{"id":17385,"date":"2025-03-17T13:05:34","date_gmt":"2025-03-17T13:05:34","guid":{"rendered":"https:\/\/muilampung.or.id\/?p=17384"},"modified":"2025-03-17T13:05:34","modified_gmt":"2025-03-17T13:05:34","slug":"opini-rahasia-di-balik-nuzulul-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=17385","title":{"rendered":"Opini: Rahasia di Balik Nuzulul Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Rahasia di Balik Nuzulul Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nProf. Dr. H. A. Kumedi Ja\u2019far, S.Ag., M.H.<br \/>\n<em>Ketua LP2M UIN Raden Intan Lampung<\/em><br \/>\n<em>Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Lampung<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nuzulul Qur\u2019an merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang merujuk pada turunnnya wahyu pertama, di mana peristiwa ini terjadi pada malam kemuliaan yang jatuh pada malam ke-17 bulan Ramadhan. Nuzulul Qur\u2019an merupakan titik awal dimulainya penyampaian wahyu pertama yaitu surat Al-\u2018Alaq ayat 1-5 yang berisi tentang perintah untuk membaca dan mempelajari berbagai ilmu yang datang dari Allah SWT. Al-Qur\u2019an diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia yang di dalamnya terkandung aqidah\/tauhid, ibadah, akhlak, muamalah, hukum, sejarah dan lain sebagainya. Allah SWT menurunkan al-Qur\u2019an tidak sekaligus, tetapi secara bertahap dalam waktu kurang lebih 23 tahun sesuai dengan kebutuhan umat dan kondisi masyarakat saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur\u2019an memiliki kedalaman makna yang dapat disesuaikan dengan perkembangan umat manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bulan Ramadhan disebut juga bulan al-Qur\u2019an (<em>Syahrul Qur\u2019an<\/em>), karena pada bulan Ramadhan Al-Qur\u2019an itu diturunkan, yang oleh masyarakat kemudian dikenal dengan nama Nuzulul Qur\u2019an. Peringatan Nuzulul Qur\u2019an tentunya jangan hanya dianggap sebagai kegiatan rutinitas saja, melainkan yang paling penting adalah bagaimana kita mampu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu salah satu amalan Ramadhan yang disukai Allah dan Rasul-Nya adalah membaca al-Qur\u2019an (<em>tilawatil qur\u2019an<\/em>). Mengapa demikian, karena al-Qur\u2019an memiliki banyak keistimewaan yang luar biasa, di antara keistimewaan itu adalah al-Qur\u2019an bisa menjadi penerang dan obat hati, bahkan al-Qur\u2019an bisa menjadi penyelamat (penolong) dan mendatangkan\u00a0 pahala bagi yang membacanya. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang artinya \u201c<em>Bacalah al-Qur\u2019an, karena sesungguhnya al-Qur\u2019an itu akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya<\/em>\u201c.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an adalah wahyu Allah yang merupakan mu\u2019jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat manusia. Al-Qur\u2019an juga merupakan sarana ibadah kepada Allah dan cahaya di bumi. Ingat hadis Rasulullah SAW yang artinya \u201c<em>Hendaklah kalian membaca al-Qur\u2019an, sebab ia merupakan cahaya di bumi dan simpanan di langit<\/em>\u201d. Oleh karena itu hendaklah kita selalu membaca al-Qur\u2019an, apalagi dengan memahami dan mengamalkannya, tentunya itu lebih utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas sudah berapa banyak ayat suci al-Qur\u2019an yang kita baca, pahami dan amalkan,\u00a0 serta sudah berapa kali kita menghatamkan al-Qur\u2019an? Tentunya hanya kita masing-masing yang bisa tahu. Mengenai hal ini Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam sebuah hadis yang artinya: \u201c<em>Sesungguhnya al-Qur\u2019an ini merupakan jamuan\/hidangan Allah, maka terimalah jamuan\/hidangan itu sesuai dengan kemampuan<\/em>\u201d. Ini artinya bahwa Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan kepada kita untuk selalu mambaca al-Qur\u2019an, baik tiga hari sekali khatam, lima hari sekali khatam, sepuluh hari sekali khatam, lima belas hari sekali khtaman, maupun sebulan sekali khatam, tentunya itu semua sesuai dengan kemampuannya masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun keistimewaan al-Qur\u2019an adalah: <strong>Pertama<\/strong>, sebagai petunjuk bagi\u00a0 seluruh umat manusia, ingat firman