{"id":15659,"date":"2021-09-08T07:46:22","date_gmt":"2021-09-08T07:46:22","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=15659"},"modified":"2021-09-08T07:46:22","modified_gmt":"2021-09-08T07:46:22","slug":"bedah-buku-malu-sama-allah-dosen-fs-budaya-malu-beda-dengan-budaya-malu-maluin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=15659","title":{"rendered":"Bedah Buku &#8220;Malu Sama Allah&#8221;, Dosen FS Budaya Malu Beda Dengan Budaya Malu-maluin"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15660\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/WhatsApp-Image-2021-09-07-at-12.21.39.jpeg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"607\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bandar Lampung:<\/strong> Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abdul Qodir Zaelani, S.HI., M.A., menjadi pembahas dalam Webinar Bedah Buku \u201cMalu Sama Allah\u201d Karya Abdul Hanif, S.H., M.H., yang diselenggarakan oleh PKPT IPNU IPPNU UIN Raden Intan secara daring via Zoom Meeting. (Sabtu, 09\/06\/2021).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyatakan bahwa dalam buku ini menggunakan pendekatan yang berorientasi pada membentuk karakter muslim, tidak melihat dari etalase diri yang ditemukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDalam buku ini beberapa pendekatannya, ada orientasi bagaimana membentuk karakter seorang muslim yang tidak melihat dari etalase diri yang ditemukan, tetapi kemudian hatinya ditampilkan dengan tindakan-tindakan,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, budaya malu berbeda dengan budaya malu-maluin, \u201cMalu tapi tidak memalukan. Tidak penting berapa banyak yang kita tahu, tapi yang paling penting adalah thau diri dan tahu malu. Tahu siapa dirinya dan tahu malu bagaimana terhadap dirinya, orang lain, dan tuhannya. Bagaimana mengimplementasikan malu dalam hidup anda,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian Ia menyampaikan bahwa makna malu yang ingin penulis sampaikan adalah adanya perubahan sikap pada manusia, dengan sikap tersebut meliputi rasa ketika seseorang melakukan sesuatu, ada aib pada dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cRasa malu itu baik. Malu kepada Allah swt., malu kepada manusia dan malu kepada diri sendiri. Secara hirarki malu tertinggi adalah kepada Allah, tetapi secara hakikat malu adalah sumber kebaikan,\u201d lanjut Abdul Qodir Zaelani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMalulah kepada Allah jika berdakwah dengan cara mengejek bukan mengajak. Malulah kepada Allah jika berdakwah bukan dengan mengajak saling cinta kasih. Malulah kepada Allah jika berdakwah dengan cara marah-marah bukan dengan damai. Malulah kepada Allah jika berdakwah dengan makian bukan dengan hatinya,\u201d tutupnya. (Chelsea)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung: Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Dr. Abdul Qodir Zaelani, S.HI., M.A., menjadi pembahas dalam Webinar Bedah Buku \u201cMalu Sama Allah\u201d Karya Abdul Hanif, S.H., M.H., yang diselenggarakan oleh PKPT IPNU IPPNU UIN Raden Intan secara daring via Zoom Meeting. (Sabtu, 09\/06\/2021). Ia menyatakan bahwa dalam buku ini menggunakan pendekatan yang berorientasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":15660,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-15659","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15659"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15659\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}