandalkan satu disiplin ilmu, misalnya ilmu fikih semata, tanpa mempertimbangkan dimensi sosial, budaya, dan sejarah, maka besar kemungkinan ia akan menafsirkan Islam secara kaku dan eksklusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pentingnya Pendekatan Multidisipliner.<br \/>\nIslam, sebagai agama rahmatan lil &#8216;alamin, tidak turun di ruang steril. Ia hadir dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah tertentu, yang terus berkembang seiring waktu. Oleh karena itu, untuk memahami ajaran Islam secara utuh, diperlukan pendekatan multidisipliner: antropologi, sosiologi, dan sejarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Pendekatan Antropologis memungkinkan kita memahami bagaimana ajaran Islam dihayati dan dipraktikkan dalam budaya yang beragam, seperti masyarakat Minangkabau, Lampung, Banten, Bugis, atau Jawa.<br \/>\n2. Pendekatan Sosiologis membantu kita menganalisis bagaimana ajaran Islam berdialog dengan struktur sosial, relasi kuasa, serta dinamika masyarakat.<br \/>\n3. Pendekatan Historis penting untuk memahami konteks turunnya ayat-ayat (asbabun nuzul), serta perkembangan tafsir dan mazhab selama berabad-abad.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanpa pendekatan-pendekatan ini, pemahaman terhadap Islam akan terjebak dalam literalitas dan tekstualisme yang kaku. Padahal, teks-teks keagamaan sering kali bersifat kontekstual dan memerlukan ijtihad untuk diterjemahkan dalam realitas kekinian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi dalil naqli, Allah SWT berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\n\u0627\u062f\u0652\u0639\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u0643\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u062d\u0650\u0643\u0652\u0645\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u0639\u0650\u0638\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u0650 \u06d6 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0627\u062f\u0650\u0644\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0627\u0644\u064e\u0651\u062a\u0650\u064a \u0647\u0650\u064a\u064e \u0623\u064e\u062d\u0652\u0633\u064e\u0646\u064f \u06da \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0631\u064e\u0628\u064e\u0651\u0643\u064e \u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0636\u064e\u0644\u064e\u0651 \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650\u0647\u0650 \u06d6 \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u0652\u062a\u064e\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSerulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.\u201d (QS. An-Nahl: 125)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah dan penyampaian Islam harus dilakukan dengan hikmah (kebijaksanaan), yang hanya bisa diperoleh melalui pemahaman mendalam dan kontekstual terhadap realitas manusia dan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasulullah SAW sendiri adalah teladan dalam menggunakan pendekatan sosial dan kultural ketika menyampaikan dakwah. Beliau tidak memaksakan ajaran secara kaku, melainkan mempertimbangkan kondisi sosial, psikologis, dan budaya masyarakat Arab saat itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara dari sisi dalil aqli (logika), jelas bahwa masyarakat Indonesia sangat plural. Pendekatan tunggal dalam memahami agama di tengah keragaman justru menciptakan disonansi dan konflik. Sebaliknya, pendekatan yang komprehensif dan multidisipliner dapat menjembatani perbedaan dan membangun pemahaman yang lebih inklusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Islam dan Keindonesiaan.<br \/>\nKeindonesiaan yang plural sejatinya adalah panggung yang tepat bagi Islam untuk menunjukkan wajahnya yang damai, adaptif, dan inklusif. Islam tidak anti terhadap kearifan lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran. Hal ini sejalan dengan konsep al-\u2018urf (tradisi lokal) dalam ushul fiqh yang diakui sebagai salah satu sumber hukum Islam, selama tidak bertentangan dengan syariat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengadopsi pendekatan multidisipliner juga sejalan dengan semangat ijtihad dalam Islam. Dalam sejarah peradaban Islam, para ulama besar seperti Al-Ghazali, Ibn Khaldun, hingga Muhammad Abduh tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga filsafat, ilmu sosial, dan sejarah. Mereka adalah contoh bahwa memahami Islam secara utuh memerlukan keluasan ilmu dan keluasan hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks Indonesia yang plural dan majemuk, pendekatan mono-disipliner terhadap Islam bukan hanya tidak memadai, tetapi juga berbahaya. Ia bisa melahirkan sikap eksklusif, radikal, dan intoleran. Oleh karena itu, memahami Islam secara multidisipliner adalah keniscayaan, demi menjaga substansi ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dan menjaga kohesi sosial bangsa.<br \/>\nSudah saatnya kita meninggalkan sikap &#8220;sumbu pendek&#8221; dalam beragama, dan menggantinya dengan pendekatan yang dalam, bijaksana, dan terbuka terhadap realitas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumbu Pendek dan Gagal Paham: Pentingnya Pendekatan Multidisipliner dalam Memahami Islam Dr. KH. Andi Warisno, MM Pd. (Rektor Universitas Islam An-Nur Lampung) Di tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, suku, bahasa, dan keyakinan, pemahaman terhadap agama, khususnya Islam, tak bisa dilakukan secara sempit dan mono-disipliner. Terlebih lagi, dalam era keterbukaan informasi saat ini, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18098,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-18097","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-20-at-21.15.35.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18097","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=18097"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18097\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18099,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/18097\/revisions\/18099"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/18098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=18097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=18097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=18097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}