Allah yang artinya \u201cBulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur\u2019an di mana ia sebagai petunjuk bagi manusia\u201d. <strong>Kedua<\/strong>, sebagai\u00a0 pembeda antara yang hak dan yang batil, antara yang halal dan yang haram. <strong>Ketiga<\/strong>, sebagai obat hati, sebab dengan membaca al-Qur\u2019an, hati akan menjadi tenang dan tentram. <strong>Keempat<\/strong>, sebagai sumber hukum, ini artinya bahwa al-Qur\u2019an sebagai petunjuk yang digunakan dalam menetapkan hukum dan aturan dalam kehidupan umat manusia, baik yang diperbolehkan maupun yang dilarang. <strong>Kelima<\/strong>, sebagai sumber ilmu pengetahuan, sebab semua ilmu pengetahuan hakekatnya selalu bersumber kepada al-Qur\u2019an, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, pertanian, kedokteran, saintek, dan lain sebagainya. <strong>Keenam<\/strong>, sebagai sumber dari segala sumber kehidupan. Ini artinya bahwa al-Qur\u2019an bisa menjadi sumber dari segala aspek kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengingat kedudukan dan fungsi al-Qur\u2019an yang luar biasa, maka jangan pernah kita jauh dengan al-Qur\u2019an, apalagi meninggalkan al-Qur\u2019an. Tetapi kita harus selalu dekat dan berinteraksi dengan al-Qur\u2019an. Ingat hadis Rasulullah SAW yang artinya \u201cBacalah al-Qur\u2019an, dan beramallah dengan al-Qur\u2019an, dan jangan jauhi al-Qur\u2019an\u201d. Berdasarkan hadis ini jelas bahwa: <strong>Pertama<\/strong>: Kita senantiasa diperintahkan untuk selalu membaca al-Qur\u2019an, sebab dengan membaca satu huruf saja dari al-Qur\u2019an, kita akan mendapatkan sepuluh kebaikan, apalagi jika al-Qur\u2019an itu kita baca di bulan suci Ramadhan, tentunya akan lebih istemewa. <strong>Kedua<\/strong>, kita senantiasa diperintahkan untuk selalu bertutur kata, berbuat, bersikap dan bertingkah laku berdasarkan al-Qur\u2019an, sebab dengan selalu berpedoman kepada al-Qur\u2019an, niscaya semua ucapan, perbuatan, sikap dan tingkah laku kita akan terjaga, sehingga kita akan mendapatkan keselamatan. <strong>Ketiga<\/strong>, kita dilarang\u00a0 jauh dengan al-Qur\u2019an, sebab jauh dengan al-Qur\u2019an berarti kita dapat kehilangan akan keberkahannya, sebaliknya kita harus selalu dekat dengan al-Qur\u2019an, sehingga kita akan senantiasa mendapatkan akan nilai-nilai keistimewaan dan keberkahannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian jelas bahwa al-Qur\u2019an memiliki keistimewaan dan keajaiban yang luar biasa bagi kehidupan manusia, sehingga tidak heran kalau orang non Islam pun banyak yang mempelajari al-Qur\u2019an. Untuk itu dalam rangka memuliakan dan menhidupkan al-Qur\u2019an, marilah kita tingkatkan kecintaan terhadap al-Qur\u2019an, tentunya dengan senantiasa berinteraksi dengan al-Qur\u2019an dan selalu hidup bersama al-Qur\u2019an, yaitu dengan cara mengimani, membaca, menghafal, memahami, mengamalkan dan mendakwahkan al-Qur\u2019an dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita akan menjadi insan-insan qur\u2019ani yang senantiasa akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan dunia maupun akhirat<em>. Wallahua\u2019lam Bishawab<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rahasia di Balik Nuzulul Qur\u2019an Prof. Dr. H. A. Kumedi Ja\u2019far, S.Ag., M.H. Ketua LP2M UIN Raden Intan Lampung Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Lampung Nuzulul Qur\u2019an merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang merujuk pada turunnnya wahyu pertama, di mana peristiwa ini terjadi pada malam kemuliaan yang jatuh pada malam ke-17 bulan Ramadhan. Nuzulul [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,42,44],"tags":[],"class_list":["post-17385","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-home","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/khu-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17385","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17385"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17385\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17385"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17385"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17385"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}