{"id":14087,"date":"2020-05-02T21:20:07","date_gmt":"2020-05-02T21:20:07","guid":{"rendered":"http:\/\/mui-lampung.or.id\/?p=14087"},"modified":"2020-05-02T21:20:07","modified_gmt":"2020-05-02T21:20:07","slug":"opini-hukum-berinfus-saat-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/?p=14087","title":{"rendered":"Opini: Hukum Berinfus Saat Puasa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-13884\" src=\"http:\/\/mui-lampung.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/WhatsApp-Image-2020-04-08-at-16.38.45.jpeg\" alt=\"\" width=\"470\" height=\"316\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Hukum Berinfus Saat Puasa<\/strong><br \/>\n<em><strong>Oleh: Dr. Agus Hermanto. MHI<\/strong><\/em><br \/>\nDosen UIN Raden Intan Lampung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diantara hal hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum serta bersenggama. Yang menjadi masalah adalah, bagaimanakah hukum berinfus atau menggunakan infus saat sakit, apakah dapat membatalkan puasa?<br \/>\nInfus sesungguhnya adalah cairan khusus yang digunakan untuk dapat membantu tenaga orang yang sedang sakit, sedangkan penggunaan infus adalah melalui kulit dan tidak melalui tenggorokan atau anggota tubuh yang mengarah pada tenggorokan.<br \/>\nJika dilihat dari segi tidak masuknya air infus ke tenggorokan, maka hukum berinfus menjadi tidak batal, namun demikian, fungsi dari infus sendiri adalah mentegarkan tubuh yang hampir sama dengan makan dan minum, dan ini menghilangkan salah satu nilai perjuangan dari puasa itu sendiri.<br \/>\nOrang yang sakit menggunakan infus sejatinya sakit itu sendiri tidak mewajibkan dia untuk berpuasa, rukhsah walaupun harus mengqadha pada hari lain. Namun jika itu tetap dilakukan, maka pemakaian infus sebagai tindakan darurat,<br \/>\n\u0627\u0644\u062d\u0627\u062c\u0629 \u062a\u0646\u0632\u0644 \u0645\u0646\u0632\u0644\u0629 \u0627\u0644\u0636\u0631\u0648\u0631\u0629<br \/>\nKebutuhan mendesak ia dapat menduduki posisi darurat, sebagaimana kaidah fiqih,<br \/>\n\u0627\u0644\u0636\u0631\u0648\u0631\u0629 \u062a\u0628\u064a\u062d \u0627\u0644\u0645\u062d\u0638\u0648\u0631\u0627\u062a<br \/>\n(Kemudharatan itu dapat menyebabkan dibolehkannya sesuatu yang mulanya dilarang). Namun demikian, orang yang sakit menggunakan infus dari pendapat yang terkuat hukumnya membatalkan puasa, karena fungsi infus adalah untuk menggantikan makanan, minimal puasa yang dilakukan adalah makruh, takalluf ( memaksakan diri di luar kemampuannya), sebagaimana petunjuk dalam surat al Baqarah ayat 286, Allah tidak membebani siapapun di luar kemampuannya &#8220;wajarnya&#8221;.<br \/>\nNamun jika yang menggunakan infus adalah orang yang sehat karena mainan, ia ingin menggunakan infus untuk agar tubuhnya segar, maka tentunya membatalkan puasanya.<br \/>\nHal ini berbeda dengan hukum suntik saat puasa, yang memang fungsinya bukan untuk kebugaran tubuh, melainkan hanya untuk mengobati, maka masuk dalam ranah, \u0627\u0644\u0636\u0631\u0648\u0631\u0629 \u062a\u0628\u064a\u062d \u0627\u0644\u0645\u062d\u0638\u0648\u0631\u0627\u062a<br \/>\nDan orang yang sakit seyogyanya tidaklah berpuasa agar lebih maksimal pengobatannya. Wallahualam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hukum Berinfus Saat Puasa Oleh: Dr. Agus Hermanto. MHI Dosen UIN Raden Intan Lampung Diantara hal hal yang membatalkan puasa adalah makan dan minum serta bersenggama. Yang menjadi masalah adalah, bagaimanakah hukum berinfus atau menggunakan infus saat sakit, apakah dapat membatalkan puasa? Infus sesungguhnya adalah cairan khusus yang digunakan untuk dapat membantu tenaga orang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13884,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41,44],"tags":[],"class_list":["post-14087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-world","category-opini"],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14087"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14087\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampung.mui.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}